Ekowisata Subak Sembung, Menikmati Segarnya Persawahan di Kota Denpasar

Dengan rasa penasaran, Sabtu pagi kemarin, saya bergegas menuju lokasi Ekowisata Subak Sembung.

Sejak dua hari sebelumnya saya sudah meng-iyakan janji untuk bertemu sobat lama di sana. Rencananya sih pengen ketemuan sambil ngobrol dan jalan-jalan sehat di pagi hari sambil menghirup udara segar persawahan.

Apa daya mata ini tak mau diajak kompromi untuk bangun pagi. Semalam pulang tengah malam keasikan nonton Festival Lampion di Nusa Dua. Jadilah saya kesiangan pagi ini. Apalagi langit masih gelap sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Duh, beratnya membuka mata ini.

Karena belum pernah ke lokasi, saya mesti mohon petunjuk mbah Google. Ternyata dekat sekali, hanya 12 menit menuju ke sana. Jadi langsung cuusss…

Sampai di sana sobat saya dan keluarganya sudah bersantai di warung dekat loksi parkir. Sedang menikmati soto dan minuman segar setelah berjalan-jalan menyusuri persawahan. Jadi, saya terlambat untuk sesi jalan pagi. Baiklah…

Jalan-Jalan di Ekowisata Subak Sembung

Setelah mengobrol dan janji bertemu lagi, saya memutuskan untuk explore sendirian di area ekowisata. Memang sudah terlalu siang, karena sudah pukul 10 lebih. Cuaca agak mendung dengan awan bergumpal di atas.

Panas? Tetap. Tapi keuntungannya adalah sepi pengunjung. Jadi saya bisa sepuasnya explore dan memotret tanpa gangguan. Hepi? Bangeettt…

Menarik bahwa ekowisata ini terletak di pinggiran kota Denpasar.

Tepatnya di kawasan Peguyangan, Denpasar Utara. Dengan areal seluas kurang lebih 115 ha dan didukung oleh 200 an orang petani, sawah ini berproduksi setiap tahun. Betapa beruntungnya, tak harus jauh-jauh ke Jatiluwih untuk bisa menikmati asiknya berjalan-jalan di area persawahan.

Gerbang masuknya sederhana saja, alami. Saya menyusuri jalan paving di tepi aliran air irigasi. Airnya bening dan segar. Di kiri kanan berjajar bentangan persawahan luas.

photo credit by christi laksita

Ada juga beberapa tanaman sayur semusim selain padi seperti cabai dan bawang.

Hanya tinggal satu dua petani yang masih bekerja. Kebetulan pula sebagian sawah baru saja dipanen, jadi saya tidak mendapatkan banyak foto persawahan hijau.

Walau sudah hampir habis padi yang menghijau, tetap saja menarik mengabadikan pemandangan alam ini. Suara musik bambu terdengar mengalun setiap hembusan angin. Gemericik air menenangkan hati. Ratusan burung kecil mencari sisa-sisa bulir padi yang tertinggal saat panen. Puluhan bebek bermain lumpur mencari makan. Semua melengkapi keindahan area persawahan yang terbentang luas di hadapan saya.

Entah kenapa, semua tampak begitu asri dan sempurna. Bahkan warna coklat tanah berlumpur dan batang padi kecoklatan tampak serasi. Dikelilingi rumput dan gulma aneka warna. Tanaman merambat maupun tanaman liar, semua tumbuh subur, menghijau dan berbunga cantik.

Jalan setapak berpaving juga bersih dan rapi.

Pejalan kaki bisa menikmati suasana dengan santai. Di sana sini terdapat canang sesajen.

Dan sebuah patung Dewi Sri yang cukup besar dan cantik. Dewi Sri, adalah dewi padi dan sawah, lambang kesuburan di Jawa dan Bali.

Area Ekowisata Subak Sembung ini memang terjaga kebersihannya.

Disediakan tempat sampah dan banyak rambu-rambu peringatan untuk selalu menjaga kebersihan.

Ada juga balai tempat berteduh dan duduk-duduk melepas lelah. Beberapa gubuk sawah kecil, dan bangku kecil. Saya merasa nyaman saja duduk di jalan paving yang bersih ini.

Betapa saya tak ingin pergi dari tempat ini. Sebagai petani yang tak punya sawah, saya memang selalu jatuh cinta dengan segala yang tumbuh dari tanah. Bermimpi suatu hari bisa menjadi petani sejati yang memiliki sawah sendiri.

Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir, saya bertemu dengan anak-anak yang bermain-main di sawah. Mereka lucu dan ramah, dan mau saya foto. Betapa bahagianya mereka , tanpa beban. What a lovely day…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *