Bali Bird Park, Taman Burung Wisata Keluarga

Ini adalah salah satu wisata favorit saya, Bali Bird Park. Berlokasi di Jalan Serma Cok Ngurah Gambir Singapadu, Batubulan, Gianyar, Bali. Lokasinya dekat dengan Bali Safari Marine Park.

Mengunjungi Bali Bird Park bukan hanya melihat kecantikan ribuan burung-burung yang dirawat dengan baik. Tetapi mata juga dimanjakan dengan keindahan taman yang terdiri dari ribuan species dari berbagai daerah di Indonesia.

Tau nggak, taman burung ini berada di lahan seluas kurang lebih 2Ha. Ada sekitar 1000 burung dari 250 species berbeda, sebagian adalah burung langka. Demikian juga tamannya terdiri dari sekitar 2000 species berbeda. Wooow… Kebayang kan bagaimana indah dan berwarna-warninya taman burung ini.

Harga tiket domestik Rp. 140.000/dewasa dan Rp. 75.000/anak. Buka mulai jam 09.00-17.00 WITA.

Oya, jangan lupa minta brosur di loket ya, karena ada jadwal pertunjukan kerennya. Jangan sampai terlewat jam-jam pertunjukannya.

Jadwal atraksi dari Bali Bird Park
Perhatikan jadwal atraksi ya, karena seringkali kita terlalu asik dengan burung-burung ini sehingga lupa dengan pertunjukannya.

Beberapa atraksi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan adalah Basic Instinct, Lory feeding, Pelican feeding, Meet the Bird Star. Ada juga pemutaran film 4 dimensi dengan film yang berbeda-beda di setiap sesi pemutarannya. Semua ini bisa kita nikmati tanpa menambah biaya lagi.

Setelah dari loket, menuju ke taman, langsung terasa suasana alam menyapa. Kerindangan pohon-pohon besar dan hijaunya taman yang tertata indah. Banyak burung berwarna-warni hinggap di pepohonan, semuanya jinak dan terlihat sehat bahagia. Suara alam berbaur dengan kicauan bermacam-macam jenis burung. Rasanya damai.

Di bagian kiri berderet sangkar-sangkar besar denganburung-burung cantik. Ada papan nama yang menjelaskan dengan detail jenis species dan asal habitatnya. Lengkap dengan fotonya pula. Rapi dan komunikatif. Kita bisa belajar banyak di sini. Koleksi burung dalam negeri berasal dari Papua, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan dari luar negeri berasal dari Amerika Selatan dan Afrika Selatan.

Burung-burung cantik ini ramah dan terlatih sekali.

Berkeliling di taman burung, setiap spot menarik untuk diabadikan. Beberapa burung terlatih untuk berfoto bersama para tamu. Burung-burung ini indah warnanya dan jinak sekali, bersahabat dan mau berinteraksi dengan pengunjung. Namun jika jam makan, maka kegiatan ini akan dihentikan sementara. Memberikan kesempatan burung-burung makan dan istirahat.

Di beberapa lokasi bahkan burung-burung dibiarkan bebas berkeliaran dan terbang di pohon-pohon. Bisa berfoto dekat sekali dengan mereka walau tanpa pawangnya. Keren banget…

Di area taman juga terdapat bangunan rumah adat Toraja bernama Tongkonan. Rumah panggung dengan atap melengkung menyerupai perahu, terbuat dari susuan bambu. Rumah adat ini terawat baik dan berbaur serasi dengan sekitarnya.

Tamannya juga memiliki tema untuk masing-masing area.

Dinamakan dengan nama propinsi sesuai habitat burung dan tanaman yang berada di dalamnya. Saya terpesona dengan burung-burung pelikan yang bermain air di kolam kecil. Burung-burung berbulu putih ini memang menawan.

Lelah berkeliling, kita bisa menikmati gelato di Rainforest Cafe. Tersedia beberapa pilihan minuman dan snack selain es krim. Sementara Dine & Shop Restaurant menyedikan menu lengkap dan terletak di bagian depan dekat pintu masuk.

Saran saya, sebaiknya datang ke tempat ini pagi. Sehingga bisa menikmati semua atraksi, juga bisa explore taman sepuasnya.

PULAU RINCA, LABUAN BAJO

Dari Dermaga Menjerite yang cantik, kami berlayar menuju ke Pulau Rinca dimana komodo yang legendaris itu berada.

Sudah beberapa waktu ini Pulau Komodo sebagai bagian dari Taman Nasional yang dilindungi, dilarang dikunjungi wisatawan. Jadi, kalau ingin melihat komodo, kita bisa ke Pulau Rinca sebagai gantinya.

Berlabuh di pulau Rinca, hujan rintik-rintik, namun tidak mengurangi semangat kami untuk segera naik ke dermaga. Di sekitar dermaga banyak terdapat pohon bakau yang rimbun menghijau, sehingga membuat suasana teduh dan sejuk.

Kebetulan memang saat kami berkunjung sedang musim kemarau. Jadi senang lihat yang adem begini setelah berpanas-panas. Warna hijau pepohonan langsung bikin nyesss…

Di loket masuk dekat dermaga telah menunggu dua orang Ranger yang akan mengawal trekkking kami di pulau Rinca.

Mengapa perlu dua orang ranger? Karena mereka memandu dan menjaga setiap kelompok wisatawan, satu di depan dan satu di belakang untuk berjaga-jaga.

Nah, ada yang membuat saya bertanya-tanya, karena di gapura selamat datang tertulis: “WELCOME TO LOH BUAYA”.

Kok buaya? Ternyata, penduduk asli sini menyebut komodo dengan panggilan buaya. Karena anatominya yang memang mirip-mirip dengan buaya. Tapi nggak pernah ada istilah air mata komodo kan ya… Hohoho…

Setelah masuk gerbang kedatangan, kami berjalan melalui jalan setapak di sebuah tanah lapang yang luas, ada beberapa kerbau besar di sana. Dekat pepohonan bahkan ada kerbau sedang berkubang lumpur dengan damainya dan beberapa ekor rusa berlarian di padang.

Ranger membawa kami ke area bangunan yang berupa rumah panggung. Ternyata ini adalah bagian dari kantor, resort dan kantin. Ada beberapa tengkorak hewan yang dipajang, semua adalah binatang asli pulau ini, sisa-sisa dari keganasan komodo. Semua hanya tinggal kepala dan tanduknya saja, seram ya…

Ranger meminta kami berkumpul di dekat peta besar untuk memberikan penjelasan jarak trekking yang harus kami lalui. Ada pilihan jalur long, medium dan short trekking.

Pilihan tergantung kemampuan fisik dan waktu yang kita miliki. Juga penjelasan beberapa hal yang harus kami patuhi selama trekking. Kami diwajibkan berjalan dalam kelompok dan tidak berpisah-pisah.

Saat bertemu komodo tidak boleh terlalu dekat, bila ingin berfoto harus menunggu aba-aba Ranger. Pose foto paling aman adalah kita berdiri di belakang komodo sementara  Ranger akan mengambilkan gambar dari depan komodo.

Oya, kalau ada perempuan dalam rombongan, biasanya akan ditanyakan apakah sedang masa menstruasi atau tidak. Kalau memang sedang dalam masa haid sebaiknya tidak mengikuti trekking ini karena berbahaya sekali.

Bakalan dikejar komodo karena daya penciumannya kuat sekali. Lebih baik jujur ya daripada membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kami memilih jalur medium trekking.

Saat akan memulai trekking, ternyata hujan turun lagi, kali ini agak deras. Jadi kami harus menunggu di salah satu bangunan sampai hujan reda. Ternyata tidak lama kemudian hujan berhenti, berangkatlah kami dengan semangat.

Sepanjang perjalanan Ranger senior bercerita tentang kehidupan komodo, cara makan, masa kawin dan banyak hal lain. Ada cerita-cerita tentang komodo yang akan datang kembali ke sarang yang sama tiap kali bertelur dan mengeraminya hingga menetas.

Ada cerita sedih tentang komodo yang mati, cerita seram tentang komodo yang menyerang manusia, dan pertarungan antar komodo untuk memperebutkan sarang dan betina.

Komodo termasuk species biawak besar atau disebut juga kadal raksasa terbesar dan paling terkenal di dunia dengan panjang badan 2-3 meter dan berat mencapai 100 kg.

Komodo juga merupakan hewan carnivora dan merupakan pemangsa puncak di habitatnya. Saya baru tahu bahwa komodo menggunakan lidahnya untuk mencium bau mangsa bahkan hingga sejauh 4-9,5 km.

Amazing ya, pantesan peraturan untuk wanita yang sedang datang bulan sangat ketat, karena memang sangat berbahaya.

Mengapa komodo ini istimewa? Karena hanya bisa ditemukan di wilayah Indonesia di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo dan pulau Rinca.

Air liurnya yang beracun juga selalu menjadi bahan perbincangan karena sampai saat ini tidak ditemukan obat atau penangkal racunnya. Kandungan bakteri dalam air liur inilah yang menyebabkan mangsanya tidak dapat bertahan hidup.

Sebagai hewan carnivora, menurut Ranger, komodo ini bisa makan rusa dalam sekali telan, astaga.

Ternyata komodo ini bisa makan bangkai maupun hewan mangsa yang masih hidup, dan rata-rata hanya perlu sekali makan untuk satu bulan. Mungkin karena proses metabolismenya lama ya, jadi lebih irit makan.

Semua yang dimakan hidup-hidup ini, setelah dicerna sempurna, komodo akan memuntahkan kembali sisa-sisa tanduk, gigi, rambut mangsanya dalam gumpalan-gumpalan campur lendir.

Inilah yang ketika kering akan terlihat di tanah noda-noda besar berwarna putih yang kami lewati beberapa kali. Jangan coba-coba menyentuhnya ya, siapa tahu masih penuh bakteri.

Nah, ini yang lebih ajaib, katanya komodo ini adalah hewan yang monogami, hanya mempunyai satu pasangan saat kawin.

Musim kawin biasanya terjadi pada bulan Mei-Agustus. Tentu saja dengan kehebohan pertarungan antar pejantan untuk memperebutkan betina impiannya. Pertarungan ini selalu heboh dan berakhir sampai salah satu pejantan kalah.

Betina yang telah dikawini, akan memilih sarang untuk bertelur. Lalu mengerami telur-telurnya selama 7-8 bulan. Selama itu komodo betina akan berbaring saja di atas sarangnya untuk melindungi telur sampai menetas.

Komodo yang menetas ini perlu waktu 3-5 tahun untuk menjadi komodo dewasa. Dan mampu bertahan hidup sampai 50 tahun lebih. Kami sempat menemukan dan mengamati seekor komodo betina sedang mengerami telurnya. Tampaknya lapar karena puasa berbulan-bulan.

Karena habitat asli adalah padang rumput terbuka dan hutan belukar, maka pulau ini pun dipertahankan senatural mungkin agar komodo dapat hidup dengan aman dan nyaman.

Saat panas biasanya komodo akan berteduh saja bermalas-malasan. Seperti yang kami jumpai hari itu. Beruntung kami bertemu cukup banyak komodo saat kunjungan. Sehingga bisa melihat langsung hewan yang sensasional ini. Sensasinya lumayan mendebarkan melihat hewan buas ini lepas begitu saja di alam dan kami begitu dekat.

Hanya beberapa jam kami di sini, tapi begitu banyak yang kami dapatkan. Kenangan yang tak terlupakan. Ada haru karena masih diberikan kesempatan menikmati keindahan ciptaanNya yang begitu beragam. Juga rasa bangga menjadi bagian dari warga negara yang begitu kaya dan indah ini.

Dalam perjalanan kembali ke kapal, hujan mulai turun lagi, kami berlari-lari kecil menuju pintu keluar.

Someday I’ll be back, menelusuri jalur long trekking yang pasti lebih mempesona dan memandang semuanya dari puncak bukit yang hari ini tak mungkin kami daki.

Haaaaapp… saya melompat kembali ke kapal, dan langsung disambut suguhan snack sore di meja makan. Pisang goreng coklat dan keju plus jus mangga segar yang sulit ditolak karena memang berasa lapar setelah perjalanan yang mendebarkan ini.

So, kami melanjutkan berlayar sambil menikmati sore indah ini. Termakasih awak kapal yang begitu baik dan mendengar suara perut kami.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/