Agrowisata Gunungsari, Kopeng, Salatiga

Tergolong destinasi wisata baru, Agrowisata Gunungsari di Desa Kopeng ini menarik minat banyak pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam dan suasana pegunungan.

Letaknya di ketinggian, di tengah hutan pinus Kopeng, di lereng Gunung Merbabu yang gagah. Untuk menuju ke sana, kita dapat berkendara melalui Desa Cuntel, desa yang dikenal sebagai pos pertama jalur pendakian Gunung Merbabu.

Karena berkunjung di musim penghujan, terasa sekali suasana dingin sejuk dan mendung berkabut. Walau tak ada matahari, namun pemandangan tetap mempesona.

Hutan menghijau tertutup barisan pohon cemara sebagai background. Kabut mulai turun membuat segala sesuatu memutih, membuat suasana terasa sendu dan mistis.

Ada beberapa gardu pandang yang biasa digunakan para pengunjung untuk menikmati keindahan suasana pegunungan. Banyak foto keceh bisa diambil dari gardu pandang ini loh…

Sayang sekali, baru menikmati beberapa area  cantik, hujan sudah tak sabar mengguyur. Berlarianlah kami menuju ke resto untuk berteduh.

Beruntung sekali sudah ada resto kecil di dalam lokasi wisata. Sambil menunggu hujan reda, menikmati semangkok ronde panas sambil bercerita cukuplah menghangatkan badan.

Mungkin suatu hari nanti saya kembali lagi ke sini untuk menghilangkan rasa penasaran dan memuaskan keinginan berkeliling ke seluruh area cantik ini.

Rawa Pening – Indahnya Jembatan Biru

Jembatan Biru yang hits ini merupakan jembatan unik yang menjorok sampai ke tengah danau Rawa Pening. Jembatan ini nampaknya memang sengaja dibangun bagi wisatawan yang ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan sampai ke tengah rawa.

Tidak sulit mencapai lokasi ini. Dari arah Salatiga, ambil jalan menuju ke Semarang. Setelah melewati batas kota Salatiga, sebelum masuk ke area kebun kopi Bawen, akan melewati jembatan Tuntang. Nah, tepat di sebelah kiri di ujung jembatan ada jalan masuk ke kiri. Ikuti saja jalannya sampai nanti menemukan plang nama Jembatan Biru di kiri jalan.

Di sepanjang jalan kita akan melihat perkampungan penduduk, area persawahan, aliran air sungai, rel kereta api. Semua juga keren loh untuk menjadi objek foto.

Tempat parkir lokasi wisata Jembatan Biru cukup luas.

Namun jika hari libur pastilah ramai sekali dan akan cukup sulit mendapatkan tempat parkir. Ketika terakhir kali ke sini beberapa  waktu lalu, tiket masuk masih gratis tiiisss. Hanya membayar uang parkir saja, untuk mobil Rp. 5.000,00 dan motor Rp. 2.000,00.

Dari tempat parkir menuju ke Jembatan Biru, kita akan melewati warung-warung yang menyediakan makanan, minuman dan menyewakan toilet. Namun nampak kurang tertata rapi dan bangunannya asal-asalan saja. Sehingga terlihat tidak menarik bahkan cenderung terkesan kumuh.

Kita juga akan melewati rel kereta api.

Ini adalah rel kuno yang sudah lama sekali tidak digunakan kembali. Di sisi lain jembatan Tuntang, terdapat Stasiun Kereta Api lama yang tidak beroperasi. Lain kali akan saya ceritakan ya…

Dahulu pada awalnya, memang jembatan ini dicat dengan warna biru dan putih.

Karena warna biru yang lebih dominan, sehingga dinamakan Jembatan Biru. Pada saat pengecatan ulang, diganti dengan cat warna-warni mirip pelangi. Meriah. Terlihat begitu menonjol di antara warna hijau dan air rawa yang tenang. Namun namanya tidak berubah, tetap Jembatan Biru.

Di sepanjang jembatan, kita bisa berjalan-jalan dan menikmati keindahan Rawa Pening yang damai dan sejuk. Lalu mata akan terpesona dengan pemandangan danau rawa yang dikelilingi gugusan gunung.

Gugusan gunung ini adalah Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Perahu nelayan bergerak melintas di depan mata, gerakannya pasti dan tenang. Indahnya…

Dan seperti layaknya daerah berawa, Rawa Pening ini permukaannya juga dipenuhi vegetasi. Tanaman enceng gondok masih mendominasi setelah puluhan tahun.

Karena suburnya, sampai-sampai diturunkan alat berat khusus yang setiap hari rutin membersihkan enceng gondok ini. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan ruang dan oksigen yang cukup bagi ekosistem rawa untuk berkembangbiak dengan baik.

Sebagian dari tanaman enceng gondok itu kini diolah menjadi berbagai macam kerajinan, hasil tangan-tangan terampil penduduk sekitar. Bahkan ada yang dijadikan kertas dan menghasilkan tekstur yang unik. Kearifan lokal yang layak terus dikembangkan.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-sunrise-bukit-cinta/