MY DREAM

Dari dulu saya sangat (ingin) menjadi penulis.

Kecintaan menulis ini mungkin karena sering melihat alm. Bapak yang suka menulis, walaupun di masa itu Bapak lebih banyak menulis sesuatu yang bersifat formal. Seperti menulis buku untuk murid-murid kursusnya (untuk kalangan sendiri), membuat renungan kotbah sendiri, dan hal-hal semacamnya.
Kalau saya membaca tulisan Bapak, terlihat bahwa alurnya sangat jelas, mudah dipahami dan menarik untuk dibaca meskipun itu buku formal (buku-buku Akutansi jaman dulu). Sejak kecil, saya suka mendengarkan (dari ruangan lain) bagaimana Bapak mengajar dan menjelaskan kepada murid-muridnya saat jam-jam pelajaran kursus berlangsung. Kebetulan saat itu rumah kami dulunya adalah tempat kursus yang dikelola Bapak sendiri. Menurut testimoni mantan murid-murid Bapak, saat kami bertemu akhir-akhir ini, Bapak adalah salah satu guru yang paling diingat karena cara menjelaskan yang mudah dipahami. Bahkan beberapa metodenya masih dipakai oleh mereka yang sekarang berprofesi menjadi dosen. Betapa saya merindukan beliau…

——————–

Kembali tentang tulis menulis, waktu kecil saya suka iseng-iseng menulis apapun. Puisi, diary, cerita kejadian sehari-hari, tapi tidak pernah saya tunjukkan kepada siapapun karena saya malu dan tidak percaya diri dengan hasilnya. Masa sekolah, saya punya beberapa sahabat pena, kami rajin berkirim surat setiap minggu untuk menceritakan banyak hal. Sayang ratusan surat itu entah dimana sekarang.
Saat kuliah sedikit termotivasi karena banyak membuat laporan dan juga skripsi. Tapi rasanya kurang menarik karena semua tulisan bersifat ilmiah dengan teori ilmu pasti yang rasanya tidak menarik dibaca oleh mereka yang tidak mengambil jalur ilmu yang sama. Setelahnya, dunia tulis menulis ini terabaikan, selain hanya untuk pekerjaan formal. Surat-menyurat yang baku dan administrasi rutin.

———————-

Lalu datanglah kejayaan dunia maya ini. Facebook dan medsos lain bermunculan dan semua happening, disukai tua muda segala kalangan. Euphoria menemukan teman-teman lama menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bertebaran foto-foto reuni dimana-mana. Saya pun merasakan kegembiraan itu.
Dan mulai terpikirkan lagi tentang menulis. Tapi rasanya kaku sekali memulai menulis sesuatu. Semakin dipikirkan makin bundet ruwetlah saraf otak saya dan ide menulis semakin jauh rasanya. Mungkin karena terlalu lama tak menulis, apalagi dengan gaya bebas.
Ah, sampai sekarang pun saya masih sering berkutat dengan ide penulisan, terutama saat tangan, hati dan pikiran tidak seirama dalam satu ritme. Tangan siap menulis, tetapi hati kelabu dan pikiran mogok memberikan suaranya. Saat itu terjadi, saya harus menyerah, karena tak bisa memaksakan diri untuk sebuah tulisan.

———————–

Saya suka membaca tulisan-tulisan teman yang bisa begitu ringan dan enak dibaca, ada yang penuh penghayatan, ada yang berfilsafat sarat dengan makna, ada yang penuh nasehat mengena di hati, macam-macam dan berbeda cirinya untuk setiap penulis. Betapa saya iri (dalam arti positif) dengan mereka yang diberikan kemampuan menulis begitu indah, begitu bermakna dan memberikan inspirasi bagi yang lain.
Lalu saya kadang-kadang sharing dengan sahabat yang suka menulis, bertanya apa resepnya. Walau jelas bahwa tak ada rumus dan resep pasti untuk menulis. Tapi saya mendapatkan semangat dan dukungan dari mereka, dan itu berharga sekali. Semua itu membuat saya tidak ragu untuk terus menulis. Tidak perlu mengukur seberapa banyak orang akan menyukai tulisan saya, yang penting saya berusaha untuk terus menghasilkan tulisan bermakna dan menginspirasi. Semoga.

Dan di sini, saya memulai perjalanan ini, sebuah babak baru.
Terimakasih sahabat-sahabat yang menjadi inspirasi menulisku, kalian semua amazing… Continue reading “MY DREAM”