Indahnya Sunset Rawa Pening dari Atas Perahu

Berkali-kali mengunjungi Jembatan Biru, Sumurup, saya belum pernah mencoba jasa naik perahu berkeliling Rawa Pening.

hingga akhirnya di suatu sore yang cukup cerah, saya kembali ke sini untuk menikmati sunset. Bedanya, kali ini saya tergoda mencoba naik perahu dan berkeliling rawa sambil menunggu sang matahari kembali ke peraduan.

Turun ke dermaga kecil dari bambu, saya bertanya ke bapak tukang perahu. Ternyata ongkosnya tak terlalu mahal juga, hanya dengan RP. 75.000 untuk berkeliling Rawa Pening. Atau bisa diantar sampai ke Rumah Makan Kampoeng Rawa di seberang sana, PP membayar sejumlah Rp. 150.000.

Rasanya tak terlalu mahal karena sebanding dengan keindahan pemandangan yang bakal kita dapatkan. Oya, kapasitas perahu bisa dinaiki kurang lebih 6 orang dewasa dan aman.

Bapak tukang perahu ramah sekali, dan membawa saya berkeliling melalui tambak ikan yang berjajar di tengah rawa. Duh, ternyata memang jauh lebih indah menikmati pemandangan sambil naik perahu. Cantik sekali.

Kami menyusuri air yang terbelah ketika perahu melaju. Di kiri kanan berderet tambak ikan berpagar bambu dan jaring.

Teriknya matahari siang ini plus perahu yang terus bergerak merupakan tantangan tersendiri untuk mengambil gambar terbaik.  

Deretan tambak ikan berjajar dan berpagar bambu. Kami berperahu di jalur yang membelah di antaranya, amazing… Beberapa penambak tampak sedang sibuk menjaring ikan atau melakukan perbaikan di sana sini.

Perahu melaju menuju ke bagian tengah rawa, lalu berhenti beberapa saat sehingga saya bisa menikmati keindahan luar biasa ini. Bahkan saya sempat mengabadikan seekor burung yang melintas, cantiiikkk… Di arah Barat, matahari perlahan mulai turun. Kami putuskan untuk segera kembali mengejar sunset.

Warna merah membayang di permukaan air, duuuhhh… indahnyaaaa….

Beruntung sekali sore ini saya bisa menikmati sunset yang luar biasa.

Terimakasih pak tukang perahu, yang maaf banget lupa saya tanyakan namanya, hiks…

Next time pasti saya kembali, untuk menikmati nuansa yang berbeda lagi.

Cerita Rawa Pening lainnya dapat dibaca di link http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-indahnya-jembatan-biru/ dan http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-sunrise-bukit-cinta/

Rawa Pening: Sunrise Bukit Cinta

Rawa Pening, danau rawa indah dengan view yang amazing di Ambarawa. Wisata Rawa Pening ini  menarik selain karena keindahannya juga karena kisah-kisah mistis di sekitarnya.

Legenda yang mengawali kisah terjadinya Rawa Pening ini melibatkan mitos Naga Baru Klinting yang hingga sekarang dipercaya masih menjadi penunggu rawa. Konon ceritanya, masih sering muncul penampakannya kata penduduk sekitar dan para pemancing. Hohoho… selow yaaa… kita akan membahas keindahannya saja kali ini.

Menikmati keindahan Rawa Pening ini bisa dengan berbagai cara. Misalkan untuk pemilihan lokasi, bisa dipilih dari Bukit Cinta atau Jembatan Biru, dua tempat hits yang paling sering dikunjungi wisatawan. Kita bisa berjalan-jalan, bersantai di tepian rawa atau bisa juga menikmati danau rawa dengan naik perahu. Rasanya pilihan terakhir ini lebih menggoda ya.

Lalu kapan saat terbaik menikmati keindahan Rawa Pening ini? Waktu sunrise, siang hari atau sunset, semuanya indah dan punya daya tarik tersendiri.

Bagi para pecinta fotografi, sunrise Rawa Pening bisa menjadi tantangan menarik untuk diabadikan. Salah satu sunrise cantik pilihan saya adalah Bukit Cinta. Untuk mencapai lokasi ini sebaiknya berangkat pagi subuh dari Salatiga melalui jalan ke Muncul/Banyubiru.

Jangan lupa pakai jaket tebal ya, karena udara bisa dingin sekali. Nah, selain itu, mesti prepare terutama hp dan camera harus full baterainya, atau membawa power bank dan cadangan. Bisa emosi jiwa sangaaadd kalau lagi seru-serunya mengambil foto lalu tetiba baterai habis, oohhh noooo…

Sinar matahari biasanya mulaimuncul sekitar jam 4:30 pagi dan kita bisa menikmatinya sampai jam 7 pagi atau lebih. Namun semakin siang akan semakin panas dan pencahayaan menjadi terlalu terang, hasil foto menjadi kurang bagus. Namun pasti ada banyak moment yang bisa diabadikan dan menghasilkan foto-foto epic dan mengesankan.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-indahnya-jembatan-biru/

SENJA DI GILI LAWA dan Sebuah Kisah Tentang Rusa

Sailing di hari kedua dari trip Labuan Bajo ini berakhir di Gili Lawa, dimana sebuah cerita mengharukan yang begitu menyentuh akan terus tersemat di hati saya.

Masih ingat berita terbakarnya sebuah pulau gegara pengambilan foto prewed yang kurang bijaksana dengan perhitungan keamanan? Di sinilah, Gili Lawa ini, kapal kami kami membuang sauh untuk menikmati sunset di malam terakhir. Dari jauh terlihat jelas bahwa pulau berwarna lebih gelap dari pulau lain. Meskipun memang belum musim hujan sehingga vegetasi hijau sangat jarang terlihat, tetap saja berbeda karena warna gelap ini akibat kebakaran.

Sejak terjadinya kebakaran, pulau tertutup untuk wisatawan, tidak boleh dilalui untuk trekking para pemburu sunset atau sunrise.

Tapi kami merasa penasaran, maka turunlah kami dengan perahu ke pantai. Dari jauh kami telah melihat beberapa rusa di tepi pantai. Maka awak kapal pun menyiapkan makanan untuk mereka berupa roti dan beberapa sisir kulit pisang yang ternyata sangat mereka sukai.

Saat perahu mendekati pantai, pemandangan pertama membuat saya terpesona. Rusa-rusa berdatangan menyambut perahu yang menepi. Rusa-rusa ini jinak sekali, saya bahkan bisa mendekati dan menyentuhnya. Mereka tidak lari ketika kami mendekat dan mengajak bicara.

Awalnya saya merasa begitu senang melihatnya.

Namun kemudian saya menyadari bahwa mereka terlihat begitu kurus dan kelaparan sehingga lupa dengan rasa takut terhadap manusia. Tetiba saya merasa begitu sedih, hati rasanya teriris dan tak bisa menahan airmata yang tiba-tiba merebak. Begitupun teman-teman saya, semua langsung terdiam hening.

Betapa tidak, rusa-rusa ini kekurangan makanan akibat hampir semua vegetasi terbakar.

Sumber makanan dan minuman mereka minim sekali. Rusa-rusa ini akhirnya mengandalkan pengunjung untuk memberi mereka makanan. Ketika ada yangmembawa atau membuka tas pun mereka mendekat karena mengira membawa makanan. Sedih ya…

Segera makanan yang telah disiapkan awak kapal   untuk rusa-rusa ini, kami bagikan untuk rusa-rusa ini. Dan lihatlah, mereka begitu cepat berebut makanan. Sebotol air juga kami bagikan untuk rusa-rusa malang ini.

Ternyata mereka juga kekurangan air tawar. Jadilah awak kapal kembali ke kapal untuk berbagi sedikit persediaan air mineral untuk rusa dan para petugas penjaga Taman Nasional ini.

Lalu kami mendengar dari cerita para penjaga bahwa ternyata semua rusa yang kami temui ini adalah rusa jantan.

Saya memandang rusa-rusa itu, memang rata-rata bertanduk, hanya beberapa yang masih muda belum terlihat tanduknya. Entah dimana rusa betinanya, mungkin memang sudah tidak ada lagi. Saya tidak sempat bertanya pada petugas penjaga.

OMG, lalu bagaimana kelangsungan regenerasi satwa yang dilindungi ini? Duh, semoga rusa-rusa ini selamat dan sehat selalu, dan bisa mendapatkan jodoh untuk kelangsungan keturunannya.

Saya merasa begitu tak berdaya karena tak bisa melakukan apapun untuk rusa-rusa ini. Bahkan makanan yang kami bawa jauh dari kata cukup untuk sekedar mengenyangkan perut mereka sore ini. Sepertinya tak mampu untuk sekedar membuat mereka bisa tidur nyenyak malam nanti.

Sore ini, ketika saya menjelajahi savana gersang dan kering, ada kesedihan dan haru yang sangat di hati saya.

Ada pelajaran sangat mahal dan berharga yang saya petik. Bahwa mencintai alam bukan hanya dengan mengunjungi dan sekedar mengabadikannya dalam foto-foto indah menakjubkan. Tapi seharusnya kita lebih peka pada kelestarian alam, lebih peduli untuk turut menjaga komunitas dan ekosistem yang telah terbentuk di dalamnya.

Keserakahan, ego dan ketidakpedulian manusialah yang seringkali membawa petaka pada hancurnya sebuah komunitas yang merusak ekosistem. Dan itu seringkali tidak disadari. Hukuman dan denda bagi pelaku pelanggaran tidak akan pernah bisa mengembalikan alam seperti sedia kala.

Datanglah sendiri ke sana, saksikan dan temui rusa-rusa tangguh nan menawan ini.

Akankah kamu tak tersentuh ketika memandang tatapan mata mereka yang begitu pasrah? Dan kamu akan mengerti mengapa saya masih terus merasa haru dan nyeri di hati setiap saat teringat kenangan akan Gili Lawa, terutama saat mengingat rusa-rusa ini.

Note: Kisah lengkap trip Sailing Labuan Bajo dapat dibaca di http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/