SENJA DI GILI LAWA dan Sebuah Kisah Tentang Rusa

Sailing di hari kedua dari trip Labuan Bajo ini berakhir di Gili Lawa, dimana sebuah cerita mengharukan yang begitu menyentuh akan terus tersemat di hati saya.

Masih ingat berita terbakarnya sebuah pulau gegara pengambilan foto prewed yang kurang bijaksana dengan perhitungan keamanan? Di sinilah, Gili Lawa ini, kapal kami kami membuang sauh untuk menikmati sunset di malam terakhir. Dari jauh terlihat jelas bahwa pulau berwarna lebih gelap dari pulau lain. Meskipun memang belum musim hujan sehingga vegetasi hijau sangat jarang terlihat, tetap saja berbeda karena warna gelap ini akibat kebakaran.

Sejak terjadinya kebakaran, pulau tertutup untuk wisatawan, tidak boleh dilalui untuk trekking para pemburu sunset atau sunrise.

Tapi kami merasa penasaran, maka turunlah kami dengan perahu ke pantai. Dari jauh kami telah melihat beberapa rusa di tepi pantai. Maka awak kapal pun menyiapkan makanan untuk mereka berupa roti dan beberapa sisir kulit pisang yang ternyata sangat mereka sukai.

Saat perahu mendekati pantai, pemandangan pertama membuat saya terpesona. Rusa-rusa berdatangan menyambut perahu yang menepi. Rusa-rusa ini jinak sekali, saya bahkan bisa mendekati dan menyentuhnya. Mereka tidak lari ketika kami mendekat dan mengajak bicara.

Awalnya saya merasa begitu senang melihatnya.

Namun kemudian saya menyadari bahwa mereka terlihat begitu kurus dan kelaparan sehingga lupa dengan rasa takut terhadap manusia. Tetiba saya merasa begitu sedih, hati rasanya teriris dan tak bisa menahan airmata yang tiba-tiba merebak. Begitupun teman-teman saya, semua langsung terdiam hening.

Betapa tidak, rusa-rusa ini kekurangan makanan akibat hampir semua vegetasi terbakar.

Sumber makanan dan minuman mereka minim sekali. Rusa-rusa ini akhirnya mengandalkan pengunjung untuk memberi mereka makanan. Ketika ada yangmembawa atau membuka tas pun mereka mendekat karena mengira membawa makanan. Sedih ya…

Segera makanan yang telah disiapkan awak kapal   untuk rusa-rusa ini, kami bagikan untuk rusa-rusa ini. Dan lihatlah, mereka begitu cepat berebut makanan. Sebotol air juga kami bagikan untuk rusa-rusa malang ini.

Ternyata mereka juga kekurangan air tawar. Jadilah awak kapal kembali ke kapal untuk berbagi sedikit persediaan air mineral untuk rusa dan para petugas penjaga Taman Nasional ini.

Lalu kami mendengar dari cerita para penjaga bahwa ternyata semua rusa yang kami temui ini adalah rusa jantan.

Saya memandang rusa-rusa itu, memang rata-rata bertanduk, hanya beberapa yang masih muda belum terlihat tanduknya. Entah dimana rusa betinanya, mungkin memang sudah tidak ada lagi. Saya tidak sempat bertanya pada petugas penjaga.

OMG, lalu bagaimana kelangsungan regenerasi satwa yang dilindungi ini? Duh, semoga rusa-rusa ini selamat dan sehat selalu, dan bisa mendapatkan jodoh untuk kelangsungan keturunannya.

Saya merasa begitu tak berdaya karena tak bisa melakukan apapun untuk rusa-rusa ini. Bahkan makanan yang kami bawa jauh dari kata cukup untuk sekedar mengenyangkan perut mereka sore ini. Sepertinya tak mampu untuk sekedar membuat mereka bisa tidur nyenyak malam nanti.

Sore ini, ketika saya menjelajahi savana gersang dan kering, ada kesedihan dan haru yang sangat di hati saya.

Ada pelajaran sangat mahal dan berharga yang saya petik. Bahwa mencintai alam bukan hanya dengan mengunjungi dan sekedar mengabadikannya dalam foto-foto indah menakjubkan. Tapi seharusnya kita lebih peka pada kelestarian alam, lebih peduli untuk turut menjaga komunitas dan ekosistem yang telah terbentuk di dalamnya.

Keserakahan, ego dan ketidakpedulian manusialah yang seringkali membawa petaka pada hancurnya sebuah komunitas yang merusak ekosistem. Dan itu seringkali tidak disadari. Hukuman dan denda bagi pelaku pelanggaran tidak akan pernah bisa mengembalikan alam seperti sedia kala.

Datanglah sendiri ke sana, saksikan dan temui rusa-rusa tangguh nan menawan ini.

Akankah kamu tak tersentuh ketika memandang tatapan mata mereka yang begitu pasrah? Dan kamu akan mengerti mengapa saya masih terus merasa haru dan nyeri di hati setiap saat teringat kenangan akan Gili Lawa, terutama saat mengingat rusa-rusa ini.

Note: Kisah lengkap trip Sailing Labuan Bajo dapat dibaca di http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

One Reply to “SENJA DI GILI LAWA dan Sebuah Kisah Tentang Rusa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *