Candi Arjuna Dieng, Candi Tertua Yang Gagah

Dieng tak lepas dari daya tarik keindahan kompleks Percandian Arjuna.

Kompleks Candi Arjuna adalah lokasi terfavorit para pemburu embun upas yang muncul di tiap musim dingin. Embun upas terjadi saat suhu mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Pada kondisi ini semua cairan membeku. Tercatat pada awal bulan Agustus 2019 ini suhu terendah di Dieng mencapai minus 11 derajat Celcius. Brrrr….

Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna. Dalam sejarahnya, Candi Arjuna diperkirakan sebagai candi tertua yang dibangun abad 8M oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno (sumber: Wikipedia).

Begitu berjalan masuk gapura kompleks candi, di kiri kanan terlihat hamparan taman dengan rumput yang terawat rapi. Pohon-pohon rindang sebagai peneduh memayungi jalan setapak. Beberapa tumpuk batu candi terkumpul di beberapa lokasi. Tampaknya pemugaran masih terus berlangsung.

Di tengah hamparan rumput yang luas, Candi Arjuna berdiri megah. Walau memang tak sebesar Borobudur atau Prambanan, Candi Arjuna tampak gagah didampingi beberapa candi kecil. Ada candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Semar. Juga beberapa candi lain.

Saya rasa daya tarik candi juga karena candi dengan view pegunungan yang indah. Hijaunya latar belakang candi ini menambah cantik hasil foto.

Ada yang unik berkesan kekinian untuk ber-swafoto. Saat mengunjungi Candi Arjuna saya bertemu dengan Buto Cakil dan Po si Teletubbies merah. Jika tertarik bisa foto bersama dengan tokoh-tokoh ini. Bayarannya sukarela kok, minimal Rp. 5.000,- saja.

Biasanya pemain di balik topeng tokoh-tokoh ini adalah penduduk sekitar yang mencari penghasilan tambahan. Karakter yang dipilih bisa beragam. Baik dari tokoh pewayangan sampai cerita kartun anak-anak yang lagi hits seperti power ranger. Agak-agak geli juga foto bersama karakter kekinian dengan latar belakang bangunan kuno berumur berabad-abad.

Oya, Kompleks Candi Arjuna ini adalah Candi Hindu. Saat memasuki kawasan Candi Arjuna kita wajib memakai kain batik yang disediakan di pintu masuk. Biaya sewa sukarela saja, diberikan saat selesai mengunjungi candi.

Berburu Sunrise di Puncak Sikunir, Dieng

Siapa yang tidak mengenal keindahan Negeri di Atas Awan, julukan keren untuk Dieng sebagai destinasi wisata favorit di Wonosobo.

Salah satu spot yang paling diminati adalah sunrise  di Puncak Sikunir yang terletak di Desa Sembung, desa tertinggi di pulau Jawa. Berada di ketinggian sekitar 800m dpl, pendakian biasanya dimulai saat subuh sekitar pukul 03.30-04.00 WIB.

Waktu pendakian juga relatif singkat yaitu sekitar 30-60 menit sesuai kekuatan masing-masing.

Rute menuju Sikunir juga cukup mudah. Dari alun-alun kota Wonosobo langsung lurus saja ke arah Dieng. Sesampainya di gerbang Dieng, bisa langsung ambil jalan ke kiri kearah Telaga Warna. Lalu lurus ke Desa Sembungan.

Area parkir disediakan cukup luas, nggak perlu kuatir tidak kebagian tempat parkir saat padat pengunjung. Jarak dari tempat parkir ke Pos pendakian sekitar 2km. Namun tidak harus berjalan kaki kok, karena ojek siap mengantar dengan tarif cukup murah.

Dingin? Bangeetttt…. Suhu dini hari saat musim embun upas muncul bisa mencapai minus 11 derajat Celcius. Brrrrr… Bawa air minum saja bisa beku seperti es, daun-daun juga membeku. Makanya mesti pakai baju yang hangat ya.

Pakailah jaket tebal, celana yang lentur dan hangat, kaos tangan, syal, tutup muka, kaos kaki, sepatu dan topi yang menutup sampai telinga.

Dari pos pendakian jalan cukup menanjak, jalan yang berupa paving cukup mempermudah pendakian awal. Sepanjang kurang lebih 200m jalanan paving ini, di kiri kanan jalan berjajar rumah penduduk. Semua berjualan makanan dan minuman bahkan oleh-oleh khas Dieng.

Minuman panas dijajakan, lengkap dengan berbagai macam gorengan dan rendang kentang yang menggoda. Mi instan tentu saja juga menjadi salah satu menu pilihan favorit. Siapa yang bisa menolak makan mi kuah panas di udara sedingin ini?

Juga tersedia toilet dan mushola. Semuanya lengkap. Jadi bisa istirahat sebentar atau sembahyang di area ini, mengumpulkan tenaga kembali. Karena setelah ini, jalanan berubah menjadi anak tangga dari batu dan tanah.

Selama perjalanan berikutnya, pendakian cukup menanjak. Jarak tiap anak tangga juga lumayan. Sebaiknya berjalan pelan-pelan sekuatnya saja. Jika terasa lelah bisa berhenti sejenak sambil mengatur nafas.

Untuk sampai ke Puncak Sikunir kita akan melalui 3 Pos pendakian.

Jika merasa sudah tidak kuat mendaki disarankan istirahat di Pos 1 atau Pos 2. Sunrise dari 2 pos ini juga indah kok. Jadi jika benar-benar merasa tidak kuat bisa berhenti dan menikmati sunrise sambil ngopi di warung yang ada di Pos.

Tapi menurut saya, rugi banget kalau hanya berhenti di Pos 1 atau Pos 2, karena semua hal terbaik menantimu di Puncak Sikunir. View keren dari Puncak Sikunir… Awesome…

Lalu, saat turun dari Puncak Sikunir, kita masih disuguhi pemandangan indah dan menakjubkan dari Telaga Cebong dari ketinggian. Gorgeous…

Keagungan Pura Mangkunegaran Solo

Mungkin, nama Pura Mangkunegaran masih terdengar asing bagi sebagian orang. Karena memang, biasanya orang lebih mengenal Keraton Solo.

Tetapi menurut pendapat saya pribadi, Pura Mangkunegaran ini lebih menarik untuk di eksplore. Penataannya rapi dan cukup luas. Juga tidak seramai Kraton Solo.

Tiket masuk Rp. 20.000/orang untuk domestik. Pengunjung wajib didampingi seorang guide saat berkeliling. Tips yang diberikan sukarela saja.

Menurut sejarah, Pura Mangkunegaran ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran. Raden Mas Said atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa diangkat menjadi Adipati dengan gelar Mangkunegara I.

Pendapa

Arsitektur bangunannya mirip keraton, memiliki pamedan, pendapa, pringgitan, dalem ageng dan keputren. Pendapa sangat luas, didominasi warna hijau dan kuning, warna khas keluarga Mangkunegaran.

Beberapa set gamelan tertata rapi di samping-samping pendapa. Masing-masing mempunyai sejarahnya sendiri dan akan ditabuh tergantung acara yang berlangsung.

Plafon pendapa dilukis indah, menggambarkan astrologi Hindu-Jawa. Dihias dengan deretan lampu gantung antik. Tiang-tiang kayu persegi diambil dari pepohonan yang tumbuh di Alas Kethu dan seluruh bangunan didirikan tanpa menggunakan paku. Amazing…

Di bagian belakang pendopo, terdapat sebuah beranda terbuka yang disebut Pringgitan, dengan deretan anak tangga menuju museum. Sebelum masuk museum, beberapa foto dan lukisan para mangkunegara dan keturunannya dipajang. Menurut keterangan guide, foto dan lukisan ini diganti secara berkala.

Museum

Masuk ke dalam museum kita akan dimanjakan dengan berbagai benda bersejarah yang penuh berisi cerita menarik. Mulai dari lambang Mangkunegara dan warnanya, senjata, perhiasan, pakaian , medali, uang logam, peralatan makan, berbagai sertifikat penghargaan, perlengkapan wayang dan berbagai benda seni. 

Satu-satunya ruangan dimana kita tidak boleh mengambil foto adalah di museum. Sehingga tidak ada dokumentasi sama sekali di dalam museum. Tujuannya adalah agar benda-benda bersejarah ini aman dari pemalsuan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang semata-mata hanya mencari keuntungan pribadi.

Dalem Ageng

Beranjak dari museum, kita diajak menuju Dalem Ageng. Ini adalah rumah besar kediaman keluarga Mangkunegaran. Berderet kursi, sofa, meja dan lemari pajangan beserta foto-foto keluarga menghiasi bagian teras. Perabotan kuno dan antik mendominasi.

Pengunjung boleh duduk-duduk bersantai sejenak di sini sambil menikmati taman teduh. Taman yang tertata rapi terletak di bagian tengah bangunan menjadi pusat pemandangan asri. Sejuk dan segar.

Suasananya tenang, taman dengan berbagai pohon memberikan kesan teduh dan udara bersih. Kicauan burung yang diperlihara dan dirawat dengan baik merdu terdengar. Betah juga rasanya berlama-lama duduk di teras.

Benar kan Pura Mangkunegaran tak kalah menarik untuk dikunjungi, sarat dengan cerita sejarah dan berbagai peninggalan sejarah. Jangan ragu mampir ya kalau lewat ke sini.

Jam buka 
Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu 8.00-15.00 WIB
Kamis dan Minggu 8.00-14.30 WIB

Pulau Serangan, Pesona Wisata Alam di Tengah Kota Denpasar

Berlibur tak harus mahal, pantai cantik di tengah kota Denpasar ini bisa menjadi pilihan menikmati alam dan sunset indah.

Saya beruntung pernah beberapa kali mengunjungi Pulau Serangan yang beberapa waktu ini tertutup untuk umum. Nama Pulau Serangan ini diambil dari nama desa Serangan yang dulunya adalah sebuah pulau kecil terpisah.

Pulau Serangan ini unik, karena penduduknya sebagian besar ber-etnis Bugis. Ya, mereka memang aslinya adalah pendatang, pengungsi dari Makasar yang kemudian menetap di pulau ini.

Sekarang, akses masuk menuju ke Desa Serangan menjadi lebih mudah ketika akhirnya Pulau Serangan menjadi satu daratan dengan Pulau Bali. Semua ini berkat proyek reklamasi yang menyatukan kedua pulau.

Jalan masuk menuju Pulau Serangan dari jalan raya sudah beraspal. Kiri kanan jalan dipenuhi pohon pinus sebagai peneduh. Ada banyak penjual makanan dan minuman di sekitar jalan. Namun jalan masuk yang langsung ke pantai masih berupa tanah berkapur. Tiket masuk kala itu murah sekali, hanya membayar Rp. 2.000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Sebuah jembatan menjadi penanda pintu masuk ke Pantai Serangan. Aroma pantai langsung menyapa begitu kita berada di area ini. Di sebelah kiri adalah hutan buatan dengan pohon-pohon besar. Sedangkan di bagian kanan jalan kita bisa langsung menikmati keindahan pantai, di seberang terlihat Tanjung Benoa lokasi permainan watersport.

Pantai tenang saat sore hari dan airnya tidak bergelombang besar. Terlihat beberapa wisatawan sedang bersantai bersama keluarga menikmati sore sambil bermain air.

Pesawat beterbangan di atas kami, dan terlihat beberapa cruise memulai perjalanan pelayarannya. Burung bangau mencari makan di tepi pantai. Sementara burung-burung kecil beterbangan dari pohon ke pohon secara berkelompok. Indahnya…

Menyusuri jalan masuk ke dalam hutan, terlihat betapa teduh jalanan karena rimbunnya pohon-pohon besar. Walau debu masih cukup banyak karena tanah memang tidak beraspal. Namun keindahan rindangnya pohon pinus bagi saya tetaplah juaranya.

Di beberapa tempat terlihat sekawanan sapi merumput dengan tenang. Tak ada rasa kawatir dengan kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa bapak-bapak mencari makan ternak di sekitar rawa. Semua kegiatan tampak alami dan menyatu dengan keindahan alam. Sempurna.

Di pantai banyak pengunjung yang berenang, memancing atau sekedar bermain air. Bahkan beberapa wisatawan terlihat asik berselancar, kebanyakan wisatawan asing.

Pura tempat sembahyang begitu menonjol di tepi pantai dalam semburat lembayung senja.

Cuaca sore ini memang cerah dan langit bersih. Menyenangkan rasanya bisa menikmati udara segar ini dari alam terbuka.

Perlu waktu setidaknya 2 jam untuk berkeliling area Pulau Serangan ini dengan berkendara. Namun pasti perlu waktu lebih lama lagi bila juga ingin berenang dan mengambil beberapa foto cantik.

Dalam perjalanan kembali, bertepatan dengan waktunya sunset beraksi. Warna jingga di langit menjadi latar belakang lukisan alam. Duuuhhh, cantiknyaaaa…

Wisata Edukasi dan Belanja di Secret Garden, Bedugul

Bedugul bukan hanya menawarkan wisata alamnya yang indah dan sejuk. Banyak tempat wisata bernuansa alam yang menarik di sana.

Salah satu tujuan wisata yang menawarkan pengetahuan budaya tradisional perawatan tubuh yang mengedukasi adalah Secret Garden. Terletak di Jalan Raya Bedugul Km. 36, di sisi kanan jalan raya bila berangkat dari arah Denpasar.

Lokasinya cukup mudah ditemukan karena bangunannya unik. Hasil karya Andra Martin, arsitektur terkenal yang banyak andil dalam berdirinya beberapa bangunan terkenal di Bali. Penataan taman dan bangunan indah dan banyak spot foto kekinian. Sejak pintu masuk kita sudah disuguhi dengan cantiknya ornamen yang tertata serasi.

Setelah membayar tiket di loket sebesar Rp. 50.000/WNI dan Rp. 100.000/WNA, kita akan dipandu seorang guide dalam satu kelompok kecil. Jadi harga tiket yang cukup mahal ini sudah include dengan guide ya gaes. Guide akan memandu dan menjelaskan segala hal selama tour.

Tour ini dimulai dengan mengunjungi museum, pabrik pembuatan produk Herborist, pemutaran film dan kemudian belanja produk. Mengapa produk Herborist? Karena Secret Garden ini adalah showroom dan edukasi dari produk Herborist.

1. Museum

Museum ini bernama Beauty Heritage Museum. Terdapat berbagai peralatan meramu jamu dan produk kecantikan kuno. Walau pun kecil namun unik dan menarik penataannya. Bahkan ada becak di dalamnya. Kesan yang ditangkap adalah museum yang kekinian dan tidak membosankan.

2. Pabrik

Pabrik Oemah Herborist ini satu-satunya lokasi dimana kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Tas dan HP kita disimpan di loker yang disediakan. Dan kita semua wajib memakai jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik seperti penutup sepatu dan kepala.

Sebelum masuk ke pabrik, kita diberikan kesempatan berfoto 3D lengkap dengan jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik. Diberikan kesempatan 2-3 kali bergaya , dan bisa dipilih salah satu foto terbaik untuk dicetak. Tentu saja dengan mengganti biaya cetak.

Pabriknya tidak terlalu besar, sehingga tidak memerlukan waktu lama berkeliling. Guide tetap setia menemani dan menjelaskan setiap pertanyaan kami.

3. Belanja Produk

Setelah berkeliling pabrik, kita diajak menikmati sebuah film pendek. Ruangannya tidak terlalu besar, muat untuk sekitar 40-50 orang. Film ini berdurasi tidak lebih dari 10 menit. Berisi penjelasan produk premium unggulan Herborist.

Kemudian, barulah kita mulai berkeliling toko dan berbelanja. Semua produk komplit dan tersedia dalam tatanan dan pencahayaan yang menarik. Mulai dari produk umum sampai yang premium yang jarang kita temukan di toko atau supermarket.

Produk kecantikan seperti berbagai macam perawatan mandi, perawatan badan, rambut, parfum, berbagai macam minyak massage, semua ada. Favorit saya di bagian sabun, parfum dan produk premium.

Di section produk premium, didemokan pemakaian produk andalan anytime by request. Tentu saja saya tidak menolak untuk menjadi relawan percobaan lulur. Tangan jadi halus dan wangi. Karyawatinya juga ramah dan helpfull, mampu menjelaskan produk dengan baik.

Harga jual produk memang lebih murah daripada harga umum. Jadi kalau memang sehari-hari menggunakan produk Herborist, sebaiknya sekalian memborong beli banyak untuk stock di rumah. Counter kasir juga cukup banyak sehingga tidak perlu antre lama.

4. Kafe & Restoran

Salah satu hal yang menjadi daya tarik adalah tersedianya tempat makan yang mewah dengan view indah.

Setelah capek berkeliling dan belanja, kita bisa menikmati secangkir kopi nikmat. Banyak pilihan kopinya. Bahkan terdapat juga museum kopi lengkap dengan beragam koleksi peralatannya. Eh, ada juga luwak hidup di kandang di samping resto.

Resto juga berkesan mewah dengan karena arsitekturnya yang keren. Terasa nyaman banget untuk bersantai. Udara dingin dan segar serta view cantik membuat tamu betah berlama-lama di sini.

Sayang sekali saat berkunjung saya sudah terlalu sore. Sebagian waktu untuk tour dan belanja, sehingga ketika sampai resto ternyata sudah tutup. Hari sudah malam dan hanya bisa menikmati kopi sebentar saja.

So, saran saya, waktu yang tepat berkunjung adalah setelah jam makan siang. Bisa menikmati waktu lebih panjang untuk tour, belanja dan menikmati sunset sambil seruput kopi.

Wisata Edukasi Biota Laut Bangsring Underwater (BUNDER), Banyuwangi

Banyuwangi kini menjadi salah satu tujuan wisata alam yang makin diminati.

Salah satunya adalah wisata edukasi dan biota laut yang menarik, Bangsring Underwater atau dikenal dengan nama BUNDER. Lokasinya agak masuk dari jalan besar, bisa dicapai dengan shuttle. Cukup membayar Rp. 10.000/orang untuk rombongan.

Harga tiket masuk ke BUNDER juga murah sekali, hanya Rp. 3.000/orang. Sedangkan untuk berbagai aktifitas, harga tiket bervariasi mulai dari Rp. 5.000. Tersedia juga sewa untuk camera underwater.

Bangsring Underwater menawarkan eksotisme wisata pantai dan edukasi yang unik. Suasana segar angin laut dan rimbunnya pepohonan langsung menyapa kita di gerbang masuk.

Garis pantainya juga panjang, namun teduh oleh pepohonan yang tumbuh di tepi pantai. Air lautnya tenang, tanpa gelombang besar, jernih dan masih alami sekali. Beberapa potongan pohon tergeletak di tepi pantai, bisa untuk duduk-duduk santai. Walaupun banyak juga pondok-pondok kecil semacam bale bengong untuk berteduh.

Lokasi ini juga dilengkapi dengan warung yang menyediakan beberapa menu. So, Nggak perlu takut kelaparan. Terdapat juga deretan kamar mandi dan toilet. Kamar mandinya bersih dan air terus mengalir.

Aktifitas yang Bisa Dilakukan di BUNDER

Ada dermaga kecil yang bersih dan cantik dimana perahu siap mengantar kita ke rumah apung. Rumah apung ini tidak terlalu besar, namun lengkap dengan ruang ganti dan meja kursi untuk menikmati suasana. Bahkan ada cafe kecil juga.

BUNDER memang luar biasa. Karena di sini ada juga Klinik Hiu, tempat penyembuhan hiu-hiu sakit dan bermasalah. Bahkan mereka memiliki Fish Apartment. Sebagai bentuk kepedulian terhadap terjadinya kerusakan ekosistem dan bertujuan untuk mengembalikan kekayaan sumber daya ikan.

Nah, sebagai bagian dari edukasi, Marine Education juga mengajak wisatawan untuk mencintai laut dan seluruh isinya. Wisatawan diajak belajar untuk menjaga ekosistem laut, salah satunya dengan menanam terumbu karang.

Di rumah apung ini kita bisa snorkeling dan diving dan bermain dengan ikan-ikan warna-warni yang cantik. Airnya cukup bening dan ikannya banyak sekali bermain di sekitar rumah apung. Peralatan snorkeling juga sudah tersedia di sini, jadi tinggal siapkan baju renang saja dari rumah.

Atau, jika cukup bernyali, bisa menerima tantangan berenang bersama baby shark. Clue nya sih, selama kita tidak menyentuh baby shark akan aman-aman saja, hihihi… Lagipula hiu nya masih kecil-kecil kok, namanya juga baby shark kaaannn… Dan, ada pawangnya juga, jadi aman dah… Berani?

Selain aktifitas di atas, kita bisa mengunjungi pulau Menjangan dan Pulau Tabuhan, pulau kecil di Banyuwangi yang terkenal keindahannya. Aktifitas watersport seperti jet sky, banana boat, kano & padle juga bisa dilakukan selain snorkeling dan diving. Ah iya, ada kita juga bisa mengunjungi hutan mangrove, keren kan..

Homestay

Melihat banyaknya aktifitas yang bisa dilakukan di BUNDER, rasanya perlu menginap ya kalau ingin puas mengeksplore semuanya.

Homestay yang tersedia juga bergaya natural, dengan bahan bangunan kayu dan bambu. Rasanya menyatu dengan alam. Harganya juga tidak terlalu mahal, di kisaran Rp. 250.000 an per malam. Layak untuk dicoba ya…  Cuma, mesti siap-siap baju hangat, karena semestinya jika malam hari angin pantai akan berhembus cukup kencang.

Banyuwangi, kota di ujung Jawa Timur ini terus berbenah untuk menghidupkan geliat pariwisatanya. Makanya, rugi banget kalau nggak disempatkan menikmati keindahan alami pantainya.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/benculuk-hutan-lord-of-the-ring-di-banyuwangi/

Pantai Yeh Gangga dan Pura Batu Bolong di Tabanan yang Sakral

Bali memang kaya dengan pantai indah. Salah satunya adalah Pantai Yeh Gangga, pantai cantik yang masih jarang dikunjungi wisatawan.

Lokasinya di Tabanan, bisa searah saat mengunjungi Tanah Lot dan Taman Ayun. Tiket masuk masih free, hanya membayar parkir saja Rp. 2000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Hari itu ketika saya menikmati sore di pantai, saya terpukau melihat beberapa orang asing sedang membersihkan pantai dari sampah. Terharu dan malu bercampur dalam hati.  Betapa orang asing begitu peduli akan keindahan dan kebersihan pantai ini. Lalu, mengapa kita justru sering mengabaikan dan mengotori anugrah alam yang indah ini?

Pantai Yeh Gangga mempunyai garis pantai yang panjang, dengan pasir lembut berwarna gelap. Di sekitarnya terdapat beberapa hotel besar dan mewah. Sepertinya semakin berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini.

Ada beberapa aliran anak sungai yang bermuara di pantai, menambah keindahan pantai ini.

Menurut saya, pantai ini menarik karena masih alami, tidak banyak pengunjung disana. Kebetulan, saat saya mengunjungi pantai, di bagian Timur pantai sedang ada persiapan upacara.

Sedangkan di ujung Barat, sedang bersiap anak-anak TK menari dalam acara pelepasan sekolah. Lucu-lucu sekali mereka ini dalam dandanan adat Bali dan siap pentas. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan semua sore ini.

Pura Batu Bolong

Di ujung Barat Pantai, terdapat batu karang unik karena berlubang di bagian tengahnya. Dari kejauhan lubang berbentuk seperti hati, unik kan.

Di atas batu karang ini terdapat sebuah pura. Namanya Pura Batu Bolong. Memang di sini sering digunakan untuk upacara Melasti dan pelepasan abu kremasi saat Ngaben.

Warung Tulus Lobster

Daya tarik lain pantai ini adalah Warung Tulus Lobster yang terletak persis di tepi pantai. Dilengkapi dengan bean bag (bantal pantai) yang nyaman untuk menikmati sunset. Benar-benar memanjakan pengunjung untuk menikmati sunset.

Rasanya menghabiskan malam di sini juga romantis karena banyak terdapat lampu-lampu cantik betebaran. Berasa di La Pancha Seminyak, namun suasananya lebih tenang. Tak perlu antre atau booking untuk mendapatkan tempat duduk.

Pantai yang cocok untuk wisata keluarga

Pantai yang luas, bersih dan jauh dari keramaian ini memang nyaman sebagai tempat menghabiskan senja. Rasanya menyenangkan berjalan-jalan tanpa harus selalu berpapasan dengan pengunjung lain.

Perahu nelayan berderet berlabuh di tepi pantai. Beberapa nelayan sedang memeriksa jaring. Bersiap untuk berlayar mencari ikan esok subuh.

Sementara anak-anak berlarian di pantai, bermain dengan riangnya. Semua melengkapi kesan tentang kenangan sebuah pantai alami yang penuh kehidupan.

Hutan Pinus Becici, Lokasi Sempurna Menjauh dari Rutinitas

Mencari keteduhan dan kedamaian? Ayuk ke Hutan Pinus Becici di Bantul.

Hutan Pinus Puncak Becici tepatnya berada di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ambil arah menuju ke Gunungkidul dari terminal Prambanan. Jalan bisa dilalui bus, namun agak menanjak dan banyak tikungan. Harus hati-hati karena ada jurang di satu sisi.

Hutan pinus ini luas dan cocok untuk wisata keluarga maupun gathering. Bagi yang menyukai wisata alam, pasti akan jatuh cinta dengan pemandangan yang memikat hati. Udara segar, pohon pinus berderet cantik dan view luar biasa dari ketinggian.

Bahkan sejak masih di parkiran, kita sudah bisa mencium aroma pinus di udara. Memandang pohon pinus berderet rapi membuat kantuk hilang.

Tiket masuk Hutan Pinus Becici Rp. 2.000-2.500/orang. Parkir motor Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000.

Aktifitas di Hutan Pinus Puncak Becici

Kesejukan hutan pinus ini dilengkapi dengan berbagai spot kekinian untuk ber-swafoto. Tersedia pula aula untuk acara-acara kebersamaan dan camping ground bila ingin berkemah.

Harga camping ground Rp. 15.000/orang/hari. Bagi yang tertarik untuk sesi foto prewed di sini pun bisa. Harganya juga tidak mahal. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 200.000 saja.

Ada spot yang sangat menarik bagi anak-anak. Hammock.

Semacam kantong ayunan dari kain untuk tiduran atau bersantai yang diikatkan ke dua batang pohon. Sewanya Rp. 10.000 saja per orang, sepuasnya. Wah… saya juga betah bersantai di hammock ini lama-lama, hahaha…

Gardu pandang di puncak bukit juga sangat indah.

Kita bisa bersantai di sana menikmati kota Jogja dari ketinggian. Atau tentu saja, mengambil foto-foto cantik. Hanya saja akan ramai sekali saat musim liburan, sehingga harus antre untuk berfoto. Jangan lama-lama juga ya, kasihan mereka yang menunggu giliran foto.

Lapar? No worries. Ada banyak warung kecil yang menjajakan berbagai makanan dan minuman. Jadi kalau lapar atau haus, bisa membeli di salah satu warung yang berderet di dekat pintu masuk.

Harga makanan juga tidak mahal, standart untuk ukuran tempat wisata. Walau menurut saya, warung ini kurang tertata rapi sehingga malah terkesan kumuh dan tidak match dengan lingkungan asri hutan pinus. Sayang ya…

Uji Adrenlin di Gumuk Reco Sepakung

Salah satu wisata uji nyali yang pernah saya kunjungi adalah Gumuk Reco, di Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Saya berkunjung bersama beberapa teman di akhr tahun 2017, sudah cukup lama ternyata ya…

Perjalanan menuju ke lokasi ini memang  seru dan penuh perjuangan. Salah satunya adalah karena kami salah memilih jalan yang lebih sempit dan banyak tikungan tajam. Jalan naik turun yang curam hingga 45 derajat. Apalagi saat itu cuaca mendung, jadi agak dag dig dug juga kalau hujan turun.

Beruntung teman yang menyetir sudah sangat ahli sehingga kami bisa sampai dengan selamat ke lokasi. Hanya saja pulangnya kami memilih jalan yang berbeda yang jauh lebih aman. Kapok lewat jalan pertama, hahaha…

Ketika itu, loketnya masih sederhana sekali. Namun pintu masuk ke lokasi langsung menarik mata saya. Unik sekali tatanan cabang2 pohon kering ini.

Keseruan Aktifitas

Jalan setapak dari loket sudah di semen, dengan pemandangan hutan pinus di kiri dan kanan jalan. Teduh. Ada beberapa spot untuk duduk-duduk menikmati suasana. Juga tempat-tempat selfi cantik. Walau agak ngeri-ngeri sedap juga ketika mencoba berfoto di atas sarang burung raksasa yang menggantung begitu saja di bibir tebing.

Rumah Pohon dan Jembatan Kepompong dari kayu juga menarik untuk dicoba. Bisa dapat view keren dari atas rumah pohon.

Tapi yang paling menggetarkan jiwa dan membuat jantung mau copot adalah mencoba Ayunan Langit.

Safety first tetap yaaa gaeeess, semua pakai pengaman dan telah diuji untuk berat maksimal kok. Aman sih, tapi tetap saja saya berteriak sekuat jiwa raga dan sepenuh hati begitu mulai diayun. Hwaaaaaaaa…. ternyata sensasinya tak terlukiskan kata-kata.

Kemudian ketika mulai tenang, saya mesti pasang senyum untuk sesi foto sambil berayun. Duilaaahhh… muka pucat dan jantung copot begini mesti pasang muka syantiiikk… huuuffttt… Beruntung saya sudah pesan dengan sangat supaya jangan terlalu keras diayun. Takut kalau rok saya lepas, hihihi…

Btw, dengan semua kekurangan karena memang saat itu lokasi masih dalam pengembangan wisata, lokasi ini unik dan menarik untuk dikunjungi. View di ketinggian memang cantik. Perpaduan hutan pinus dengan tebing coklat di sekitarnya sungguh kontras.

Namun saya tidak merekomendasikan wisata Gumuk Reco untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Andai terpaksa diajak, harus dengan pengawasan ekstra. Karena tebing-tebingnya curam, dan belum diberikan pagar yang cukup kokoh. Daripada kita tidak bisa menikmati keindahan cantik ini, lebih baik memang tidak membawa anak-anak di bawah 12 tahun.

Tiket masuk Rp. 5.000,00 dan tiket ayunan langit serta jembatan kepompong @Rp. 10.000. Harga sudah termasuk safety equipment.

Sekarang sudah ada tambahan wahana baru Ondo Langit, sehingga bisa menikmati sensasi memanjat tebing curam di salah satu sisi wisata.

Saran saya kalau ke sini kendaraan harus benar2 prima dan driver pengalaman. Naik motor juga bisa, asal memang sudah mahir mengendarai.

Jangan salah ya, wisata di Gumuk Reco ini sudah semakin banyak dicari wisatawan loh…. Jadi sebaiknya datang pagi, bisa mendapatkan udara yang lebih segar dan belum terlalu padat pengunjung.

Ekowisata Subak Sembung, Menikmati Segarnya Persawahan di Kota Denpasar

Dengan rasa penasaran, Sabtu pagi kemarin, saya bergegas menuju lokasi Ekowisata Subak Sembung.

Sejak dua hari sebelumnya saya sudah meng-iyakan janji untuk bertemu sobat lama di sana. Rencananya sih pengen ketemuan sambil ngobrol dan jalan-jalan sehat di pagi hari sambil menghirup udara segar persawahan.

Apa daya mata ini tak mau diajak kompromi untuk bangun pagi. Semalam pulang tengah malam keasikan nonton Festival Lampion di Nusa Dua. Jadilah saya kesiangan pagi ini. Apalagi langit masih gelap sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Duh, beratnya membuka mata ini.

Karena belum pernah ke lokasi, saya mesti mohon petunjuk mbah Google. Ternyata dekat sekali, hanya 12 menit menuju ke sana. Jadi langsung cuusss…

Sampai di sana sobat saya dan keluarganya sudah bersantai di warung dekat loksi parkir. Sedang menikmati soto dan minuman segar setelah berjalan-jalan menyusuri persawahan. Jadi, saya terlambat untuk sesi jalan pagi. Baiklah…

Jalan-Jalan di Ekowisata Subak Sembung

Setelah mengobrol dan janji bertemu lagi, saya memutuskan untuk explore sendirian di area ekowisata. Memang sudah terlalu siang, karena sudah pukul 10 lebih. Cuaca agak mendung dengan awan bergumpal di atas.

Panas? Tetap. Tapi keuntungannya adalah sepi pengunjung. Jadi saya bisa sepuasnya explore dan memotret tanpa gangguan. Hepi? Bangeettt…

Menarik bahwa ekowisata ini terletak di pinggiran kota Denpasar.

Tepatnya di kawasan Peguyangan, Denpasar Utara. Dengan areal seluas kurang lebih 115 ha dan didukung oleh 200 an orang petani, sawah ini berproduksi setiap tahun. Betapa beruntungnya, tak harus jauh-jauh ke Jatiluwih untuk bisa menikmati asiknya berjalan-jalan di area persawahan.

Gerbang masuknya sederhana saja, alami. Saya menyusuri jalan paving di tepi aliran air irigasi. Airnya bening dan segar. Di kiri kanan berjajar bentangan persawahan luas.

photo credit by christi laksita

Ada juga beberapa tanaman sayur semusim selain padi seperti cabai dan bawang.

Hanya tinggal satu dua petani yang masih bekerja. Kebetulan pula sebagian sawah baru saja dipanen, jadi saya tidak mendapatkan banyak foto persawahan hijau.

Walau sudah hampir habis padi yang menghijau, tetap saja menarik mengabadikan pemandangan alam ini. Suara musik bambu terdengar mengalun setiap hembusan angin. Gemericik air menenangkan hati. Ratusan burung kecil mencari sisa-sisa bulir padi yang tertinggal saat panen. Puluhan bebek bermain lumpur mencari makan. Semua melengkapi keindahan area persawahan yang terbentang luas di hadapan saya.

Entah kenapa, semua tampak begitu asri dan sempurna. Bahkan warna coklat tanah berlumpur dan batang padi kecoklatan tampak serasi. Dikelilingi rumput dan gulma aneka warna. Tanaman merambat maupun tanaman liar, semua tumbuh subur, menghijau dan berbunga cantik.

Jalan setapak berpaving juga bersih dan rapi.

Pejalan kaki bisa menikmati suasana dengan santai. Di sana sini terdapat canang sesajen.

Dan sebuah patung Dewi Sri yang cukup besar dan cantik. Dewi Sri, adalah dewi padi dan sawah, lambang kesuburan di Jawa dan Bali.

Area Ekowisata Subak Sembung ini memang terjaga kebersihannya.

Disediakan tempat sampah dan banyak rambu-rambu peringatan untuk selalu menjaga kebersihan.

Ada juga balai tempat berteduh dan duduk-duduk melepas lelah. Beberapa gubuk sawah kecil, dan bangku kecil. Saya merasa nyaman saja duduk di jalan paving yang bersih ini.

Betapa saya tak ingin pergi dari tempat ini. Sebagai petani yang tak punya sawah, saya memang selalu jatuh cinta dengan segala yang tumbuh dari tanah. Bermimpi suatu hari bisa menjadi petani sejati yang memiliki sawah sendiri.

Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir, saya bertemu dengan anak-anak yang bermain-main di sawah. Mereka lucu dan ramah, dan mau saya foto. Betapa bahagianya mereka , tanpa beban. What a lovely day…