PULAU RINCA, LABUAN BAJO

Dari Dermaga Menjerite yang cantik, kami berlayar menuju ke Pulau Rinca dimana komodo yang legendaris itu berada.

Sudah beberapa waktu ini Pulau Komodo sebagai bagian dari Taman Nasional yang dilindungi, dilarang dikunjungi wisatawan. Jadi, kalau ingin melihat komodo, kita bisa ke Pulau Rinca sebagai gantinya.

Berlabuh di pulau Rinca, hujan rintik-rintik, namun tidak mengurangi semangat kami untuk segera naik ke dermaga. Di sekitar dermaga banyak terdapat pohon bakau yang rimbun menghijau, sehingga membuat suasana teduh dan sejuk.

Kebetulan memang saat kami berkunjung sedang musim kemarau. Jadi senang lihat yang adem begini setelah berpanas-panas. Warna hijau pepohonan langsung bikin nyesss…

Di loket masuk dekat dermaga telah menunggu dua orang Ranger yang akan mengawal trekkking kami di pulau Rinca.

Mengapa perlu dua orang ranger? Karena mereka memandu dan menjaga setiap kelompok wisatawan, satu di depan dan satu di belakang untuk berjaga-jaga.

Nah, ada yang membuat saya bertanya-tanya, karena di gapura selamat datang tertulis: “WELCOME TO LOH BUAYA”.

Kok buaya? Ternyata, penduduk asli sini menyebut komodo dengan panggilan buaya. Karena anatominya yang memang mirip-mirip dengan buaya. Tapi nggak pernah ada istilah air mata komodo kan ya… Hohoho…

Setelah masuk gerbang kedatangan, kami berjalan melalui jalan setapak di sebuah tanah lapang yang luas, ada beberapa kerbau besar di sana. Dekat pepohonan bahkan ada kerbau sedang berkubang lumpur dengan damainya dan beberapa ekor rusa berlarian di padang.

Ranger membawa kami ke area bangunan yang berupa rumah panggung. Ternyata ini adalah bagian dari kantor, resort dan kantin. Ada beberapa tengkorak hewan yang dipajang, semua adalah binatang asli pulau ini, sisa-sisa dari keganasan komodo. Semua hanya tinggal kepala dan tanduknya saja, seram ya…

Ranger meminta kami berkumpul di dekat peta besar untuk memberikan penjelasan jarak trekking yang harus kami lalui. Ada pilihan jalur long, medium dan short trekking.

Pilihan tergantung kemampuan fisik dan waktu yang kita miliki. Juga penjelasan beberapa hal yang harus kami patuhi selama trekking. Kami diwajibkan berjalan dalam kelompok dan tidak berpisah-pisah.

Saat bertemu komodo tidak boleh terlalu dekat, bila ingin berfoto harus menunggu aba-aba Ranger. Pose foto paling aman adalah kita berdiri di belakang komodo sementara  Ranger akan mengambilkan gambar dari depan komodo.

Oya, kalau ada perempuan dalam rombongan, biasanya akan ditanyakan apakah sedang masa menstruasi atau tidak. Kalau memang sedang dalam masa haid sebaiknya tidak mengikuti trekking ini karena berbahaya sekali.

Bakalan dikejar komodo karena daya penciumannya kuat sekali. Lebih baik jujur ya daripada membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kami memilih jalur medium trekking.

Saat akan memulai trekking, ternyata hujan turun lagi, kali ini agak deras. Jadi kami harus menunggu di salah satu bangunan sampai hujan reda. Ternyata tidak lama kemudian hujan berhenti, berangkatlah kami dengan semangat.

Sepanjang perjalanan Ranger senior bercerita tentang kehidupan komodo, cara makan, masa kawin dan banyak hal lain. Ada cerita-cerita tentang komodo yang akan datang kembali ke sarang yang sama tiap kali bertelur dan mengeraminya hingga menetas.

Ada cerita sedih tentang komodo yang mati, cerita seram tentang komodo yang menyerang manusia, dan pertarungan antar komodo untuk memperebutkan sarang dan betina.

Komodo termasuk species biawak besar atau disebut juga kadal raksasa terbesar dan paling terkenal di dunia dengan panjang badan 2-3 meter dan berat mencapai 100 kg.

Komodo juga merupakan hewan carnivora dan merupakan pemangsa puncak di habitatnya. Saya baru tahu bahwa komodo menggunakan lidahnya untuk mencium bau mangsa bahkan hingga sejauh 4-9,5 km.

Amazing ya, pantesan peraturan untuk wanita yang sedang datang bulan sangat ketat, karena memang sangat berbahaya.

Mengapa komodo ini istimewa? Karena hanya bisa ditemukan di wilayah Indonesia di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo dan pulau Rinca.

Air liurnya yang beracun juga selalu menjadi bahan perbincangan karena sampai saat ini tidak ditemukan obat atau penangkal racunnya. Kandungan bakteri dalam air liur inilah yang menyebabkan mangsanya tidak dapat bertahan hidup.

Sebagai hewan carnivora, menurut Ranger, komodo ini bisa makan rusa dalam sekali telan, astaga.

Ternyata komodo ini bisa makan bangkai maupun hewan mangsa yang masih hidup, dan rata-rata hanya perlu sekali makan untuk satu bulan. Mungkin karena proses metabolismenya lama ya, jadi lebih irit makan.

Semua yang dimakan hidup-hidup ini, setelah dicerna sempurna, komodo akan memuntahkan kembali sisa-sisa tanduk, gigi, rambut mangsanya dalam gumpalan-gumpalan campur lendir.

Inilah yang ketika kering akan terlihat di tanah noda-noda besar berwarna putih yang kami lewati beberapa kali. Jangan coba-coba menyentuhnya ya, siapa tahu masih penuh bakteri.

Nah, ini yang lebih ajaib, katanya komodo ini adalah hewan yang monogami, hanya mempunyai satu pasangan saat kawin.

Musim kawin biasanya terjadi pada bulan Mei-Agustus. Tentu saja dengan kehebohan pertarungan antar pejantan untuk memperebutkan betina impiannya. Pertarungan ini selalu heboh dan berakhir sampai salah satu pejantan kalah.

Betina yang telah dikawini, akan memilih sarang untuk bertelur. Lalu mengerami telur-telurnya selama 7-8 bulan. Selama itu komodo betina akan berbaring saja di atas sarangnya untuk melindungi telur sampai menetas.

Komodo yang menetas ini perlu waktu 3-5 tahun untuk menjadi komodo dewasa. Dan mampu bertahan hidup sampai 50 tahun lebih. Kami sempat menemukan dan mengamati seekor komodo betina sedang mengerami telurnya. Tampaknya lapar karena puasa berbulan-bulan.

Karena habitat asli adalah padang rumput terbuka dan hutan belukar, maka pulau ini pun dipertahankan senatural mungkin agar komodo dapat hidup dengan aman dan nyaman.

Saat panas biasanya komodo akan berteduh saja bermalas-malasan. Seperti yang kami jumpai hari itu. Beruntung kami bertemu cukup banyak komodo saat kunjungan. Sehingga bisa melihat langsung hewan yang sensasional ini. Sensasinya lumayan mendebarkan melihat hewan buas ini lepas begitu saja di alam dan kami begitu dekat.

Hanya beberapa jam kami di sini, tapi begitu banyak yang kami dapatkan. Kenangan yang tak terlupakan. Ada haru karena masih diberikan kesempatan menikmati keindahan ciptaanNya yang begitu beragam. Juga rasa bangga menjadi bagian dari warga negara yang begitu kaya dan indah ini.

Dalam perjalanan kembali ke kapal, hujan mulai turun lagi, kami berlari-lari kecil menuju pintu keluar.

Someday I’ll be back, menelusuri jalur long trekking yang pasti lebih mempesona dan memandang semuanya dari puncak bukit yang hari ini tak mungkin kami daki.

Haaaaapp… saya melompat kembali ke kapal, dan langsung disambut suguhan snack sore di meja makan. Pisang goreng coklat dan keju plus jus mangga segar yang sulit ditolak karena memang berasa lapar setelah perjalanan yang mendebarkan ini.

So, kami melanjutkan berlayar sambil menikmati sore indah ini. Termakasih awak kapal yang begitu baik dan mendengar suara perut kami.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

One Reply to “PULAU RINCA, LABUAN BAJO”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *