Candi Arjuna Dieng, Candi Tertua Yang Gagah

Dieng tak lepas dari daya tarik keindahan kompleks Percandian Arjuna.

Kompleks Candi Arjuna adalah lokasi terfavorit para pemburu embun upas yang muncul di tiap musim dingin. Embun upas terjadi saat suhu mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Pada kondisi ini semua cairan membeku. Tercatat pada awal bulan Agustus 2019 ini suhu terendah di Dieng mencapai minus 11 derajat Celcius. Brrrr….

Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna. Dalam sejarahnya, Candi Arjuna diperkirakan sebagai candi tertua yang dibangun abad 8M oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno (sumber: Wikipedia).

Begitu berjalan masuk gapura kompleks candi, di kiri kanan terlihat hamparan taman dengan rumput yang terawat rapi. Pohon-pohon rindang sebagai peneduh memayungi jalan setapak. Beberapa tumpuk batu candi terkumpul di beberapa lokasi. Tampaknya pemugaran masih terus berlangsung.

Di tengah hamparan rumput yang luas, Candi Arjuna berdiri megah. Walau memang tak sebesar Borobudur atau Prambanan, Candi Arjuna tampak gagah didampingi beberapa candi kecil. Ada candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Semar. Juga beberapa candi lain.

Saya rasa daya tarik candi juga karena candi dengan view pegunungan yang indah. Hijaunya latar belakang candi ini menambah cantik hasil foto.

Ada yang unik berkesan kekinian untuk ber-swafoto. Saat mengunjungi Candi Arjuna saya bertemu dengan Buto Cakil dan Po si Teletubbies merah. Jika tertarik bisa foto bersama dengan tokoh-tokoh ini. Bayarannya sukarela kok, minimal Rp. 5.000,- saja.

Biasanya pemain di balik topeng tokoh-tokoh ini adalah penduduk sekitar yang mencari penghasilan tambahan. Karakter yang dipilih bisa beragam. Baik dari tokoh pewayangan sampai cerita kartun anak-anak yang lagi hits seperti power ranger. Agak-agak geli juga foto bersama karakter kekinian dengan latar belakang bangunan kuno berumur berabad-abad.

Oya, Kompleks Candi Arjuna ini adalah Candi Hindu. Saat memasuki kawasan Candi Arjuna kita wajib memakai kain batik yang disediakan di pintu masuk. Biaya sewa sukarela saja, diberikan saat selesai mengunjungi candi.

Berburu Sunrise di Puncak Sikunir, Dieng

Siapa yang tidak mengenal keindahan Negeri di Atas Awan, julukan keren untuk Dieng sebagai destinasi wisata favorit di Wonosobo.

Salah satu spot yang paling diminati adalah sunrise  di Puncak Sikunir yang terletak di Desa Sembung, desa tertinggi di pulau Jawa. Berada di ketinggian sekitar 800m dpl, pendakian biasanya dimulai saat subuh sekitar pukul 03.30-04.00 WIB.

Waktu pendakian juga relatif singkat yaitu sekitar 30-60 menit sesuai kekuatan masing-masing.

Rute menuju Sikunir juga cukup mudah. Dari alun-alun kota Wonosobo langsung lurus saja ke arah Dieng. Sesampainya di gerbang Dieng, bisa langsung ambil jalan ke kiri kearah Telaga Warna. Lalu lurus ke Desa Sembungan.

Area parkir disediakan cukup luas, nggak perlu kuatir tidak kebagian tempat parkir saat padat pengunjung. Jarak dari tempat parkir ke Pos pendakian sekitar 2km. Namun tidak harus berjalan kaki kok, karena ojek siap mengantar dengan tarif cukup murah.

Dingin? Bangeetttt…. Suhu dini hari saat musim embun upas muncul bisa mencapai minus 11 derajat Celcius. Brrrrr… Bawa air minum saja bisa beku seperti es, daun-daun juga membeku. Makanya mesti pakai baju yang hangat ya.

Pakailah jaket tebal, celana yang lentur dan hangat, kaos tangan, syal, tutup muka, kaos kaki, sepatu dan topi yang menutup sampai telinga.

Dari pos pendakian jalan cukup menanjak, jalan yang berupa paving cukup mempermudah pendakian awal. Sepanjang kurang lebih 200m jalanan paving ini, di kiri kanan jalan berjajar rumah penduduk. Semua berjualan makanan dan minuman bahkan oleh-oleh khas Dieng.

Minuman panas dijajakan, lengkap dengan berbagai macam gorengan dan rendang kentang yang menggoda. Mi instan tentu saja juga menjadi salah satu menu pilihan favorit. Siapa yang bisa menolak makan mi kuah panas di udara sedingin ini?

Juga tersedia toilet dan mushola. Semuanya lengkap. Jadi bisa istirahat sebentar atau sembahyang di area ini, mengumpulkan tenaga kembali. Karena setelah ini, jalanan berubah menjadi anak tangga dari batu dan tanah.

Selama perjalanan berikutnya, pendakian cukup menanjak. Jarak tiap anak tangga juga lumayan. Sebaiknya berjalan pelan-pelan sekuatnya saja. Jika terasa lelah bisa berhenti sejenak sambil mengatur nafas.

Untuk sampai ke Puncak Sikunir kita akan melalui 3 Pos pendakian.

Jika merasa sudah tidak kuat mendaki disarankan istirahat di Pos 1 atau Pos 2. Sunrise dari 2 pos ini juga indah kok. Jadi jika benar-benar merasa tidak kuat bisa berhenti dan menikmati sunrise sambil ngopi di warung yang ada di Pos.

Tapi menurut saya, rugi banget kalau hanya berhenti di Pos 1 atau Pos 2, karena semua hal terbaik menantimu di Puncak Sikunir. View keren dari Puncak Sikunir… Awesome…

Lalu, saat turun dari Puncak Sikunir, kita masih disuguhi pemandangan indah dan menakjubkan dari Telaga Cebong dari ketinggian. Gorgeous…