Kopi Babah Kacamata Salatiga, Kopi Robusta Indonesia Yang Mendunia

Wahai coffee lovers, kopi Babah Kacamata ini wajib jadi agenda shopping kamu di Salatiga.

Kopi Robusta yang sudah dijual sejak 1965 ini bahkan terkenal sampai ke mancanegara. Walaupun kopi bukan asli dari Salatiga, melainkan dari Pingit-Magelang, namun kopi ini diracik sendiri oleh pemilik usaha. Semua pengolahan berawal dari biji kopi.

Tidak ada rahasia dalam proses pengolahannya. Namun mungkin yang membuatnya istimewa adalah tungku yang dipakai masih menggunakan tungku pertama sejak awal pembuatan kopi Babah Kacamata ini.

Nama Babah Kacamata sendiri konon diberikan oleh para pelanggan, karena pengusaha pertama memang berkacamata. Saat ini penerus bisnis adalah anaknya. Sehari rata-rata bisa memproduksi dan menjual 100-200kg kopi. Luar biasa ya…

Kopi Babah Kacamata ini bisa ditemukan di hampir semua toko di Salatiga. Saya sendiri lebih sering membeli di pasar, di toko salah satu anak Babah Kacamata. Untuk toko asli dan pabriknya ada di Jl. Kalinyamat 16, Salatiga.

Kemasan 1 ons harganya hanya Rp. 7.500/bungkus. Sedangkan kemasan 2,5 ons harganya Rp. 18.000, untuk kemasan 1kg hanya Rp. 70.000 saja. Semuanya sudah dalam bentuk kopi giling halus.

Rasa pahit dengan aroma khas kopi Babah kacamata ini memang membuat ketagihan. So, wajib dicoba ya, cocok juga buat oleh-oleh bagi teman dan kerabat.

Kampung Singkong Salatiga-Singkong Keju D9

Kampung Singkong Salatiga. Kampung wisata kuliner dengan menu utama singkong ini selalu penuh pengunjung. Kreatifitas penduduk Ledok, Argomulyo ini memang mengundang minat pecinta kuliner. Singkong, yang dikenal dengan makanan ndeso ini berubah menjadi salah satu oleh-oleh khas Salatiga yang paling dicari.

Setelah Gethuk Kethek yang terkenal, maka kini bertambah menu pilihan dari singkong yang menjadi ikonik. Dari berbagai merk singkong yang ditawarkan, pemilik Singkong Keju D9 adalah pioner pembuat singkong presto di Kampung Singkong Salatiga.

Jpeg

Kisah berawal dari tahun 2009, pak Haryadi, pemilik usaha Singkong Keju D9, mulai berjualan singkong presto dengan gerobak di Lapangan Pancasila. Dengan bahan baku 5kg sehari, berhasil mengembangkan bisnisnya hingga sebesar sekarang. Walaupun tidak lagi berjualan di Lapangan Pancasila, namun sekarang rumahnya diubah menjadi Kafe Singkong Keju D9.

Karena kebetulan saya lupa memotret singkong keju di lokasi, foto saya ambil dari google, dokumentasi dari garnesia.com

Menarik mengikuti kisah perjalanan pengusaha Singkong Keju D9 yang pernah diundang di acara Kick Andy ini. Bahkan nama D9 ini ternyata adalah nomer kamar sel pak Haryadi sewaktu mendekam di penjara karena kasus narkoba. Perjuangannya untuk bersih dari narkoba dan menjadi sukses seperti sekarang layak untuk menjadi contoh. Omzet penjualannya sekarang bahkan mencapai 2-3 ton singkong per hari.

Dari olahan singkong ini kita bisa memilih dari berbagai varian rasa mengoda. Singkong original, Singkong Keju Mayones, Singkong Daging Sapi Lapis Keju, Singkong Keju Tuna, dll. Bukan hanya singkong yang tersedia dan bisa dinikmati di cafe ini. Ada banyak pilihan lainnya seperti gemblong cotot, rolade daun singkong, gethuk telo ungu,timus, lumpia, resoles, egg roll waluh, macam-macam snack, hingga berjenis-jenis keripik dan bahkan ice cream jadul.

Jpeg

Wah… wah… bisa kalap dan lapar mata kalau berkunjung ke Cafe Singkong Keju D9. Apalagi bagi pecinta makanan tradisional, pas sekali menikmati camilan sambil ngopi di sini.

Jpeg

Mau dibawa pulang? Bisa bangeeett.. Tersedia juga singkong frozen yang aman dibawa dalam perjalanan. Kalau mau yang siap santap juga bisa, ada kemasan untuk dibawa pulang.

Masalah harga, pasti terjangkau. Terakhir saya berbelanja ke sini harganya masih sama. Untuk singkong frozen harganya Rp. 10.000/pax. Singkong goreng original Rp. 15.000/dus, singkong keju Rp. 16.000/dus dan singkong keju coklat Rp. 17.000/dus. Semua nikmat dimakan hangat-hangat, crispy dan renyah digigit.

Rawa Pening – Indahnya Jembatan Biru

Jembatan Biru yang hits ini merupakan jembatan unik yang menjorok sampai ke tengah danau Rawa Pening. Jembatan ini nampaknya memang sengaja dibangun bagi wisatawan yang ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan sampai ke tengah rawa.

Tidak sulit mencapai lokasi ini. Dari arah Salatiga, ambil jalan menuju ke Semarang. Setelah melewati batas kota Salatiga, sebelum masuk ke area kebun kopi Bawen, akan melewati jembatan Tuntang. Nah, tepat di sebelah kiri di ujung jembatan ada jalan masuk ke kiri. Ikuti saja jalannya sampai nanti menemukan plang nama Jembatan Biru di kiri jalan.

Di sepanjang jalan kita akan melihat perkampungan penduduk, area persawahan, aliran air sungai, rel kereta api. Semua juga keren loh untuk menjadi objek foto.

Tempat parkir lokasi wisata Jembatan Biru cukup luas.

Namun jika hari libur pastilah ramai sekali dan akan cukup sulit mendapatkan tempat parkir. Ketika terakhir kali ke sini beberapa  waktu lalu, tiket masuk masih gratis tiiisss. Hanya membayar uang parkir saja, untuk mobil Rp. 5.000,00 dan motor Rp. 2.000,00.

Dari tempat parkir menuju ke Jembatan Biru, kita akan melewati warung-warung yang menyediakan makanan, minuman dan menyewakan toilet. Namun nampak kurang tertata rapi dan bangunannya asal-asalan saja. Sehingga terlihat tidak menarik bahkan cenderung terkesan kumuh.

Kita juga akan melewati rel kereta api.

Ini adalah rel kuno yang sudah lama sekali tidak digunakan kembali. Di sisi lain jembatan Tuntang, terdapat Stasiun Kereta Api lama yang tidak beroperasi. Lain kali akan saya ceritakan ya…

Dahulu pada awalnya, memang jembatan ini dicat dengan warna biru dan putih.

Karena warna biru yang lebih dominan, sehingga dinamakan Jembatan Biru. Pada saat pengecatan ulang, diganti dengan cat warna-warni mirip pelangi. Meriah. Terlihat begitu menonjol di antara warna hijau dan air rawa yang tenang. Namun namanya tidak berubah, tetap Jembatan Biru.

Di sepanjang jembatan, kita bisa berjalan-jalan dan menikmati keindahan Rawa Pening yang damai dan sejuk. Lalu mata akan terpesona dengan pemandangan danau rawa yang dikelilingi gugusan gunung.

Gugusan gunung ini adalah Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Perahu nelayan bergerak melintas di depan mata, gerakannya pasti dan tenang. Indahnya…

Dan seperti layaknya daerah berawa, Rawa Pening ini permukaannya juga dipenuhi vegetasi. Tanaman enceng gondok masih mendominasi setelah puluhan tahun.

Karena suburnya, sampai-sampai diturunkan alat berat khusus yang setiap hari rutin membersihkan enceng gondok ini. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan ruang dan oksigen yang cukup bagi ekosistem rawa untuk berkembangbiak dengan baik.

Sebagian dari tanaman enceng gondok itu kini diolah menjadi berbagai macam kerajinan, hasil tangan-tangan terampil penduduk sekitar. Bahkan ada yang dijadikan kertas dan menghasilkan tekstur yang unik. Kearifan lokal yang layak terus dikembangkan.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-sunrise-bukit-cinta/

Rawa Pening: Sunrise Bukit Cinta

Rawa Pening, danau rawa indah dengan view yang amazing di Ambarawa. Wisata Rawa Pening ini  menarik selain karena keindahannya juga karena kisah-kisah mistis di sekitarnya.

Legenda yang mengawali kisah terjadinya Rawa Pening ini melibatkan mitos Naga Baru Klinting yang hingga sekarang dipercaya masih menjadi penunggu rawa. Konon ceritanya, masih sering muncul penampakannya kata penduduk sekitar dan para pemancing. Hohoho… selow yaaa… kita akan membahas keindahannya saja kali ini.

Menikmati keindahan Rawa Pening ini bisa dengan berbagai cara. Misalkan untuk pemilihan lokasi, bisa dipilih dari Bukit Cinta atau Jembatan Biru, dua tempat hits yang paling sering dikunjungi wisatawan. Kita bisa berjalan-jalan, bersantai di tepian rawa atau bisa juga menikmati danau rawa dengan naik perahu. Rasanya pilihan terakhir ini lebih menggoda ya.

Lalu kapan saat terbaik menikmati keindahan Rawa Pening ini? Waktu sunrise, siang hari atau sunset, semuanya indah dan punya daya tarik tersendiri.

Bagi para pecinta fotografi, sunrise Rawa Pening bisa menjadi tantangan menarik untuk diabadikan. Salah satu sunrise cantik pilihan saya adalah Bukit Cinta. Untuk mencapai lokasi ini sebaiknya berangkat pagi subuh dari Salatiga melalui jalan ke Muncul/Banyubiru.

Jangan lupa pakai jaket tebal ya, karena udara bisa dingin sekali. Nah, selain itu, mesti prepare terutama hp dan camera harus full baterainya, atau membawa power bank dan cadangan. Bisa emosi jiwa sangaaadd kalau lagi seru-serunya mengambil foto lalu tetiba baterai habis, oohhh noooo…

Sinar matahari biasanya mulaimuncul sekitar jam 4:30 pagi dan kita bisa menikmatinya sampai jam 7 pagi atau lebih. Namun semakin siang akan semakin panas dan pencahayaan menjadi terlalu terang, hasil foto menjadi kurang bagus. Namun pasti ada banyak moment yang bisa diabadikan dan menghasilkan foto-foto epic dan mengesankan.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-indahnya-jembatan-biru/