Nikmatnya Ayam Goreng Mbah Cemplung, Kasongan, Jogja

Ayam goreng Mbah Cemplung. Namanya unik ya, dan kehebatan rasanya sudah kondang kemana-mana.

Awalnya saya penasaran membaca testimoni para pembeli. Karenanya, saya menyempatkan diri suatu siang untuk mencicipi kedahsyatannya. Lumayan jauh juga, karena lokasinya berada di desa wisata Kasongan. Sengaja nggak sarapan paginya biar bisa menikmati makan dengan semangat 45, eh…

Sampai di rumah makan ternyata masih agak sepi pengunjung karena memang belum jam makan siang. Namun ketika saya sudah selesai makan tamu mulai ramai berdatagan. Baik berdua, bersama keluarga maupun rombongan kantor.

Ada dua outlet Ayam Goreng Mbah Cemplung di area ini, keduanya berhadapan, masih dengan pemilik yang sama. Rumah pertama adalah outlet asli yang pertama, rasanya saya lebih suka mencoba makan di sini. Saya memilih tempat duduk yang cukup nyaman dan strategis. Bisa melihat-lihat sekitar dari sudut ini.

Meja kursi kayu ditata dengan cara lama, khas warung makan tempo dulu.

Meja kayu panjang, lengkap dengan bangku yang panjang. Model lama dan kuno. Semuanya berasa klasik, masih seperti aslinya dulu. Beberapa foto mbah Cemplung diabadikan dalam pigura dan terpasang di dinding.

Saya menuliskan pesanan makanan, ternyata pelayanannya cepat juga. Tak menunggu lama dan taraaaa… pesanan telah datang. Diawali dengan jamu beras kencur, rasa kencurnya nendang banget. Hangat di tenggorokan, hangat di badan dan rasanya segar sekali.

Lalu hidangan utama pun siap dinikmati. Potongan ayam gorengnya besar-besar euy, mantap pisan. Saya juga memesan sayur terong pedas dan oseng-oseng daun pepaya. Wah… rasa-rasanya ini porsi yang bisa dihabiskan untuk berempat. Hohoho…

Oya, sambal bawangnya benar-benar luar biasa level pedasnya. Cocok bagi pencinta pedas, dijamin berkeringat dan megap-megap. Bagi yang kurang suka pedas sebaiknya tidak usah memesan sambel tambahan ya.

Ayam Goreng Mbah Cemplung, Kasongan
Harga per potong ayam Rp. 15.000-Rp. 45.000
Harga ayam utuh Rp. 100.000-180.000
Beras kencur Rp. 6000

Buka 08.00-19.00 WIB

Wisata Edukasi dan Belanja di Secret Garden, Bedugul

Bedugul bukan hanya menawarkan wisata alamnya yang indah dan sejuk. Banyak tempat wisata bernuansa alam yang menarik di sana.

Salah satu tujuan wisata yang menawarkan pengetahuan budaya tradisional perawatan tubuh yang mengedukasi adalah Secret Garden. Terletak di Jalan Raya Bedugul Km. 36, di sisi kanan jalan raya bila berangkat dari arah Denpasar.

Lokasinya cukup mudah ditemukan karena bangunannya unik. Hasil karya Andra Martin, arsitektur terkenal yang banyak andil dalam berdirinya beberapa bangunan terkenal di Bali. Penataan taman dan bangunan indah dan banyak spot foto kekinian. Sejak pintu masuk kita sudah disuguhi dengan cantiknya ornamen yang tertata serasi.

Setelah membayar tiket di loket sebesar Rp. 50.000/WNI dan Rp. 100.000/WNA, kita akan dipandu seorang guide dalam satu kelompok kecil. Jadi harga tiket yang cukup mahal ini sudah include dengan guide ya gaes. Guide akan memandu dan menjelaskan segala hal selama tour.

Tour ini dimulai dengan mengunjungi museum, pabrik pembuatan produk Herborist, pemutaran film dan kemudian belanja produk. Mengapa produk Herborist? Karena Secret Garden ini adalah showroom dan edukasi dari produk Herborist.

1. Museum

Museum ini bernama Beauty Heritage Museum. Terdapat berbagai peralatan meramu jamu dan produk kecantikan kuno. Walau pun kecil namun unik dan menarik penataannya. Bahkan ada becak di dalamnya. Kesan yang ditangkap adalah museum yang kekinian dan tidak membosankan.

2. Pabrik

Pabrik Oemah Herborist ini satu-satunya lokasi dimana kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Tas dan HP kita disimpan di loker yang disediakan. Dan kita semua wajib memakai jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik seperti penutup sepatu dan kepala.

Sebelum masuk ke pabrik, kita diberikan kesempatan berfoto 3D lengkap dengan jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik. Diberikan kesempatan 2-3 kali bergaya , dan bisa dipilih salah satu foto terbaik untuk dicetak. Tentu saja dengan mengganti biaya cetak.

Pabriknya tidak terlalu besar, sehingga tidak memerlukan waktu lama berkeliling. Guide tetap setia menemani dan menjelaskan setiap pertanyaan kami.

3. Belanja Produk

Setelah berkeliling pabrik, kita diajak menikmati sebuah film pendek. Ruangannya tidak terlalu besar, muat untuk sekitar 40-50 orang. Film ini berdurasi tidak lebih dari 10 menit. Berisi penjelasan produk premium unggulan Herborist.

Kemudian, barulah kita mulai berkeliling toko dan berbelanja. Semua produk komplit dan tersedia dalam tatanan dan pencahayaan yang menarik. Mulai dari produk umum sampai yang premium yang jarang kita temukan di toko atau supermarket.

Produk kecantikan seperti berbagai macam perawatan mandi, perawatan badan, rambut, parfum, berbagai macam minyak massage, semua ada. Favorit saya di bagian sabun, parfum dan produk premium.

Di section produk premium, didemokan pemakaian produk andalan anytime by request. Tentu saja saya tidak menolak untuk menjadi relawan percobaan lulur. Tangan jadi halus dan wangi. Karyawatinya juga ramah dan helpfull, mampu menjelaskan produk dengan baik.

Harga jual produk memang lebih murah daripada harga umum. Jadi kalau memang sehari-hari menggunakan produk Herborist, sebaiknya sekalian memborong beli banyak untuk stock di rumah. Counter kasir juga cukup banyak sehingga tidak perlu antre lama.

4. Kafe & Restoran

Salah satu hal yang menjadi daya tarik adalah tersedianya tempat makan yang mewah dengan view indah.

Setelah capek berkeliling dan belanja, kita bisa menikmati secangkir kopi nikmat. Banyak pilihan kopinya. Bahkan terdapat juga museum kopi lengkap dengan beragam koleksi peralatannya. Eh, ada juga luwak hidup di kandang di samping resto.

Resto juga berkesan mewah dengan karena arsitekturnya yang keren. Terasa nyaman banget untuk bersantai. Udara dingin dan segar serta view cantik membuat tamu betah berlama-lama di sini.

Sayang sekali saat berkunjung saya sudah terlalu sore. Sebagian waktu untuk tour dan belanja, sehingga ketika sampai resto ternyata sudah tutup. Hari sudah malam dan hanya bisa menikmati kopi sebentar saja.

So, saran saya, waktu yang tepat berkunjung adalah setelah jam makan siang. Bisa menikmati waktu lebih panjang untuk tour, belanja dan menikmati sunset sambil seruput kopi.

Wisata Edukasi Biota Laut Bangsring Underwater (BUNDER), Banyuwangi

Banyuwangi kini menjadi salah satu tujuan wisata alam yang makin diminati.

Salah satunya adalah wisata edukasi dan biota laut yang menarik, Bangsring Underwater atau dikenal dengan nama BUNDER. Lokasinya agak masuk dari jalan besar, bisa dicapai dengan shuttle. Cukup membayar Rp. 10.000/orang untuk rombongan.

Harga tiket masuk ke BUNDER juga murah sekali, hanya Rp. 3.000/orang. Sedangkan untuk berbagai aktifitas, harga tiket bervariasi mulai dari Rp. 5.000. Tersedia juga sewa untuk camera underwater.

Bangsring Underwater menawarkan eksotisme wisata pantai dan edukasi yang unik. Suasana segar angin laut dan rimbunnya pepohonan langsung menyapa kita di gerbang masuk.

Garis pantainya juga panjang, namun teduh oleh pepohonan yang tumbuh di tepi pantai. Air lautnya tenang, tanpa gelombang besar, jernih dan masih alami sekali. Beberapa potongan pohon tergeletak di tepi pantai, bisa untuk duduk-duduk santai. Walaupun banyak juga pondok-pondok kecil semacam bale bengong untuk berteduh.

Lokasi ini juga dilengkapi dengan warung yang menyediakan beberapa menu. So, Nggak perlu takut kelaparan. Terdapat juga deretan kamar mandi dan toilet. Kamar mandinya bersih dan air terus mengalir.

Aktifitas yang Bisa Dilakukan di BUNDER

Ada dermaga kecil yang bersih dan cantik dimana perahu siap mengantar kita ke rumah apung. Rumah apung ini tidak terlalu besar, namun lengkap dengan ruang ganti dan meja kursi untuk menikmati suasana. Bahkan ada cafe kecil juga.

BUNDER memang luar biasa. Karena di sini ada juga Klinik Hiu, tempat penyembuhan hiu-hiu sakit dan bermasalah. Bahkan mereka memiliki Fish Apartment. Sebagai bentuk kepedulian terhadap terjadinya kerusakan ekosistem dan bertujuan untuk mengembalikan kekayaan sumber daya ikan.

Nah, sebagai bagian dari edukasi, Marine Education juga mengajak wisatawan untuk mencintai laut dan seluruh isinya. Wisatawan diajak belajar untuk menjaga ekosistem laut, salah satunya dengan menanam terumbu karang.

Di rumah apung ini kita bisa snorkeling dan diving dan bermain dengan ikan-ikan warna-warni yang cantik. Airnya cukup bening dan ikannya banyak sekali bermain di sekitar rumah apung. Peralatan snorkeling juga sudah tersedia di sini, jadi tinggal siapkan baju renang saja dari rumah.

Atau, jika cukup bernyali, bisa menerima tantangan berenang bersama baby shark. Clue nya sih, selama kita tidak menyentuh baby shark akan aman-aman saja, hihihi… Lagipula hiu nya masih kecil-kecil kok, namanya juga baby shark kaaannn… Dan, ada pawangnya juga, jadi aman dah… Berani?

Selain aktifitas di atas, kita bisa mengunjungi pulau Menjangan dan Pulau Tabuhan, pulau kecil di Banyuwangi yang terkenal keindahannya. Aktifitas watersport seperti jet sky, banana boat, kano & padle juga bisa dilakukan selain snorkeling dan diving. Ah iya, ada kita juga bisa mengunjungi hutan mangrove, keren kan..

Homestay

Melihat banyaknya aktifitas yang bisa dilakukan di BUNDER, rasanya perlu menginap ya kalau ingin puas mengeksplore semuanya.

Homestay yang tersedia juga bergaya natural, dengan bahan bangunan kayu dan bambu. Rasanya menyatu dengan alam. Harganya juga tidak terlalu mahal, di kisaran Rp. 250.000 an per malam. Layak untuk dicoba ya…  Cuma, mesti siap-siap baju hangat, karena semestinya jika malam hari angin pantai akan berhembus cukup kencang.

Banyuwangi, kota di ujung Jawa Timur ini terus berbenah untuk menghidupkan geliat pariwisatanya. Makanya, rugi banget kalau nggak disempatkan menikmati keindahan alami pantainya.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/benculuk-hutan-lord-of-the-ring-di-banyuwangi/

Pantai Yeh Gangga dan Pura Batu Bolong di Tabanan yang Sakral

Bali memang kaya dengan pantai indah. Salah satunya adalah Pantai Yeh Gangga, pantai cantik yang masih jarang dikunjungi wisatawan.

Lokasinya di Tabanan, bisa searah saat mengunjungi Tanah Lot dan Taman Ayun. Tiket masuk masih free, hanya membayar parkir saja Rp. 2000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Hari itu ketika saya menikmati sore di pantai, saya terpukau melihat beberapa orang asing sedang membersihkan pantai dari sampah. Terharu dan malu bercampur dalam hati.  Betapa orang asing begitu peduli akan keindahan dan kebersihan pantai ini. Lalu, mengapa kita justru sering mengabaikan dan mengotori anugrah alam yang indah ini?

Pantai Yeh Gangga mempunyai garis pantai yang panjang, dengan pasir lembut berwarna gelap. Di sekitarnya terdapat beberapa hotel besar dan mewah. Sepertinya semakin berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini.

Ada beberapa aliran anak sungai yang bermuara di pantai, menambah keindahan pantai ini.

Menurut saya, pantai ini menarik karena masih alami, tidak banyak pengunjung disana. Kebetulan, saat saya mengunjungi pantai, di bagian Timur pantai sedang ada persiapan upacara.

Sedangkan di ujung Barat, sedang bersiap anak-anak TK menari dalam acara pelepasan sekolah. Lucu-lucu sekali mereka ini dalam dandanan adat Bali dan siap pentas. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan semua sore ini.

Pura Batu Bolong

Di ujung Barat Pantai, terdapat batu karang unik karena berlubang di bagian tengahnya. Dari kejauhan lubang berbentuk seperti hati, unik kan.

Di atas batu karang ini terdapat sebuah pura. Namanya Pura Batu Bolong. Memang di sini sering digunakan untuk upacara Melasti dan pelepasan abu kremasi saat Ngaben.

Warung Tulus Lobster

Daya tarik lain pantai ini adalah Warung Tulus Lobster yang terletak persis di tepi pantai. Dilengkapi dengan bean bag (bantal pantai) yang nyaman untuk menikmati sunset. Benar-benar memanjakan pengunjung untuk menikmati sunset.

Rasanya menghabiskan malam di sini juga romantis karena banyak terdapat lampu-lampu cantik betebaran. Berasa di La Pancha Seminyak, namun suasananya lebih tenang. Tak perlu antre atau booking untuk mendapatkan tempat duduk.

Pantai yang cocok untuk wisata keluarga

Pantai yang luas, bersih dan jauh dari keramaian ini memang nyaman sebagai tempat menghabiskan senja. Rasanya menyenangkan berjalan-jalan tanpa harus selalu berpapasan dengan pengunjung lain.

Perahu nelayan berderet berlabuh di tepi pantai. Beberapa nelayan sedang memeriksa jaring. Bersiap untuk berlayar mencari ikan esok subuh.

Sementara anak-anak berlarian di pantai, bermain dengan riangnya. Semua melengkapi kesan tentang kenangan sebuah pantai alami yang penuh kehidupan.

Hutan Pinus Becici, Lokasi Sempurna Menjauh dari Rutinitas

Mencari keteduhan dan kedamaian? Ayuk ke Hutan Pinus Becici di Bantul.

Hutan Pinus Puncak Becici tepatnya berada di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ambil arah menuju ke Gunungkidul dari terminal Prambanan. Jalan bisa dilalui bus, namun agak menanjak dan banyak tikungan. Harus hati-hati karena ada jurang di satu sisi.

Hutan pinus ini luas dan cocok untuk wisata keluarga maupun gathering. Bagi yang menyukai wisata alam, pasti akan jatuh cinta dengan pemandangan yang memikat hati. Udara segar, pohon pinus berderet cantik dan view luar biasa dari ketinggian.

Bahkan sejak masih di parkiran, kita sudah bisa mencium aroma pinus di udara. Memandang pohon pinus berderet rapi membuat kantuk hilang.

Tiket masuk Hutan Pinus Becici Rp. 2.000-2.500/orang. Parkir motor Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000.

Aktifitas di Hutan Pinus Puncak Becici

Kesejukan hutan pinus ini dilengkapi dengan berbagai spot kekinian untuk ber-swafoto. Tersedia pula aula untuk acara-acara kebersamaan dan camping ground bila ingin berkemah.

Harga camping ground Rp. 15.000/orang/hari. Bagi yang tertarik untuk sesi foto prewed di sini pun bisa. Harganya juga tidak mahal. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 200.000 saja.

Ada spot yang sangat menarik bagi anak-anak. Hammock.

Semacam kantong ayunan dari kain untuk tiduran atau bersantai yang diikatkan ke dua batang pohon. Sewanya Rp. 10.000 saja per orang, sepuasnya. Wah… saya juga betah bersantai di hammock ini lama-lama, hahaha…

Gardu pandang di puncak bukit juga sangat indah.

Kita bisa bersantai di sana menikmati kota Jogja dari ketinggian. Atau tentu saja, mengambil foto-foto cantik. Hanya saja akan ramai sekali saat musim liburan, sehingga harus antre untuk berfoto. Jangan lama-lama juga ya, kasihan mereka yang menunggu giliran foto.

Lapar? No worries. Ada banyak warung kecil yang menjajakan berbagai makanan dan minuman. Jadi kalau lapar atau haus, bisa membeli di salah satu warung yang berderet di dekat pintu masuk.

Harga makanan juga tidak mahal, standart untuk ukuran tempat wisata. Walau menurut saya, warung ini kurang tertata rapi sehingga malah terkesan kumuh dan tidak match dengan lingkungan asri hutan pinus. Sayang ya…

Uji Adrenlin di Gumuk Reco Sepakung

Salah satu wisata uji nyali yang pernah saya kunjungi adalah Gumuk Reco, di Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Saya berkunjung bersama beberapa teman di akhr tahun 2017, sudah cukup lama ternyata ya…

Perjalanan menuju ke lokasi ini memang  seru dan penuh perjuangan. Salah satunya adalah karena kami salah memilih jalan yang lebih sempit dan banyak tikungan tajam. Jalan naik turun yang curam hingga 45 derajat. Apalagi saat itu cuaca mendung, jadi agak dag dig dug juga kalau hujan turun.

Beruntung teman yang menyetir sudah sangat ahli sehingga kami bisa sampai dengan selamat ke lokasi. Hanya saja pulangnya kami memilih jalan yang berbeda yang jauh lebih aman. Kapok lewat jalan pertama, hahaha…

Ketika itu, loketnya masih sederhana sekali. Namun pintu masuk ke lokasi langsung menarik mata saya. Unik sekali tatanan cabang2 pohon kering ini.

Keseruan Aktifitas

Jalan setapak dari loket sudah di semen, dengan pemandangan hutan pinus di kiri dan kanan jalan. Teduh. Ada beberapa spot untuk duduk-duduk menikmati suasana. Juga tempat-tempat selfi cantik. Walau agak ngeri-ngeri sedap juga ketika mencoba berfoto di atas sarang burung raksasa yang menggantung begitu saja di bibir tebing.

Rumah Pohon dan Jembatan Kepompong dari kayu juga menarik untuk dicoba. Bisa dapat view keren dari atas rumah pohon.

Tapi yang paling menggetarkan jiwa dan membuat jantung mau copot adalah mencoba Ayunan Langit.

Safety first tetap yaaa gaeeess, semua pakai pengaman dan telah diuji untuk berat maksimal kok. Aman sih, tapi tetap saja saya berteriak sekuat jiwa raga dan sepenuh hati begitu mulai diayun. Hwaaaaaaaa…. ternyata sensasinya tak terlukiskan kata-kata.

Kemudian ketika mulai tenang, saya mesti pasang senyum untuk sesi foto sambil berayun. Duilaaahhh… muka pucat dan jantung copot begini mesti pasang muka syantiiikk… huuuffttt… Beruntung saya sudah pesan dengan sangat supaya jangan terlalu keras diayun. Takut kalau rok saya lepas, hihihi…

Btw, dengan semua kekurangan karena memang saat itu lokasi masih dalam pengembangan wisata, lokasi ini unik dan menarik untuk dikunjungi. View di ketinggian memang cantik. Perpaduan hutan pinus dengan tebing coklat di sekitarnya sungguh kontras.

Namun saya tidak merekomendasikan wisata Gumuk Reco untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Andai terpaksa diajak, harus dengan pengawasan ekstra. Karena tebing-tebingnya curam, dan belum diberikan pagar yang cukup kokoh. Daripada kita tidak bisa menikmati keindahan cantik ini, lebih baik memang tidak membawa anak-anak di bawah 12 tahun.

Tiket masuk Rp. 5.000,00 dan tiket ayunan langit serta jembatan kepompong @Rp. 10.000. Harga sudah termasuk safety equipment.

Sekarang sudah ada tambahan wahana baru Ondo Langit, sehingga bisa menikmati sensasi memanjat tebing curam di salah satu sisi wisata.

Saran saya kalau ke sini kendaraan harus benar2 prima dan driver pengalaman. Naik motor juga bisa, asal memang sudah mahir mengendarai.

Jangan salah ya, wisata di Gumuk Reco ini sudah semakin banyak dicari wisatawan loh…. Jadi sebaiknya datang pagi, bisa mendapatkan udara yang lebih segar dan belum terlalu padat pengunjung.

Ekowisata Subak Sembung, Menikmati Segarnya Persawahan di Kota Denpasar

Dengan rasa penasaran, Sabtu pagi kemarin, saya bergegas menuju lokasi Ekowisata Subak Sembung.

Sejak dua hari sebelumnya saya sudah meng-iyakan janji untuk bertemu sobat lama di sana. Rencananya sih pengen ketemuan sambil ngobrol dan jalan-jalan sehat di pagi hari sambil menghirup udara segar persawahan.

Apa daya mata ini tak mau diajak kompromi untuk bangun pagi. Semalam pulang tengah malam keasikan nonton Festival Lampion di Nusa Dua. Jadilah saya kesiangan pagi ini. Apalagi langit masih gelap sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Duh, beratnya membuka mata ini.

Karena belum pernah ke lokasi, saya mesti mohon petunjuk mbah Google. Ternyata dekat sekali, hanya 12 menit menuju ke sana. Jadi langsung cuusss…

Sampai di sana sobat saya dan keluarganya sudah bersantai di warung dekat loksi parkir. Sedang menikmati soto dan minuman segar setelah berjalan-jalan menyusuri persawahan. Jadi, saya terlambat untuk sesi jalan pagi. Baiklah…

Jalan-Jalan di Ekowisata Subak Sembung

Setelah mengobrol dan janji bertemu lagi, saya memutuskan untuk explore sendirian di area ekowisata. Memang sudah terlalu siang, karena sudah pukul 10 lebih. Cuaca agak mendung dengan awan bergumpal di atas.

Panas? Tetap. Tapi keuntungannya adalah sepi pengunjung. Jadi saya bisa sepuasnya explore dan memotret tanpa gangguan. Hepi? Bangeettt…

Menarik bahwa ekowisata ini terletak di pinggiran kota Denpasar.

Tepatnya di kawasan Peguyangan, Denpasar Utara. Dengan areal seluas kurang lebih 115 ha dan didukung oleh 200 an orang petani, sawah ini berproduksi setiap tahun. Betapa beruntungnya, tak harus jauh-jauh ke Jatiluwih untuk bisa menikmati asiknya berjalan-jalan di area persawahan.

Gerbang masuknya sederhana saja, alami. Saya menyusuri jalan paving di tepi aliran air irigasi. Airnya bening dan segar. Di kiri kanan berjajar bentangan persawahan luas.

photo credit by christi laksita

Ada juga beberapa tanaman sayur semusim selain padi seperti cabai dan bawang.

Hanya tinggal satu dua petani yang masih bekerja. Kebetulan pula sebagian sawah baru saja dipanen, jadi saya tidak mendapatkan banyak foto persawahan hijau.

Walau sudah hampir habis padi yang menghijau, tetap saja menarik mengabadikan pemandangan alam ini. Suara musik bambu terdengar mengalun setiap hembusan angin. Gemericik air menenangkan hati. Ratusan burung kecil mencari sisa-sisa bulir padi yang tertinggal saat panen. Puluhan bebek bermain lumpur mencari makan. Semua melengkapi keindahan area persawahan yang terbentang luas di hadapan saya.

Entah kenapa, semua tampak begitu asri dan sempurna. Bahkan warna coklat tanah berlumpur dan batang padi kecoklatan tampak serasi. Dikelilingi rumput dan gulma aneka warna. Tanaman merambat maupun tanaman liar, semua tumbuh subur, menghijau dan berbunga cantik.

Jalan setapak berpaving juga bersih dan rapi.

Pejalan kaki bisa menikmati suasana dengan santai. Di sana sini terdapat canang sesajen.

Dan sebuah patung Dewi Sri yang cukup besar dan cantik. Dewi Sri, adalah dewi padi dan sawah, lambang kesuburan di Jawa dan Bali.

Area Ekowisata Subak Sembung ini memang terjaga kebersihannya.

Disediakan tempat sampah dan banyak rambu-rambu peringatan untuk selalu menjaga kebersihan.

Ada juga balai tempat berteduh dan duduk-duduk melepas lelah. Beberapa gubuk sawah kecil, dan bangku kecil. Saya merasa nyaman saja duduk di jalan paving yang bersih ini.

Betapa saya tak ingin pergi dari tempat ini. Sebagai petani yang tak punya sawah, saya memang selalu jatuh cinta dengan segala yang tumbuh dari tanah. Bermimpi suatu hari bisa menjadi petani sejati yang memiliki sawah sendiri.

Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir, saya bertemu dengan anak-anak yang bermain-main di sawah. Mereka lucu dan ramah, dan mau saya foto. Betapa bahagianya mereka , tanpa beban. What a lovely day…

Bertabur Ribuan Cahaya Lampu di Nusa Dua Light Festival

Ada yang seru di Nusa Dua, yang membuat saya rela berkendara selama 2 jam ke sana.

Weekend ini saya berkesempatan menikmati ribuan cahaya lampu di Nusa Dua Light Festival (NDLF), Bali. Nusa Dua Light Festival ini merupakan agenda tahunan dan tahun ini adalah yang keempat kalinya diadakan di tempat yang sama.

Saya bertiga dengan teman meluncur ke Nusa Dua sore itu berharap-harap cemas cuaca cerah sepanjang sore hingga malam. Festival lampion ini resmi dibuka 30 Mei 2019 dan berlangsung hingga 14 Juli 2019. Kami berharap masih belum terlalu penuh pengunjung sehingga bisa leluasa mengambil foto.

Diawali dengan Sunset di Nusa Dua Beach

Sesampai di Nusa Dua, kami mencari tempat parkir terdekat agar tidak terlalu jauh berjalan. Saat sampai, karena masih sekitar jam 6 sore, langit masih terang. Semburat warna merah oranye keemasan mulai muncul, saatnya matahari kembali ke peraduan. Warnanya cantik sekali. Sunset will coming soon.

Lalu, pantai berubah menjadi warna pink oranye keemasan, gemeees sekali. Tak tahan untuk tidak mampir pantai dan mengabadikan keindahannnya. Area festival ini memang berada di tepi pantai. Jadi double serunya.

Melihat-lihat kompleks Nusa Dua yang megah dan mewah plus menikmati keindahan sunset di pantai Nusa Dua. Tentu saja yang utama adalah menikmati keindahan ribuan lampu yang ditata indah. Ah, Bali memang selalu mempesona.

Terhampar di area seluas 7 hektar are, Nusa Dua Light Festival 2019 ini bertemakan “The Mountain View”.

Hal pertama yang menarik mata adalah lorong taman berdaun hijau, dimeriahkan burung-burung warna-warni beterbangan di atas lorong. Di kiri kanan lorong terdapat hamparan kebun bunga mawar, kebun bunga tulip, kebun buah dan ladang gandum.

Sesuai tema, di tengah area berdiri dua gunung kembar dengan matahari besar di tengahnya. Bahkan ada berbagai beberapa bangunan rumah bercahaya. Semuanya terbuat dari ribuan lampu berwarna-warni yang bercahaya indah dalam kegelapan.

Rasanya seperti berada di negeri dongeng. Kami mencoba berbagai cara dan teknik untuk mendapatkan hasil foto terbaik. Menjadi sebuah hiburan tersendiri karena hasilnya seringkali membuat kami tertawa geli melihat kekonyolan diri sendiri.

Selain ribuan lampu indah ini, ada juga Kids Playground. Dilengkapi dengan permainan Helikopter Mini, Euro Bungee, Kereta Mini, Trampolin, Rumah Balon dan Rumah Kelinci. So, jangan kuatir bagi yang ingin rekreasi bersama keluarga ya, pasti si kecil juga betah bermain lama-lama di sini.

Lapar? Nggak perlu keluar area, karena tersedia banyak pilihan kuliner. Stand makanan aneka pilhan berderet di sisi kiri pintu masuk. Bisa menikmati makan sambil memandang keindahan seni luar biasa ini.

Oya, pada tanggal 13-14 Juli 2091 penutupan Nusa Dua Light Festival ini akan dimeriahkan dengan penyelenggaraan Bali Blues Festival (BBF). Menghadirkan artis-artis nasional seperti Gugun Blues Shelter feat Emmy Tobing, Balawan, Gus Teja, Endah n Rhesa, juga dimeriahkan band lokal dan artis pendukung.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk untuk domestik weekday Rp. 30.000, weekend Rp. 35.000. Sedangkan tiket masuk untuk wisatawan asing weekday Rp. 75.000 dan weekend Rp. 100.000. Buka mulai pukul 16.00-22.00 WITA. Nah, yang keren nih, tiket bisa dibeli secara online di Traveloka, Gojek, Loket dan Tokopedia. Atau bisa dibeli langsung di tempat.

Kemudian untuk tiket permainan di dalam area Kids Playground-Nusa Dua Light Festival berkisar antara Rp 10.000 – Rp. 25.000 sesuai jenis permainan. Permainan Helikopter Mini, Kereta Mini, Rumah Balon dan Rumah Kelinci aman untuk anak usia 3 tahun ke atas. Namun permainan Euro Bungee dan Trampolin dibatasi untuk anak usia 6 tahun ke atas.

Berdasar pengalaman, saran saya, sebaiknya berkunjung lebih sore sekitar pukul 5 sudah di lokasi. Sehingga bisa menikmati suasana sebelum gelap. Hasil foto saat pencahayaan sore apalagi saat sunset lebih indah dan romantis. Please try…

Sekumpul Waterfall, Keindahan Ganda Sekumpulan Air Terjun di Buleleng, Bali

Air terjun, siapa yang tak suka menikmati keindahannya?

Air terjun, wisata alam cantik yang seringkali  membutuhkan energi untuk menikmatinya. Karena lokasinya yang sebagian besar tersembunyi dan sulit dicapai.

Kali ini saya dan beberapa teman berombongan mbolang ke Sekumpul Waterfall di Buleleng dengan motor. Perjalanan melalui rute Bedugul yang berliku naik turun. Udara pegunungan yang dingin dan segar menghibur saya.

Area parkir mobil cukup jauh dari air terjun.

Sesampainya di sana, ternyata area parkir mobil masih jauh dari air terjun. So, jika naik mobil, ada dua alternatif untuk sampai ke loket ticketing. Dengan naik ojek atau berjalan kaki.

Kebanyakan wisatawan asing memilih berjalan kaki. Tapi rata-rata wisatawan domestik memilih naik ojek. Beruntung kami naik motor sehingga bisa langsung menuju ticketing.

Jalan menuju ke loket ticketing berkelok dan sempit.

Jalan menuju ticketing sempit, hanya bisa dilalui satu motor. Menegangkan juga karena berkelak-kelok dengan jurang di satu sisi. Jika kebetulan berpapasan dengan pengendara motor dari arah berlawanan, salah satu harus mengalah. Sport jantung, uuuhhh… deg-deg an sangaaadd…

Dari area parkir motor, kita masih harus berjalan sekitar 200m ke loket ticketing. Di sini tersedia pula toilet yang bisa digunakan untuk ganti baju. Namun sayang kurang terawat, kurang bersih dan gelap.

Nah, kalau kelaparan, nggak perlu kuatir. Terdapat juga warung kecil untuk istirahat dengan menu sederhana. Tentu saja ada Indomie sebagai menu favorit.

Holy Water Spring, alternatif pertama air terjun

Setelah membeli tiket, di area kanan ticketing ada air terjun kecil, namanya Holy Water Spring. Airnya tidak terlalu dalam, bersih, jernih, segar.  Aman dan cocok untuk anak-anak berenang dan bermain santai.

Jika ingin yang lebih menantang, ambil jalan ke bawah menuju air terjun. Ada ratusan anak tangga yang harus kita turuni untuk menuju ke Sekumpul Waterfall. Sebagian jalannya masih berupa tanah, sebagian lagi berupa anak tangga semen. Cukup curam jadi mesti hati-hati ya, tetap fokus pada jalan. Walau menurut saya cukup aman karena ada pagar di kiri kanannya. 

Saya turun pelan-pelan dan banyak berhenti tergoda spot-spot cantik. Sayang nggak bawa camera, jadi harus cukup puas dengan HP.

Keindahan beragam air terjun di sepanjang perjalanan

Di sepanjang perjalanan banyak air terjun kecil yang cantik yang saya temukan. Juga jembatan-jembatan yang menggoda untuk diabadikan.

Jembatan penghubung ke Gombrong Waterfall dan Fiji Waterfall juga keren loh. Bisa jadi alternatif spot foto yang amazing.

Banyak juga ya air terjun di area ini, pantas saja namanya Sekumpul Waterfall. Baru kali ini saya mengunjungi area wisata yag penuh dengan air terjun menakjubkan. Ah, air terjun  memang selalu penuh pesona. Sayang saya tidak sempat menikmati semuanya.

Sekumpul Waterfall, air terjun yang amazing

Sampai juga akhirnya ke tujuan utama. Mata langsung terbuka lebar ketika sampai di Sekumpul Waterfall. Air terjun ini memang luar biasa menakjubkan.

Nggak rugi berlelah-lelah sampai ke sini. Amazing banget lihat sekumpulan air terjun berkumpul dalam satu lokasi. That’s why namanya Sekumpul Waterfall.

Airnya terasa dingin namun menyegarkan setelah berpanas-panas dan berjalan jauh. Tak bisa tidak, harus mandi dan berbasah-basah kalau sudah di sini. Hanya saja lebih hati-hati berjalan di kolam air terjun. Ada banyak lumut sehingga bebatuan cukup licin terasa di kaki.

Perjuangan kembali menaiki anak tangga menuju tempat parkir

Baliknya, OMG… sungguk-sungguh perjuangan. Mendaki tangga yang sama satu per satu dengan sisa-sisa tenaga itu sesuatu banget. Berasa lebih berat medannya dibandingkan mendaki Kawah Ijen, hahaha…  Nafas habis ketika sampai kembali di ticketing.

Akhirnya, memang harus beristirahat sebentar di warung sederhana ini untuk memulihkan energi. Bersyukur banget ada warung kecil penyelamat ini. Ibu pemilik warung juga ramah dan mau melayani semua permintaan. Dan kami duduk-duduk minum dan mencicipi menu seadanya. Coffee is the best choice for recovering energy, don’t you?

Menurut saya, lebih seru jika saat datang langsung eksplore turun ke air terjun. Setelah puas bermain air, baru kembali dan berbilas di Holy Water Spring. Airnya lebih hangat dan jernih. Bisa menghilangkan rasa lelah setelah menaiki ratusan anak tangga.

Benculuk, Hutan Lord of The Ring di Banyuwangi

Bagi para pencinta buku dan film Lord of The Ring, inilah tempat yang harus dikunjungi. Hutan kota Banyuwangi yang dilindungi ini dikenal dengan nama Benculuk atau Hutan Kota Djawatan.

Suasana mistis begitu terasa begitu memasuki area hutan, mirip penggambaran dalam suasana film Lord of The Ring.

Keunikan hutan ini tercipta dari deretan pohon trembesi yang berusia kurang lebih 200 tahun. Bisa dibayangkan seberapa besar lingkar pohonnya, bahkan lumut telah menutupi seluruh batangnya. Bentuk batangnya berbeda dari pohon-pohon biasa. Percabangan pohon dan dahan-dahannya terlihat seperti tangan-tangan raksasa. Kerimbunan pohon menghalangi sinar matahari sehingga hutan terllihat selalu basah, lembab dan magis. 

Namun jangan takut dulu, itu hanya kesan yang ditimbulkan. Tempat ini instagramable banget. Keren sekali untuk foto-foto selfie cantik. Apalagi di berbagai area dilengkapi dengan sarana berselfie seperti rumah pohon, jembatan cantik dan bahkan ada sederet andong yang siap membawa berkeliling. Lengkap kan…

Sebagai catatan, pohon trembesi ini adalah pohon yang berfungsi untuk menyimpan air. Pohon ini sudah semakin langka, sedangkan manfaatnya sangat nyata bagi kelestarian air sebagai sumber kehidupan di bumi ini.

Tiket masuknya? Murah banget, Cuma Rp. 2.000 saja…
So, jangan lewatkan hutan cantik ini ya, nggak bakalan nyesel…