Benculuk, Hutan Lord of The Ring di Banyuwangi

Bagi para pencinta buku dan film Lord of The Ring, inilah tempat yang harus dikunjungi. Hutan kota Banyuwangi yang dilindungi ini dikenal dengan nama Benculuk atau Hutan Kota Djawatan.

Suasana mistis begitu terasa begitu memasuki area hutan, mirip penggambaran dalam suasana film Lord of The Ring.

Keunikan hutan ini tercipta dari deretan pohon trembesi yang berusia kurang lebih 200 tahun. Bisa dibayangkan seberapa besar lingkar pohonnya, bahkan lumut telah menutupi seluruh batangnya. Bentuk batangnya berbeda dari pohon-pohon biasa. Percabangan pohon dan dahan-dahannya terlihat seperti tangan-tangan raksasa. Kerimbunan pohon menghalangi sinar matahari sehingga hutan terllihat selalu basah, lembab dan magis. 

Namun jangan takut dulu, itu hanya kesan yang ditimbulkan. Tempat ini instagramable banget. Keren sekali untuk foto-foto selfie cantik. Apalagi di berbagai area dilengkapi dengan sarana berselfie seperti rumah pohon, jembatan cantik dan bahkan ada sederet andong yang siap membawa berkeliling. Lengkap kan…

Sebagai catatan, pohon trembesi ini adalah pohon yang berfungsi untuk menyimpan air. Pohon ini sudah semakin langka, sedangkan manfaatnya sangat nyata bagi kelestarian air sebagai sumber kehidupan di bumi ini.

Tiket masuknya? Murah banget, Cuma Rp. 2.000 saja…
So, jangan lewatkan hutan cantik ini ya, nggak bakalan nyesel…

Rawa Pening – Indahnya Jembatan Biru

Jembatan Biru yang hits ini merupakan jembatan unik yang menjorok sampai ke tengah danau Rawa Pening. Jembatan ini nampaknya memang sengaja dibangun bagi wisatawan yang ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan sampai ke tengah rawa.

Tidak sulit mencapai lokasi ini. Dari arah Salatiga, ambil jalan menuju ke Semarang. Setelah melewati batas kota Salatiga, sebelum masuk ke area kebun kopi Bawen, akan melewati jembatan Tuntang. Nah, tepat di sebelah kiri di ujung jembatan ada jalan masuk ke kiri. Ikuti saja jalannya sampai nanti menemukan plang nama Jembatan Biru di kiri jalan.

Di sepanjang jalan kita akan melihat perkampungan penduduk, area persawahan, aliran air sungai, rel kereta api. Semua juga keren loh untuk menjadi objek foto.

Tempat parkir lokasi wisata Jembatan Biru cukup luas.

Namun jika hari libur pastilah ramai sekali dan akan cukup sulit mendapatkan tempat parkir. Ketika terakhir kali ke sini beberapa  waktu lalu, tiket masuk masih gratis tiiisss. Hanya membayar uang parkir saja, untuk mobil Rp. 5.000,00 dan motor Rp. 2.000,00.

Dari tempat parkir menuju ke Jembatan Biru, kita akan melewati warung-warung yang menyediakan makanan, minuman dan menyewakan toilet. Namun nampak kurang tertata rapi dan bangunannya asal-asalan saja. Sehingga terlihat tidak menarik bahkan cenderung terkesan kumuh.

Kita juga akan melewati rel kereta api.

Ini adalah rel kuno yang sudah lama sekali tidak digunakan kembali. Di sisi lain jembatan Tuntang, terdapat Stasiun Kereta Api lama yang tidak beroperasi. Lain kali akan saya ceritakan ya…

Dahulu pada awalnya, memang jembatan ini dicat dengan warna biru dan putih.

Karena warna biru yang lebih dominan, sehingga dinamakan Jembatan Biru. Pada saat pengecatan ulang, diganti dengan cat warna-warni mirip pelangi. Meriah. Terlihat begitu menonjol di antara warna hijau dan air rawa yang tenang. Namun namanya tidak berubah, tetap Jembatan Biru.

Di sepanjang jembatan, kita bisa berjalan-jalan dan menikmati keindahan Rawa Pening yang damai dan sejuk. Lalu mata akan terpesona dengan pemandangan danau rawa yang dikelilingi gugusan gunung.

Gugusan gunung ini adalah Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Perahu nelayan bergerak melintas di depan mata, gerakannya pasti dan tenang. Indahnya…

Dan seperti layaknya daerah berawa, Rawa Pening ini permukaannya juga dipenuhi vegetasi. Tanaman enceng gondok masih mendominasi setelah puluhan tahun.

Karena suburnya, sampai-sampai diturunkan alat berat khusus yang setiap hari rutin membersihkan enceng gondok ini. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan ruang dan oksigen yang cukup bagi ekosistem rawa untuk berkembangbiak dengan baik.

Sebagian dari tanaman enceng gondok itu kini diolah menjadi berbagai macam kerajinan, hasil tangan-tangan terampil penduduk sekitar. Bahkan ada yang dijadikan kertas dan menghasilkan tekstur yang unik. Kearifan lokal yang layak terus dikembangkan.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-sunrise-bukit-cinta/