Museum The Tjolomadu, Solo

Kali ini jalan-jalan ke Solo yuk…

Selain Kraton Solo, Klewer dan wisata kuliner, ada beberapa tempat wisata baru yang menarik di kota Solo. Salah satunya adalah Museum The Tjolomadu.

Museum ini dulu pada masanya adalah Pabrik Gula yang besar dan megah di jaman penjajahan Belanda.

Bangunannya pun hingga kini masih menunjukkan kemegahan dan keindahan arsitekturnya. Dari jalan raya pun terlihat menarik setiap mata yang memandangnya.

Karena sudah tidak digunakan lagi untuk memproduksi gula, pabrik akhirnya dialih-fungsikan menjadi museum.

Waktu berkunjung setiap hari Selasa-Minggu. Selasa- Kamis buka pukul 10.00 s.d 18.00 WIB. Hari Jumat-Minggu buka pukul 10.00-21.00 WIB. Sedangkan untuk hari Senin libur ya, jangan sampai keliru jadwal, hihihi…

Namun, meskipun saya berkunjung hari Senin, tetap saja menarik untuk mengambil foto di area luar museum. Kebetulan cuaca juga cerah panas dan mendukung hasil foto menjadi keren.

Sebagai bangunan kuno, Museum The Tjolomadu ini direnovasi tanpa merubah bangunan aslinya. Cantik sekali.

Cobalah mengunjungi museum cantik yang penuh sejarah ini. Tidak semua museum itu membosankan, Museum The Tjolomadu ini contohnya.

Pondok Kopi, Umbul Sidomukti, Bandungan

Salah satu tempat ngopi favorit dan happening yang sayang dilewatkan adalah Pondok Kopi di area wisata Umbul Sidomukti, Bandungan.

Tepatnya terletak di DesaSidomukti, Jl. Goa Jepang, Jimbaran, Kec. Bandungan, Semarang, Jawa Tengah.

Jalan menuju ke lokasi cukup mudah karena banyak petunjuk arah di setiap persimpangan. Namun yang perlu diingat dan diperhatikan adalah, kendaraan harus dalam kondisi prima. Karena jalan cukup sempit dan menanjak cukup tajam.

Kalau dirasa kurang yakin dengan petunjuk arah, bisa menggunakan GPS atau Google Map. Rasanya sangat membantu bila belum mengenal daerah ini. Atau bisa pakai cara kuno yang juga pasti akurat, dengan bertanya pada penduduk sekitar, hehehe…

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan warna hijau segar tanaman dan perkebunan sayur petani. Suasana pegunungan yang segar juga membuat perjalanan tak berasa jauh. Santuuuuyyy…

Lokasi parkir yang cukup luas letaknya berseberangan dengan restaurant. Sementara Pondok Kopi berada di ketinggian dengan view yang cantik. Saat kabut turun, rasanya seperti negeri di atas awan, uuhhh…

Oiya… jangan lupa bawa jaket ya, karena udara bisa tiba-tiba berubah menjadi dingin. Saat musim hujan seperti ini, juga bisa tiba-tiba turun hujan. Jadi tak ada salahnya membawa payung juga gaes. Karena jarak dari tempat parkir menuju restorant dan sebaliknya cukup membuat basah kuyup bila hujan deras.

Menu yang disajikan cukup beragam. Berbagai pilihan biji kopi terkenal bisa dicoba dengan pilihan jenis kopi. Menu makanan dan snack juga menggoda. Apalagi cuaca dingin membuat perut selalu lapar.

Eh, jangan sampai nggak pesan tahu asli Bandungan yang terkenal ini yaaa…

Untuk harga, di atas rata-rata. Tapi bisa dipahami karena ini daerah wisata dan letaknya cukup jauh dari keramaian kota.

Selain menikmati kopi dan makan, kita bisa berjalan-jalan di area restaurant. Ada banyak spot cantik untuk mengambil foto. Tebing curam berkabut dengan sungai di bawahnya berada di satu sisi di bagian belakang resto.

Lalu ada spot-spot foto lain seperti panggung pertunjukan terbuka, taman alami atau menyusuri Goa Jepang.

Saya tertarik untuk melihat ada apa di ujung Goa Jepang ini. Dan setelah berjalan menyusuri goa yang dingin dan bikin merinding, sampailah saya di ujungnya.

Ada semacam balkon dengan view tebing yang keren banget. Suasana tenang dan view cantiknya membuat betah berlama-lama di balkon ini.

Menariknya lagi, karena juga tersedia villa cantik untuk menginap.  Tempat yang nyaman dan tenang untuk menikmati liburan, menjauh dari keramaian. Bisa berdua saja atau bersama keluarga, tinggal pilih ukuran villa saja ya sesuai jumlah peserta.

Asik juga ya menikmati cuaca dingin sejuk dengan pemandangan lembah hijau dan tenang. Uuhhh… mesti segera mengatur liburan ini…

MY DREAM

Dari dulu saya sangat (ingin) menjadi penulis.

Kecintaan menulis ini mungkin karena sering melihat alm. Bapak yang suka menulis, walaupun di masa itu Bapak lebih banyak menulis sesuatu yang bersifat formal. Seperti menulis buku untuk murid-murid kursusnya (untuk kalangan sendiri), membuat renungan kotbah sendiri, dan hal-hal semacamnya.
Kalau saya membaca tulisan Bapak, terlihat bahwa alurnya sangat jelas, mudah dipahami dan menarik untuk dibaca meskipun itu buku formal (buku-buku Akutansi jaman dulu). Sejak kecil, saya suka mendengarkan (dari ruangan lain) bagaimana Bapak mengajar dan menjelaskan kepada murid-muridnya saat jam-jam pelajaran kursus berlangsung. Kebetulan saat itu rumah kami dulunya adalah tempat kursus yang dikelola Bapak sendiri. Menurut testimoni mantan murid-murid Bapak, saat kami bertemu akhir-akhir ini, Bapak adalah salah satu guru yang paling diingat karena cara menjelaskan yang mudah dipahami. Bahkan beberapa metodenya masih dipakai oleh mereka yang sekarang berprofesi menjadi dosen. Betapa saya merindukan beliau…

——————–

Kembali tentang tulis menulis, waktu kecil saya suka iseng-iseng menulis apapun. Puisi, diary, cerita kejadian sehari-hari, tapi tidak pernah saya tunjukkan kepada siapapun karena saya malu dan tidak percaya diri dengan hasilnya. Masa sekolah, saya punya beberapa sahabat pena, kami rajin berkirim surat setiap minggu untuk menceritakan banyak hal. Sayang ratusan surat itu entah dimana sekarang.
Saat kuliah sedikit termotivasi karena banyak membuat laporan dan juga skripsi. Tapi rasanya kurang menarik karena semua tulisan bersifat ilmiah dengan teori ilmu pasti yang rasanya tidak menarik dibaca oleh mereka yang tidak mengambil jalur ilmu yang sama. Setelahnya, dunia tulis menulis ini terabaikan, selain hanya untuk pekerjaan formal. Surat-menyurat yang baku dan administrasi rutin.

———————-

Lalu datanglah kejayaan dunia maya ini. Facebook dan medsos lain bermunculan dan semua happening, disukai tua muda segala kalangan. Euphoria menemukan teman-teman lama menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bertebaran foto-foto reuni dimana-mana. Saya pun merasakan kegembiraan itu.
Dan mulai terpikirkan lagi tentang menulis. Tapi rasanya kaku sekali memulai menulis sesuatu. Semakin dipikirkan makin bundet ruwetlah saraf otak saya dan ide menulis semakin jauh rasanya. Mungkin karena terlalu lama tak menulis, apalagi dengan gaya bebas.
Ah, sampai sekarang pun saya masih sering berkutat dengan ide penulisan, terutama saat tangan, hati dan pikiran tidak seirama dalam satu ritme. Tangan siap menulis, tetapi hati kelabu dan pikiran mogok memberikan suaranya. Saat itu terjadi, saya harus menyerah, karena tak bisa memaksakan diri untuk sebuah tulisan.

———————–

Saya suka membaca tulisan-tulisan teman yang bisa begitu ringan dan enak dibaca, ada yang penuh penghayatan, ada yang berfilsafat sarat dengan makna, ada yang penuh nasehat mengena di hati, macam-macam dan berbeda cirinya untuk setiap penulis. Betapa saya iri (dalam arti positif) dengan mereka yang diberikan kemampuan menulis begitu indah, begitu bermakna dan memberikan inspirasi bagi yang lain.
Lalu saya kadang-kadang sharing dengan sahabat yang suka menulis, bertanya apa resepnya. Walau jelas bahwa tak ada rumus dan resep pasti untuk menulis. Tapi saya mendapatkan semangat dan dukungan dari mereka, dan itu berharga sekali. Semua itu membuat saya tidak ragu untuk terus menulis. Tidak perlu mengukur seberapa banyak orang akan menyukai tulisan saya, yang penting saya berusaha untuk terus menghasilkan tulisan bermakna dan menginspirasi. Semoga.

Dan di sini, saya memulai perjalanan ini, sebuah babak baru.
Terimakasih sahabat-sahabat yang menjadi inspirasi menulisku, kalian semua amazing… Continue reading “MY DREAM”