Desa Panglipuran, Bangli

Salah satu destinasi yang menarik di Bali adalah Desa Panglipuran. Desa bersih dan asri yang menjadi tujuan wisata untuk mengenal adat dan budaya asli penduduk Bali.

Terletak di Bangli, Desa Panglipuran ini memang adalah desa percontohan yang menggambarkan kehidupan khas masyarakat Bali. Untuk menuju ke desa cantik ini, sebaiknya berangkat pagi, karena perjalanan cukup panjang bila dari Denpasar. Lingkungan desa tertata rapi dan bersih sekali. Jalan kampung dan rumah adatnya diatur dengan apik dihias taman bergaya khas Bali yang asri, dan bersih dari sampah. Keren banget.

Jalanan sepanjang desa yang bersih ini cantik banget diabadikan dalam foto. Tangan tak bisa menghindar dari keinginan mengabadikan keindahan ini.

Deretan rumah tinggal khas Bali, lengkap dengan pintu gerbang, taman dan pura keluarga yang semuanya menunjukkan keluhuran adat budaya Bali. Menariknya, kita boleh masuk ke rumah-rumah penduduk untuk melihat keseharian mereka. Mereka bahkan dengan ramah mengundang saya untuk mengunjungi rumahnya.

Setiap rumah menjajakan dan menawarkan berbagai macam souvenir danĀ  makanan khas Bali dengan harga yang wajar.

Sebagian menjual souvenir dan berbagai macam oleh-oleh khas Bali. Topeng, lukisan, asesoris, tas, pakaian, kain Bali, taplak meja, topi, dan masih banyak lagi. Sebagian lagi menjual makanan tradisional seperti lak-lak dan rujak kuah pindang. Rata-rata masih hangat karena fresh from the oven, enak banget. Semua langsung laris manis diserbu wisatawan yang penasaran dengan rasanya.

Saya tertarik mencoba loloh, minuman segar alami dari daun kedondong tanpa tambahan pengawet atau pemanis buatan. Harganya pun relatif murah, tidak sampai sepuluh ribu rupiah per botol 600ml. Rasanya unik, menurut saya enak dan membuat tubuh segar di cuaca panas ini. Saya menikmati loloh manis ini sambil berjalan menuju pura besar.

Ketika berjalan santai turun dari pura, seorang ibu pembuat lak-lak tiba-tiba melintas melewati saya. Bau lak-lak hangat yang harum begitu menggoda. Saya memintanya berhenti untuk membeli seporsi. Tapi si ibu menolak, namun meminta saya mengikutinya. Ternyata ada peraturan yang melarang penjual melayani pembeli di jalanan.

Saya mengikuti si ibu masuk ke sebuah rumah, ternyata di sinilah si ibu berjualan. Di sana sudah tersedia meja dan rujak yang dijajakan, juga klepon dari ubi ungu. Hohoho… bagaimana bisa mengabaikan makanan yang menggugah selera ini? Saya langsung ikut antre membeli lak-lak dan klepon, yang langsung saya makan hangat-hangat. Enak bangeeetttt…

Jika sudah sampai di desa ini, jangan terburu-buru pulang, nikmati saja, jangan melewatkan satu sudut pun untuk dijelajahi.

Rumah-rumah asli Bali, pura cantik, jalanan kampung yang bersih dan rapi, taman khas Bali yang menyejukkan mata, keramahan penduduk yang membekas di hati. Tak akan terlupa.

Ah… tapi mengapa waktu selalu terasa begitu cepat berlalu saat kesenangan baru dimulai?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *