Hutan Pinus Becici, Lokasi Sempurna Menjauh dari Rutinitas

Mencari keteduhan dan kedamaian? Ayuk ke Hutan Pinus Becici di Bantul.

Hutan Pinus Puncak Becici tepatnya berada di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ambil arah menuju ke Gunungkidul dari terminal Prambanan. Jalan bisa dilalui bus, namun agak menanjak dan banyak tikungan. Harus hati-hati karena ada jurang di satu sisi.

Hutan pinus ini luas dan cocok untuk wisata keluarga maupun gathering. Bagi yang menyukai wisata alam, pasti akan jatuh cinta dengan pemandangan yang memikat hati. Udara segar, pohon pinus berderet cantik dan view luar biasa dari ketinggian.

Bahkan sejak masih di parkiran, kita sudah bisa mencium aroma pinus di udara. Memandang pohon pinus berderet rapi membuat kantuk hilang.

Tiket masuk Hutan Pinus Becici Rp. 2.000-2.500/orang. Parkir motor Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000.

Aktifitas di Hutan Pinus Puncak Becici

Kesejukan hutan pinus ini dilengkapi dengan berbagai spot kekinian untuk ber-swafoto. Tersedia pula aula untuk acara-acara kebersamaan dan camping ground bila ingin berkemah.

Harga camping ground Rp. 15.000/orang/hari. Bagi yang tertarik untuk sesi foto prewed di sini pun bisa. Harganya juga tidak mahal. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 200.000 saja.

Ada spot yang sangat menarik bagi anak-anak. Hammock.

Semacam kantong ayunan dari kain untuk tiduran atau bersantai yang diikatkan ke dua batang pohon. Sewanya Rp. 10.000 saja per orang, sepuasnya. Wah… saya juga betah bersantai di hammock ini lama-lama, hahaha…

Gardu pandang di puncak bukit juga sangat indah.

Kita bisa bersantai di sana menikmati kota Jogja dari ketinggian. Atau tentu saja, mengambil foto-foto cantik. Hanya saja akan ramai sekali saat musim liburan, sehingga harus antre untuk berfoto. Jangan lama-lama juga ya, kasihan mereka yang menunggu giliran foto.

Lapar? No worries. Ada banyak warung kecil yang menjajakan berbagai makanan dan minuman. Jadi kalau lapar atau haus, bisa membeli di salah satu warung yang berderet di dekat pintu masuk.

Harga makanan juga tidak mahal, standart untuk ukuran tempat wisata. Walau menurut saya, warung ini kurang tertata rapi sehingga malah terkesan kumuh dan tidak match dengan lingkungan asri hutan pinus. Sayang ya…

Uji Adrenlin di Gumuk Reco Sepakung

Salah satu wisata uji nyali yang pernah saya kunjungi adalah Gumuk Reco, di Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Saya berkunjung bersama beberapa teman di akhr tahun 2017, sudah cukup lama ternyata ya…

Perjalanan menuju ke lokasi ini memang  seru dan penuh perjuangan. Salah satunya adalah karena kami salah memilih jalan yang lebih sempit dan banyak tikungan tajam. Jalan naik turun yang curam hingga 45 derajat. Apalagi saat itu cuaca mendung, jadi agak dag dig dug juga kalau hujan turun.

Beruntung teman yang menyetir sudah sangat ahli sehingga kami bisa sampai dengan selamat ke lokasi. Hanya saja pulangnya kami memilih jalan yang berbeda yang jauh lebih aman. Kapok lewat jalan pertama, hahaha…

Ketika itu, loketnya masih sederhana sekali. Namun pintu masuk ke lokasi langsung menarik mata saya. Unik sekali tatanan cabang2 pohon kering ini.

Keseruan Aktifitas

Jalan setapak dari loket sudah di semen, dengan pemandangan hutan pinus di kiri dan kanan jalan. Teduh. Ada beberapa spot untuk duduk-duduk menikmati suasana. Juga tempat-tempat selfi cantik. Walau agak ngeri-ngeri sedap juga ketika mencoba berfoto di atas sarang burung raksasa yang menggantung begitu saja di bibir tebing.

Rumah Pohon dan Jembatan Kepompong dari kayu juga menarik untuk dicoba. Bisa dapat view keren dari atas rumah pohon.

Tapi yang paling menggetarkan jiwa dan membuat jantung mau copot adalah mencoba Ayunan Langit.

Safety first tetap yaaa gaeeess, semua pakai pengaman dan telah diuji untuk berat maksimal kok. Aman sih, tapi tetap saja saya berteriak sekuat jiwa raga dan sepenuh hati begitu mulai diayun. Hwaaaaaaaa…. ternyata sensasinya tak terlukiskan kata-kata.

Kemudian ketika mulai tenang, saya mesti pasang senyum untuk sesi foto sambil berayun. Duilaaahhh… muka pucat dan jantung copot begini mesti pasang muka syantiiikk… huuuffttt… Beruntung saya sudah pesan dengan sangat supaya jangan terlalu keras diayun. Takut kalau rok saya lepas, hihihi…

Btw, dengan semua kekurangan karena memang saat itu lokasi masih dalam pengembangan wisata, lokasi ini unik dan menarik untuk dikunjungi. View di ketinggian memang cantik. Perpaduan hutan pinus dengan tebing coklat di sekitarnya sungguh kontras.

Namun saya tidak merekomendasikan wisata Gumuk Reco untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Andai terpaksa diajak, harus dengan pengawasan ekstra. Karena tebing-tebingnya curam, dan belum diberikan pagar yang cukup kokoh. Daripada kita tidak bisa menikmati keindahan cantik ini, lebih baik memang tidak membawa anak-anak di bawah 12 tahun.

Tiket masuk Rp. 5.000,00 dan tiket ayunan langit serta jembatan kepompong @Rp. 10.000. Harga sudah termasuk safety equipment.

Sekarang sudah ada tambahan wahana baru Ondo Langit, sehingga bisa menikmati sensasi memanjat tebing curam di salah satu sisi wisata.

Saran saya kalau ke sini kendaraan harus benar2 prima dan driver pengalaman. Naik motor juga bisa, asal memang sudah mahir mengendarai.

Jangan salah ya, wisata di Gumuk Reco ini sudah semakin banyak dicari wisatawan loh…. Jadi sebaiknya datang pagi, bisa mendapatkan udara yang lebih segar dan belum terlalu padat pengunjung.

Ekowisata Subak Sembung, Menikmati Segarnya Persawahan di Kota Denpasar

Dengan rasa penasaran, Sabtu pagi kemarin, saya bergegas menuju lokasi Ekowisata Subak Sembung.

Sejak dua hari sebelumnya saya sudah meng-iyakan janji untuk bertemu sobat lama di sana. Rencananya sih pengen ketemuan sambil ngobrol dan jalan-jalan sehat di pagi hari sambil menghirup udara segar persawahan.

Apa daya mata ini tak mau diajak kompromi untuk bangun pagi. Semalam pulang tengah malam keasikan nonton Festival Lampion di Nusa Dua. Jadilah saya kesiangan pagi ini. Apalagi langit masih gelap sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Duh, beratnya membuka mata ini.

Karena belum pernah ke lokasi, saya mesti mohon petunjuk mbah Google. Ternyata dekat sekali, hanya 12 menit menuju ke sana. Jadi langsung cuusss…

Sampai di sana sobat saya dan keluarganya sudah bersantai di warung dekat loksi parkir. Sedang menikmati soto dan minuman segar setelah berjalan-jalan menyusuri persawahan. Jadi, saya terlambat untuk sesi jalan pagi. Baiklah…

Jalan-Jalan di Ekowisata Subak Sembung

Setelah mengobrol dan janji bertemu lagi, saya memutuskan untuk explore sendirian di area ekowisata. Memang sudah terlalu siang, karena sudah pukul 10 lebih. Cuaca agak mendung dengan awan bergumpal di atas.

Panas? Tetap. Tapi keuntungannya adalah sepi pengunjung. Jadi saya bisa sepuasnya explore dan memotret tanpa gangguan. Hepi? Bangeettt…

Menarik bahwa ekowisata ini terletak di pinggiran kota Denpasar.

Tepatnya di kawasan Peguyangan, Denpasar Utara. Dengan areal seluas kurang lebih 115 ha dan didukung oleh 200 an orang petani, sawah ini berproduksi setiap tahun. Betapa beruntungnya, tak harus jauh-jauh ke Jatiluwih untuk bisa menikmati asiknya berjalan-jalan di area persawahan.

Gerbang masuknya sederhana saja, alami. Saya menyusuri jalan paving di tepi aliran air irigasi. Airnya bening dan segar. Di kiri kanan berjajar bentangan persawahan luas.

photo credit by christi laksita

Ada juga beberapa tanaman sayur semusim selain padi seperti cabai dan bawang.

Hanya tinggal satu dua petani yang masih bekerja. Kebetulan pula sebagian sawah baru saja dipanen, jadi saya tidak mendapatkan banyak foto persawahan hijau.

Walau sudah hampir habis padi yang menghijau, tetap saja menarik mengabadikan pemandangan alam ini. Suara musik bambu terdengar mengalun setiap hembusan angin. Gemericik air menenangkan hati. Ratusan burung kecil mencari sisa-sisa bulir padi yang tertinggal saat panen. Puluhan bebek bermain lumpur mencari makan. Semua melengkapi keindahan area persawahan yang terbentang luas di hadapan saya.

Entah kenapa, semua tampak begitu asri dan sempurna. Bahkan warna coklat tanah berlumpur dan batang padi kecoklatan tampak serasi. Dikelilingi rumput dan gulma aneka warna. Tanaman merambat maupun tanaman liar, semua tumbuh subur, menghijau dan berbunga cantik.

Jalan setapak berpaving juga bersih dan rapi.

Pejalan kaki bisa menikmati suasana dengan santai. Di sana sini terdapat canang sesajen.

Dan sebuah patung Dewi Sri yang cukup besar dan cantik. Dewi Sri, adalah dewi padi dan sawah, lambang kesuburan di Jawa dan Bali.

Area Ekowisata Subak Sembung ini memang terjaga kebersihannya.

Disediakan tempat sampah dan banyak rambu-rambu peringatan untuk selalu menjaga kebersihan.

Ada juga balai tempat berteduh dan duduk-duduk melepas lelah. Beberapa gubuk sawah kecil, dan bangku kecil. Saya merasa nyaman saja duduk di jalan paving yang bersih ini.

Betapa saya tak ingin pergi dari tempat ini. Sebagai petani yang tak punya sawah, saya memang selalu jatuh cinta dengan segala yang tumbuh dari tanah. Bermimpi suatu hari bisa menjadi petani sejati yang memiliki sawah sendiri.

Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir, saya bertemu dengan anak-anak yang bermain-main di sawah. Mereka lucu dan ramah, dan mau saya foto. Betapa bahagianya mereka , tanpa beban. What a lovely day…

Bertabur Ribuan Cahaya Lampu di Nusa Dua Light Festival

Ada yang seru di Nusa Dua, yang membuat saya rela berkendara selama 2 jam ke sana.

Weekend ini saya berkesempatan menikmati ribuan cahaya lampu di Nusa Dua Light Festival (NDLF), Bali. Nusa Dua Light Festival ini merupakan agenda tahunan dan tahun ini adalah yang keempat kalinya diadakan di tempat yang sama.

Saya bertiga dengan teman meluncur ke Nusa Dua sore itu berharap-harap cemas cuaca cerah sepanjang sore hingga malam. Festival lampion ini resmi dibuka 30 Mei 2019 dan berlangsung hingga 14 Juli 2019. Kami berharap masih belum terlalu penuh pengunjung sehingga bisa leluasa mengambil foto.

Diawali dengan Sunset di Nusa Dua Beach

Sesampai di Nusa Dua, kami mencari tempat parkir terdekat agar tidak terlalu jauh berjalan. Saat sampai, karena masih sekitar jam 6 sore, langit masih terang. Semburat warna merah oranye keemasan mulai muncul, saatnya matahari kembali ke peraduan. Warnanya cantik sekali. Sunset will coming soon.

Lalu, pantai berubah menjadi warna pink oranye keemasan, gemeees sekali. Tak tahan untuk tidak mampir pantai dan mengabadikan keindahannnya. Area festival ini memang berada di tepi pantai. Jadi double serunya.

Melihat-lihat kompleks Nusa Dua yang megah dan mewah plus menikmati keindahan sunset di pantai Nusa Dua. Tentu saja yang utama adalah menikmati keindahan ribuan lampu yang ditata indah. Ah, Bali memang selalu mempesona.

Terhampar di area seluas 7 hektar are, Nusa Dua Light Festival 2019 ini bertemakan “The Mountain View”.

Hal pertama yang menarik mata adalah lorong taman berdaun hijau, dimeriahkan burung-burung warna-warni beterbangan di atas lorong. Di kiri kanan lorong terdapat hamparan kebun bunga mawar, kebun bunga tulip, kebun buah dan ladang gandum.

Sesuai tema, di tengah area berdiri dua gunung kembar dengan matahari besar di tengahnya. Bahkan ada berbagai beberapa bangunan rumah bercahaya. Semuanya terbuat dari ribuan lampu berwarna-warni yang bercahaya indah dalam kegelapan.

Rasanya seperti berada di negeri dongeng. Kami mencoba berbagai cara dan teknik untuk mendapatkan hasil foto terbaik. Menjadi sebuah hiburan tersendiri karena hasilnya seringkali membuat kami tertawa geli melihat kekonyolan diri sendiri.

Selain ribuan lampu indah ini, ada juga Kids Playground. Dilengkapi dengan permainan Helikopter Mini, Euro Bungee, Kereta Mini, Trampolin, Rumah Balon dan Rumah Kelinci. So, jangan kuatir bagi yang ingin rekreasi bersama keluarga ya, pasti si kecil juga betah bermain lama-lama di sini.

Lapar? Nggak perlu keluar area, karena tersedia banyak pilihan kuliner. Stand makanan aneka pilhan berderet di sisi kiri pintu masuk. Bisa menikmati makan sambil memandang keindahan seni luar biasa ini.

Oya, pada tanggal 13-14 Juli 2091 penutupan Nusa Dua Light Festival ini akan dimeriahkan dengan penyelenggaraan Bali Blues Festival (BBF). Menghadirkan artis-artis nasional seperti Gugun Blues Shelter feat Emmy Tobing, Balawan, Gus Teja, Endah n Rhesa, juga dimeriahkan band lokal dan artis pendukung.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk untuk domestik weekday Rp. 30.000, weekend Rp. 35.000. Sedangkan tiket masuk untuk wisatawan asing weekday Rp. 75.000 dan weekend Rp. 100.000. Buka mulai pukul 16.00-22.00 WITA. Nah, yang keren nih, tiket bisa dibeli secara online di Traveloka, Gojek, Loket dan Tokopedia. Atau bisa dibeli langsung di tempat.

Kemudian untuk tiket permainan di dalam area Kids Playground-Nusa Dua Light Festival berkisar antara Rp 10.000 – Rp. 25.000 sesuai jenis permainan. Permainan Helikopter Mini, Kereta Mini, Rumah Balon dan Rumah Kelinci aman untuk anak usia 3 tahun ke atas. Namun permainan Euro Bungee dan Trampolin dibatasi untuk anak usia 6 tahun ke atas.

Berdasar pengalaman, saran saya, sebaiknya berkunjung lebih sore sekitar pukul 5 sudah di lokasi. Sehingga bisa menikmati suasana sebelum gelap. Hasil foto saat pencahayaan sore apalagi saat sunset lebih indah dan romantis. Please try…

Sekumpul Waterfall, Keindahan Ganda Sekumpulan Air Terjun di Buleleng, Bali

Air terjun, siapa yang tak suka menikmati keindahannya?

Air terjun, wisata alam cantik yang seringkali  membutuhkan energi untuk menikmatinya. Karena lokasinya yang sebagian besar tersembunyi dan sulit dicapai.

Kali ini saya dan beberapa teman berombongan mbolang ke Sekumpul Waterfall di Buleleng dengan motor. Perjalanan melalui rute Bedugul yang berliku naik turun. Udara pegunungan yang dingin dan segar menghibur saya.

Area parkir mobil cukup jauh dari air terjun.

Sesampainya di sana, ternyata area parkir mobil masih jauh dari air terjun. So, jika naik mobil, ada dua alternatif untuk sampai ke loket ticketing. Dengan naik ojek atau berjalan kaki.

Kebanyakan wisatawan asing memilih berjalan kaki. Tapi rata-rata wisatawan domestik memilih naik ojek. Beruntung kami naik motor sehingga bisa langsung menuju ticketing.

Jalan menuju ke loket ticketing berkelok dan sempit.

Jalan menuju ticketing sempit, hanya bisa dilalui satu motor. Menegangkan juga karena berkelak-kelok dengan jurang di satu sisi. Jika kebetulan berpapasan dengan pengendara motor dari arah berlawanan, salah satu harus mengalah. Sport jantung, uuuhhh… deg-deg an sangaaadd…

Dari area parkir motor, kita masih harus berjalan sekitar 200m ke loket ticketing. Di sini tersedia pula toilet yang bisa digunakan untuk ganti baju. Namun sayang kurang terawat, kurang bersih dan gelap.

Nah, kalau kelaparan, nggak perlu kuatir. Terdapat juga warung kecil untuk istirahat dengan menu sederhana. Tentu saja ada Indomie sebagai menu favorit.

Holy Water Spring, alternatif pertama air terjun

Setelah membeli tiket, di area kanan ticketing ada air terjun kecil, namanya Holy Water Spring. Airnya tidak terlalu dalam, bersih, jernih, segar.  Aman dan cocok untuk anak-anak berenang dan bermain santai.

Jika ingin yang lebih menantang, ambil jalan ke bawah menuju air terjun. Ada ratusan anak tangga yang harus kita turuni untuk menuju ke Sekumpul Waterfall. Sebagian jalannya masih berupa tanah, sebagian lagi berupa anak tangga semen. Cukup curam jadi mesti hati-hati ya, tetap fokus pada jalan. Walau menurut saya cukup aman karena ada pagar di kiri kanannya. 

Saya turun pelan-pelan dan banyak berhenti tergoda spot-spot cantik. Sayang nggak bawa camera, jadi harus cukup puas dengan HP.

Keindahan beragam air terjun di sepanjang perjalanan

Di sepanjang perjalanan banyak air terjun kecil yang cantik yang saya temukan. Juga jembatan-jembatan yang menggoda untuk diabadikan.

Jembatan penghubung ke Gombrong Waterfall dan Fiji Waterfall juga keren loh. Bisa jadi alternatif spot foto yang amazing.

Banyak juga ya air terjun di area ini, pantas saja namanya Sekumpul Waterfall. Baru kali ini saya mengunjungi area wisata yag penuh dengan air terjun menakjubkan. Ah, air terjun  memang selalu penuh pesona. Sayang saya tidak sempat menikmati semuanya.

Sekumpul Waterfall, air terjun yang amazing

Sampai juga akhirnya ke tujuan utama. Mata langsung terbuka lebar ketika sampai di Sekumpul Waterfall. Air terjun ini memang luar biasa menakjubkan.

Nggak rugi berlelah-lelah sampai ke sini. Amazing banget lihat sekumpulan air terjun berkumpul dalam satu lokasi. That’s why namanya Sekumpul Waterfall.

Airnya terasa dingin namun menyegarkan setelah berpanas-panas dan berjalan jauh. Tak bisa tidak, harus mandi dan berbasah-basah kalau sudah di sini. Hanya saja lebih hati-hati berjalan di kolam air terjun. Ada banyak lumut sehingga bebatuan cukup licin terasa di kaki.

Perjuangan kembali menaiki anak tangga menuju tempat parkir

Baliknya, OMG… sungguk-sungguh perjuangan. Mendaki tangga yang sama satu per satu dengan sisa-sisa tenaga itu sesuatu banget. Berasa lebih berat medannya dibandingkan mendaki Kawah Ijen, hahaha…  Nafas habis ketika sampai kembali di ticketing.

Akhirnya, memang harus beristirahat sebentar di warung sederhana ini untuk memulihkan energi. Bersyukur banget ada warung kecil penyelamat ini. Ibu pemilik warung juga ramah dan mau melayani semua permintaan. Dan kami duduk-duduk minum dan mencicipi menu seadanya. Coffee is the best choice for recovering energy, don’t you?

Menurut saya, lebih seru jika saat datang langsung eksplore turun ke air terjun. Setelah puas bermain air, baru kembali dan berbilas di Holy Water Spring. Airnya lebih hangat dan jernih. Bisa menghilangkan rasa lelah setelah menaiki ratusan anak tangga.

Benculuk, Hutan Lord of The Ring di Banyuwangi

Bagi para pencinta buku dan film Lord of The Ring, inilah tempat yang harus dikunjungi. Hutan kota Banyuwangi yang dilindungi ini dikenal dengan nama Benculuk atau Hutan Kota Djawatan.

Suasana mistis begitu terasa begitu memasuki area hutan, mirip penggambaran dalam suasana film Lord of The Ring.

Keunikan hutan ini tercipta dari deretan pohon trembesi yang berusia kurang lebih 200 tahun. Bisa dibayangkan seberapa besar lingkar pohonnya, bahkan lumut telah menutupi seluruh batangnya. Bentuk batangnya berbeda dari pohon-pohon biasa. Percabangan pohon dan dahan-dahannya terlihat seperti tangan-tangan raksasa. Kerimbunan pohon menghalangi sinar matahari sehingga hutan terllihat selalu basah, lembab dan magis. 

Namun jangan takut dulu, itu hanya kesan yang ditimbulkan. Tempat ini instagramable banget. Keren sekali untuk foto-foto selfie cantik. Apalagi di berbagai area dilengkapi dengan sarana berselfie seperti rumah pohon, jembatan cantik dan bahkan ada sederet andong yang siap membawa berkeliling. Lengkap kan…

Sebagai catatan, pohon trembesi ini adalah pohon yang berfungsi untuk menyimpan air. Pohon ini sudah semakin langka, sedangkan manfaatnya sangat nyata bagi kelestarian air sebagai sumber kehidupan di bumi ini.

Tiket masuknya? Murah banget, Cuma Rp. 2.000 saja…
So, jangan lewatkan hutan cantik ini ya, nggak bakalan nyesel…

Warung Bu Komang, Warung Makan Khas Bali di Jogja

Seringkali saya kangen masakan citarasa khas Bali. Nah, senang banget karena di Jogja ternyata ada warung makan dengan menu khas Bali. Namanya Warung Bu Komang.

Warung bu Komang berada di Jl. Pura Sorowajan No.201, Jomblangan, Banguntapan, Bantul. Menyediakan aneka menu Bali seperti nasi campur, urutan, sate, nasi jinggo, lawar, es daluman, dsb. Benar-benar mengobati rasa kangen akan menu masakan Bali yang selalu menggoyang lidah.

Rasanya juga enak, Bali banget, karena memang pemiliknya asli dari Bali. Jadi, di Jogja pun kita bisa menikmati nasi campur dan sate khas Bali. Bagi yang tidak makan babi jangan kuatir karena juga tersedia menu halal.

Pengunjung rata-rata mahasiswa, karena harganya juga bersahabat bagi kantong mahasiswa. Jam buka warung juga cocok untuk mahasiswa dan karyawan, buka mulai jam 09.00 pagi hingga 21.00 malam.

Selain rasanya enak, pelayanan juga cepat dan ramah. Tempat makan juga cukup luas dan nyaman walaupun sederhana. Cocok juga untuk acara makan bersama keluarga.

Kopi Babah Kacamata Salatiga, Kopi Robusta Indonesia Yang Mendunia

Wahai coffee lovers, kopi Babah Kacamata ini wajib jadi agenda shopping kamu di Salatiga.

Kopi Robusta yang sudah dijual sejak 1965 ini bahkan terkenal sampai ke mancanegara. Walaupun kopi bukan asli dari Salatiga, melainkan dari Pingit-Magelang, namun kopi ini diracik sendiri oleh pemilik usaha. Semua pengolahan berawal dari biji kopi.

Tidak ada rahasia dalam proses pengolahannya. Namun mungkin yang membuatnya istimewa adalah tungku yang dipakai masih menggunakan tungku pertama sejak awal pembuatan kopi Babah Kacamata ini.

Nama Babah Kacamata sendiri konon diberikan oleh para pelanggan, karena pengusaha pertama memang berkacamata. Saat ini penerus bisnis adalah anaknya. Sehari rata-rata bisa memproduksi dan menjual 100-200kg kopi. Luar biasa ya…

Kopi Babah Kacamata ini bisa ditemukan di hampir semua toko di Salatiga. Saya sendiri lebih sering membeli di pasar, di toko salah satu anak Babah Kacamata. Untuk toko asli dan pabriknya ada di Jl. Kalinyamat 16, Salatiga.

Kemasan 1 ons harganya hanya Rp. 7.500/bungkus. Sedangkan kemasan 2,5 ons harganya Rp. 18.000, untuk kemasan 1kg hanya Rp. 70.000 saja. Semuanya sudah dalam bentuk kopi giling halus.

Rasa pahit dengan aroma khas kopi Babah kacamata ini memang membuat ketagihan. So, wajib dicoba ya, cocok juga buat oleh-oleh bagi teman dan kerabat.

Bali Bird Park, Taman Burung Wisata Keluarga

Ini adalah salah satu wisata favorit saya, Bali Bird Park. Berlokasi di Jalan Serma Cok Ngurah Gambir Singapadu, Batubulan, Gianyar, Bali. Lokasinya dekat dengan Bali Safari Marine Park.

Mengunjungi Bali Bird Park bukan hanya melihat kecantikan ribuan burung-burung yang dirawat dengan baik. Tetapi mata juga dimanjakan dengan keindahan taman yang terdiri dari ribuan species dari berbagai daerah di Indonesia.

Tau nggak, taman burung ini berada di lahan seluas kurang lebih 2Ha. Ada sekitar 1000 burung dari 250 species berbeda, sebagian adalah burung langka. Demikian juga tamannya terdiri dari sekitar 2000 species berbeda. Wooow… Kebayang kan bagaimana indah dan berwarna-warninya taman burung ini.

Harga tiket domestik Rp. 140.000/dewasa dan Rp. 75.000/anak. Buka mulai jam 09.00-17.00 WITA.

Oya, jangan lupa minta brosur di loket ya, karena ada jadwal pertunjukan kerennya. Jangan sampai terlewat jam-jam pertunjukannya.

Jadwal atraksi dari Bali Bird Park
Perhatikan jadwal atraksi ya, karena seringkali kita terlalu asik dengan burung-burung ini sehingga lupa dengan pertunjukannya.

Beberapa atraksi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan adalah Basic Instinct, Lory feeding, Pelican feeding, Meet the Bird Star. Ada juga pemutaran film 4 dimensi dengan film yang berbeda-beda di setiap sesi pemutarannya. Semua ini bisa kita nikmati tanpa menambah biaya lagi.

Setelah dari loket, menuju ke taman, langsung terasa suasana alam menyapa. Kerindangan pohon-pohon besar dan hijaunya taman yang tertata indah. Banyak burung berwarna-warni hinggap di pepohonan, semuanya jinak dan terlihat sehat bahagia. Suara alam berbaur dengan kicauan bermacam-macam jenis burung. Rasanya damai.

Di bagian kiri berderet sangkar-sangkar besar denganburung-burung cantik. Ada papan nama yang menjelaskan dengan detail jenis species dan asal habitatnya. Lengkap dengan fotonya pula. Rapi dan komunikatif. Kita bisa belajar banyak di sini. Koleksi burung dalam negeri berasal dari Papua, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan dari luar negeri berasal dari Amerika Selatan dan Afrika Selatan.

Burung-burung cantik ini ramah dan terlatih sekali.

Berkeliling di taman burung, setiap spot menarik untuk diabadikan. Beberapa burung terlatih untuk berfoto bersama para tamu. Burung-burung ini indah warnanya dan jinak sekali, bersahabat dan mau berinteraksi dengan pengunjung. Namun jika jam makan, maka kegiatan ini akan dihentikan sementara. Memberikan kesempatan burung-burung makan dan istirahat.

Di beberapa lokasi bahkan burung-burung dibiarkan bebas berkeliaran dan terbang di pohon-pohon. Bisa berfoto dekat sekali dengan mereka walau tanpa pawangnya. Keren banget…

Di area taman juga terdapat bangunan rumah adat Toraja bernama Tongkonan. Rumah panggung dengan atap melengkung menyerupai perahu, terbuat dari susuan bambu. Rumah adat ini terawat baik dan berbaur serasi dengan sekitarnya.

Tamannya juga memiliki tema untuk masing-masing area.

Dinamakan dengan nama propinsi sesuai habitat burung dan tanaman yang berada di dalamnya. Saya terpesona dengan burung-burung pelikan yang bermain air di kolam kecil. Burung-burung berbulu putih ini memang menawan.

Lelah berkeliling, kita bisa menikmati gelato di Rainforest Cafe. Tersedia beberapa pilihan minuman dan snack selain es krim. Sementara Dine & Shop Restaurant menyedikan menu lengkap dan terletak di bagian depan dekat pintu masuk.

Saran saya, sebaiknya datang ke tempat ini pagi. Sehingga bisa menikmati semua atraksi, juga bisa explore taman sepuasnya.

Stonehenge-Monumen Batu Kuno Merapi

Tak perlu jauh-jauh ke Inggris untuk dapat menikmati monumen Stonehenge yang keren ini.

Jogja juga punya dengan nama yang sama, Stonehenge. Berada di lereng Merapi, hanya 5 menit dari lokasi The Lost World Castle. Bonusnya view alam pegunungan plus udara bersih yang kaya oksigen. Tentu saja semua ini tak boleh dilewatkan.

Jarak dari Jogja sekitar 30 km dan dapat ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Saya mencoba dengan motor, aman dan jalannya bagus. Ambil jalur menuju Kaliurang, saya memilih lewat Merapi Golf dan melewati The Lost World Castle. Menurut saya jalan ini paling aman dan mudah dilewati.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/the-lost-world-castle-kastil-epic-di-lereng-merapi/

Saran saya jika jalan sendiri sebaiknya pelajari dulu map nya ya. Kalau pakai GPS atau google map seringkali malah diajak melewati jalan-jalan kecil yang aneh bin ajaib. Walau memang diajak melalui jalan yang sepi namun medannya kadang-kadang sulit dilalui. Misalnya, jalan dengan medan berbatu-batu besar. Alhasil jadi lebih jauh dan lama untuk sampai ke lokasi… huhuuuuu… GPS memang suka banget bikin galau.

Stonehenge ini terletak di jalur Wisata Jeep Merapi, sehingga cukup sering berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Tiket masuk Rp. 10.000 saja, rasanya terhitung cukup mahal juga karena tidak banyak yang ditawarkan selain monumen batu.

Nah, kalau mau mendapatkan hasil foto yang bagus, sebaiknya sampai lokasi ini pagi hari. Dengan pencahayaan matahari pagi yang tidak terlalu terang hasilnya bisa lebih smooth. View gunung Merapi sebagai background akan terlihat keren banget apalagi dengan sinar keemasan matahari pagi. Bahkan  akhir-akhir ini lokasi wisata Stonehenge semakin banyak dipakai untuk foto prewed. Hasil fotonya pasti unik dan keren. Mau coba?