Seni Menikmati Kopi di Seniman Coffee Studio, Ubud

Coffee lovers, kalau mau mencoba sesuatu yang lain, kunjungi Ubud Bali. Selain rasa kopinya yang nikmat, suasana dan tempatnya juga cozy banget. Plus penataan dengan cita rasa ala galeri seni. Instagramable.

Inilah Seniman Coffee Studio, salah satu tempat hangout favorit yang menyajikan berbagai menu pilihan dan kopi istimewa. Terletak di Jalan Sriwedari No. 5 Ubud, Bali.

Outlet ini memang unik. Kursi plastik yang saya duduki yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kursi goyang yang nyaman. Tata ruang dan berbagai souvenir yang dipajang di rak-rak dinding, menambah cantik ruangan.

Di bar, duduk beberapa tamu menikmati kopi. Ada juga tamu yang sedang ngobrol dengan barista yang dengan sabar dan ramah menjelaskan setiap pertanyaan sambil meracik kopi. Sementara beberapa tamu lain memilih duduk di sofa nyaman.

Lalu tibalah pesanan saya. Tersaji dengan penataan yang unik. Secangkir cappuccino dilengkap dengan air putih dalam gelas yang terbuat dari botol daur ulang ditambah sekeping cookie. Detox juice yang saya pilih juga pas sekali. Setelah lelah berjalan-jalan di seputar Ubud, seporsi besar menu utama plus kopi nikmat memang cocok banget meredakan gejolak di perut.

Tak hanya berhenti pada interior dengan tema recycle-up yang kreatif penuh seni, Seniman Coffee Studio juga juga me-roasting kopi mereka sendiri. Tersedia banyak pilihan biji kopi yang bisa dibeli untuk dibawa pulang, semua adalah kopi plilihan dari berbagai daerah.

Oya, di sebelah ada Bar Seniman, yang menyediakan alcohol infused signature drinks dan classic cocktails/coffee. Jam bukanya lebih sore, pukul 5pm-11.59pm. Design interiornya juga unik dan nyaman.

Sementara di seberang jalan yang juga msih merupakan bagian dari outlet, dipajang beberapa mesin kopi yang dijual. Juga beberapa pilihan produk sampingan. Selain menjual kopi, Seniman Coffee juga mengolah ampas kopi menjadi sabun mandi alami. 

Bahwa kopi lebih dari sekedar tegukan, itulah pesan yang saya tangkap saat berkunjung ke sini. Dan itulah sebabnya mengapa tamu selalu kembali lagi ke sini lagi dan lagi dan lagi…

Tempat dimana seni dan kopi berpadu menjadi satu, istimewa…

Pulau Serangan, Pesona Wisata Alam di Tengah Kota Denpasar

Berlibur tak harus mahal, pantai cantik di tengah kota Denpasar ini bisa menjadi pilihan menikmati alam dan sunset indah.

Saya beruntung pernah beberapa kali mengunjungi Pulau Serangan yang beberapa waktu ini tertutup untuk umum. Nama Pulau Serangan ini diambil dari nama desa Serangan yang dulunya adalah sebuah pulau kecil terpisah.

Pulau Serangan ini unik, karena penduduknya sebagian besar ber-etnis Bugis. Ya, mereka memang aslinya adalah pendatang, pengungsi dari Makasar yang kemudian menetap di pulau ini.

Sekarang, akses masuk menuju ke Desa Serangan menjadi lebih mudah ketika akhirnya Pulau Serangan menjadi satu daratan dengan Pulau Bali. Semua ini berkat proyek reklamasi yang menyatukan kedua pulau.

Jalan masuk menuju Pulau Serangan dari jalan raya sudah beraspal. Kiri kanan jalan dipenuhi pohon pinus sebagai peneduh. Ada banyak penjual makanan dan minuman di sekitar jalan. Namun jalan masuk yang langsung ke pantai masih berupa tanah berkapur. Tiket masuk kala itu murah sekali, hanya membayar Rp. 2.000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Sebuah jembatan menjadi penanda pintu masuk ke Pantai Serangan. Aroma pantai langsung menyapa begitu kita berada di area ini. Di sebelah kiri adalah hutan buatan dengan pohon-pohon besar. Sedangkan di bagian kanan jalan kita bisa langsung menikmati keindahan pantai, di seberang terlihat Tanjung Benoa lokasi permainan watersport.

Pantai tenang saat sore hari dan airnya tidak bergelombang besar. Terlihat beberapa wisatawan sedang bersantai bersama keluarga menikmati sore sambil bermain air.

Pesawat beterbangan di atas kami, dan terlihat beberapa cruise memulai perjalanan pelayarannya. Burung bangau mencari makan di tepi pantai. Sementara burung-burung kecil beterbangan dari pohon ke pohon secara berkelompok. Indahnya…

Menyusuri jalan masuk ke dalam hutan, terlihat betapa teduh jalanan karena rimbunnya pohon-pohon besar. Walau debu masih cukup banyak karena tanah memang tidak beraspal. Namun keindahan rindangnya pohon pinus bagi saya tetaplah juaranya.

Di beberapa tempat terlihat sekawanan sapi merumput dengan tenang. Tak ada rasa kawatir dengan kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa bapak-bapak mencari makan ternak di sekitar rawa. Semua kegiatan tampak alami dan menyatu dengan keindahan alam. Sempurna.

Di pantai banyak pengunjung yang berenang, memancing atau sekedar bermain air. Bahkan beberapa wisatawan terlihat asik berselancar, kebanyakan wisatawan asing.

Pura tempat sembahyang begitu menonjol di tepi pantai dalam semburat lembayung senja.

Cuaca sore ini memang cerah dan langit bersih. Menyenangkan rasanya bisa menikmati udara segar ini dari alam terbuka.

Perlu waktu setidaknya 2 jam untuk berkeliling area Pulau Serangan ini dengan berkendara. Namun pasti perlu waktu lebih lama lagi bila juga ingin berenang dan mengambil beberapa foto cantik.

Dalam perjalanan kembali, bertepatan dengan waktunya sunset beraksi. Warna jingga di langit menjadi latar belakang lukisan alam. Duuuhhh, cantiknyaaaa…

Wisata Edukasi dan Belanja di Secret Garden, Bedugul

Bedugul bukan hanya menawarkan wisata alamnya yang indah dan sejuk. Banyak tempat wisata bernuansa alam yang menarik di sana.

Salah satu tujuan wisata yang menawarkan pengetahuan budaya tradisional perawatan tubuh yang mengedukasi adalah Secret Garden. Terletak di Jalan Raya Bedugul Km. 36, di sisi kanan jalan raya bila berangkat dari arah Denpasar.

Lokasinya cukup mudah ditemukan karena bangunannya unik. Hasil karya Andra Martin, arsitektur terkenal yang banyak andil dalam berdirinya beberapa bangunan terkenal di Bali. Penataan taman dan bangunan indah dan banyak spot foto kekinian. Sejak pintu masuk kita sudah disuguhi dengan cantiknya ornamen yang tertata serasi.

Setelah membayar tiket di loket sebesar Rp. 50.000/WNI dan Rp. 100.000/WNA, kita akan dipandu seorang guide dalam satu kelompok kecil. Jadi harga tiket yang cukup mahal ini sudah include dengan guide ya gaes. Guide akan memandu dan menjelaskan segala hal selama tour.

Tour ini dimulai dengan mengunjungi museum, pabrik pembuatan produk Herborist, pemutaran film dan kemudian belanja produk. Mengapa produk Herborist? Karena Secret Garden ini adalah showroom dan edukasi dari produk Herborist.

1. Museum

Museum ini bernama Beauty Heritage Museum. Terdapat berbagai peralatan meramu jamu dan produk kecantikan kuno. Walau pun kecil namun unik dan menarik penataannya. Bahkan ada becak di dalamnya. Kesan yang ditangkap adalah museum yang kekinian dan tidak membosankan.

2. Pabrik

Pabrik Oemah Herborist ini satu-satunya lokasi dimana kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Tas dan HP kita disimpan di loker yang disediakan. Dan kita semua wajib memakai jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik seperti penutup sepatu dan kepala.

Sebelum masuk ke pabrik, kita diberikan kesempatan berfoto 3D lengkap dengan jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik. Diberikan kesempatan 2-3 kali bergaya , dan bisa dipilih salah satu foto terbaik untuk dicetak. Tentu saja dengan mengganti biaya cetak.

Pabriknya tidak terlalu besar, sehingga tidak memerlukan waktu lama berkeliling. Guide tetap setia menemani dan menjelaskan setiap pertanyaan kami.

3. Belanja Produk

Setelah berkeliling pabrik, kita diajak menikmati sebuah film pendek. Ruangannya tidak terlalu besar, muat untuk sekitar 40-50 orang. Film ini berdurasi tidak lebih dari 10 menit. Berisi penjelasan produk premium unggulan Herborist.

Kemudian, barulah kita mulai berkeliling toko dan berbelanja. Semua produk komplit dan tersedia dalam tatanan dan pencahayaan yang menarik. Mulai dari produk umum sampai yang premium yang jarang kita temukan di toko atau supermarket.

Produk kecantikan seperti berbagai macam perawatan mandi, perawatan badan, rambut, parfum, berbagai macam minyak massage, semua ada. Favorit saya di bagian sabun, parfum dan produk premium.

Di section produk premium, didemokan pemakaian produk andalan anytime by request. Tentu saja saya tidak menolak untuk menjadi relawan percobaan lulur. Tangan jadi halus dan wangi. Karyawatinya juga ramah dan helpfull, mampu menjelaskan produk dengan baik.

Harga jual produk memang lebih murah daripada harga umum. Jadi kalau memang sehari-hari menggunakan produk Herborist, sebaiknya sekalian memborong beli banyak untuk stock di rumah. Counter kasir juga cukup banyak sehingga tidak perlu antre lama.

4. Kafe & Restoran

Salah satu hal yang menjadi daya tarik adalah tersedianya tempat makan yang mewah dengan view indah.

Setelah capek berkeliling dan belanja, kita bisa menikmati secangkir kopi nikmat. Banyak pilihan kopinya. Bahkan terdapat juga museum kopi lengkap dengan beragam koleksi peralatannya. Eh, ada juga luwak hidup di kandang di samping resto.

Resto juga berkesan mewah dengan karena arsitekturnya yang keren. Terasa nyaman banget untuk bersantai. Udara dingin dan segar serta view cantik membuat tamu betah berlama-lama di sini.

Sayang sekali saat berkunjung saya sudah terlalu sore. Sebagian waktu untuk tour dan belanja, sehingga ketika sampai resto ternyata sudah tutup. Hari sudah malam dan hanya bisa menikmati kopi sebentar saja.

So, saran saya, waktu yang tepat berkunjung adalah setelah jam makan siang. Bisa menikmati waktu lebih panjang untuk tour, belanja dan menikmati sunset sambil seruput kopi.

Pantai Yeh Gangga dan Pura Batu Bolong di Tabanan yang Sakral

Bali memang kaya dengan pantai indah. Salah satunya adalah Pantai Yeh Gangga, pantai cantik yang masih jarang dikunjungi wisatawan.

Lokasinya di Tabanan, bisa searah saat mengunjungi Tanah Lot dan Taman Ayun. Tiket masuk masih free, hanya membayar parkir saja Rp. 2000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Hari itu ketika saya menikmati sore di pantai, saya terpukau melihat beberapa orang asing sedang membersihkan pantai dari sampah. Terharu dan malu bercampur dalam hati.  Betapa orang asing begitu peduli akan keindahan dan kebersihan pantai ini. Lalu, mengapa kita justru sering mengabaikan dan mengotori anugrah alam yang indah ini?

Pantai Yeh Gangga mempunyai garis pantai yang panjang, dengan pasir lembut berwarna gelap. Di sekitarnya terdapat beberapa hotel besar dan mewah. Sepertinya semakin berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini.

Ada beberapa aliran anak sungai yang bermuara di pantai, menambah keindahan pantai ini.

Menurut saya, pantai ini menarik karena masih alami, tidak banyak pengunjung disana. Kebetulan, saat saya mengunjungi pantai, di bagian Timur pantai sedang ada persiapan upacara.

Sedangkan di ujung Barat, sedang bersiap anak-anak TK menari dalam acara pelepasan sekolah. Lucu-lucu sekali mereka ini dalam dandanan adat Bali dan siap pentas. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan semua sore ini.

Pura Batu Bolong

Di ujung Barat Pantai, terdapat batu karang unik karena berlubang di bagian tengahnya. Dari kejauhan lubang berbentuk seperti hati, unik kan.

Di atas batu karang ini terdapat sebuah pura. Namanya Pura Batu Bolong. Memang di sini sering digunakan untuk upacara Melasti dan pelepasan abu kremasi saat Ngaben.

Warung Tulus Lobster

Daya tarik lain pantai ini adalah Warung Tulus Lobster yang terletak persis di tepi pantai. Dilengkapi dengan bean bag (bantal pantai) yang nyaman untuk menikmati sunset. Benar-benar memanjakan pengunjung untuk menikmati sunset.

Rasanya menghabiskan malam di sini juga romantis karena banyak terdapat lampu-lampu cantik betebaran. Berasa di La Pancha Seminyak, namun suasananya lebih tenang. Tak perlu antre atau booking untuk mendapatkan tempat duduk.

Pantai yang cocok untuk wisata keluarga

Pantai yang luas, bersih dan jauh dari keramaian ini memang nyaman sebagai tempat menghabiskan senja. Rasanya menyenangkan berjalan-jalan tanpa harus selalu berpapasan dengan pengunjung lain.

Perahu nelayan berderet berlabuh di tepi pantai. Beberapa nelayan sedang memeriksa jaring. Bersiap untuk berlayar mencari ikan esok subuh.

Sementara anak-anak berlarian di pantai, bermain dengan riangnya. Semua melengkapi kesan tentang kenangan sebuah pantai alami yang penuh kehidupan.

Ekowisata Subak Sembung, Menikmati Segarnya Persawahan di Kota Denpasar

Dengan rasa penasaran, Sabtu pagi kemarin, saya bergegas menuju lokasi Ekowisata Subak Sembung.

Sejak dua hari sebelumnya saya sudah meng-iyakan janji untuk bertemu sobat lama di sana. Rencananya sih pengen ketemuan sambil ngobrol dan jalan-jalan sehat di pagi hari sambil menghirup udara segar persawahan.

Apa daya mata ini tak mau diajak kompromi untuk bangun pagi. Semalam pulang tengah malam keasikan nonton Festival Lampion di Nusa Dua. Jadilah saya kesiangan pagi ini. Apalagi langit masih gelap sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Duh, beratnya membuka mata ini.

Karena belum pernah ke lokasi, saya mesti mohon petunjuk mbah Google. Ternyata dekat sekali, hanya 12 menit menuju ke sana. Jadi langsung cuusss…

Sampai di sana sobat saya dan keluarganya sudah bersantai di warung dekat loksi parkir. Sedang menikmati soto dan minuman segar setelah berjalan-jalan menyusuri persawahan. Jadi, saya terlambat untuk sesi jalan pagi. Baiklah…

Jalan-Jalan di Ekowisata Subak Sembung

Setelah mengobrol dan janji bertemu lagi, saya memutuskan untuk explore sendirian di area ekowisata. Memang sudah terlalu siang, karena sudah pukul 10 lebih. Cuaca agak mendung dengan awan bergumpal di atas.

Panas? Tetap. Tapi keuntungannya adalah sepi pengunjung. Jadi saya bisa sepuasnya explore dan memotret tanpa gangguan. Hepi? Bangeettt…

Menarik bahwa ekowisata ini terletak di pinggiran kota Denpasar.

Tepatnya di kawasan Peguyangan, Denpasar Utara. Dengan areal seluas kurang lebih 115 ha dan didukung oleh 200 an orang petani, sawah ini berproduksi setiap tahun. Betapa beruntungnya, tak harus jauh-jauh ke Jatiluwih untuk bisa menikmati asiknya berjalan-jalan di area persawahan.

Gerbang masuknya sederhana saja, alami. Saya menyusuri jalan paving di tepi aliran air irigasi. Airnya bening dan segar. Di kiri kanan berjajar bentangan persawahan luas.

photo credit by christi laksita

Ada juga beberapa tanaman sayur semusim selain padi seperti cabai dan bawang.

Hanya tinggal satu dua petani yang masih bekerja. Kebetulan pula sebagian sawah baru saja dipanen, jadi saya tidak mendapatkan banyak foto persawahan hijau.

Walau sudah hampir habis padi yang menghijau, tetap saja menarik mengabadikan pemandangan alam ini. Suara musik bambu terdengar mengalun setiap hembusan angin. Gemericik air menenangkan hati. Ratusan burung kecil mencari sisa-sisa bulir padi yang tertinggal saat panen. Puluhan bebek bermain lumpur mencari makan. Semua melengkapi keindahan area persawahan yang terbentang luas di hadapan saya.

Entah kenapa, semua tampak begitu asri dan sempurna. Bahkan warna coklat tanah berlumpur dan batang padi kecoklatan tampak serasi. Dikelilingi rumput dan gulma aneka warna. Tanaman merambat maupun tanaman liar, semua tumbuh subur, menghijau dan berbunga cantik.

Jalan setapak berpaving juga bersih dan rapi.

Pejalan kaki bisa menikmati suasana dengan santai. Di sana sini terdapat canang sesajen.

Dan sebuah patung Dewi Sri yang cukup besar dan cantik. Dewi Sri, adalah dewi padi dan sawah, lambang kesuburan di Jawa dan Bali.

Area Ekowisata Subak Sembung ini memang terjaga kebersihannya.

Disediakan tempat sampah dan banyak rambu-rambu peringatan untuk selalu menjaga kebersihan.

Ada juga balai tempat berteduh dan duduk-duduk melepas lelah. Beberapa gubuk sawah kecil, dan bangku kecil. Saya merasa nyaman saja duduk di jalan paving yang bersih ini.

Betapa saya tak ingin pergi dari tempat ini. Sebagai petani yang tak punya sawah, saya memang selalu jatuh cinta dengan segala yang tumbuh dari tanah. Bermimpi suatu hari bisa menjadi petani sejati yang memiliki sawah sendiri.

Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir, saya bertemu dengan anak-anak yang bermain-main di sawah. Mereka lucu dan ramah, dan mau saya foto. Betapa bahagianya mereka , tanpa beban. What a lovely day…

Bertabur Ribuan Cahaya Lampu di Nusa Dua Light Festival

Ada yang seru di Nusa Dua, yang membuat saya rela berkendara selama 2 jam ke sana.

Weekend ini saya berkesempatan menikmati ribuan cahaya lampu di Nusa Dua Light Festival (NDLF), Bali. Nusa Dua Light Festival ini merupakan agenda tahunan dan tahun ini adalah yang keempat kalinya diadakan di tempat yang sama.

Saya bertiga dengan teman meluncur ke Nusa Dua sore itu berharap-harap cemas cuaca cerah sepanjang sore hingga malam. Festival lampion ini resmi dibuka 30 Mei 2019 dan berlangsung hingga 14 Juli 2019. Kami berharap masih belum terlalu penuh pengunjung sehingga bisa leluasa mengambil foto.

Diawali dengan Sunset di Nusa Dua Beach

Sesampai di Nusa Dua, kami mencari tempat parkir terdekat agar tidak terlalu jauh berjalan. Saat sampai, karena masih sekitar jam 6 sore, langit masih terang. Semburat warna merah oranye keemasan mulai muncul, saatnya matahari kembali ke peraduan. Warnanya cantik sekali. Sunset will coming soon.

Lalu, pantai berubah menjadi warna pink oranye keemasan, gemeees sekali. Tak tahan untuk tidak mampir pantai dan mengabadikan keindahannnya. Area festival ini memang berada di tepi pantai. Jadi double serunya.

Melihat-lihat kompleks Nusa Dua yang megah dan mewah plus menikmati keindahan sunset di pantai Nusa Dua. Tentu saja yang utama adalah menikmati keindahan ribuan lampu yang ditata indah. Ah, Bali memang selalu mempesona.

Terhampar di area seluas 7 hektar are, Nusa Dua Light Festival 2019 ini bertemakan “The Mountain View”.

Hal pertama yang menarik mata adalah lorong taman berdaun hijau, dimeriahkan burung-burung warna-warni beterbangan di atas lorong. Di kiri kanan lorong terdapat hamparan kebun bunga mawar, kebun bunga tulip, kebun buah dan ladang gandum.

Sesuai tema, di tengah area berdiri dua gunung kembar dengan matahari besar di tengahnya. Bahkan ada berbagai beberapa bangunan rumah bercahaya. Semuanya terbuat dari ribuan lampu berwarna-warni yang bercahaya indah dalam kegelapan.

Rasanya seperti berada di negeri dongeng. Kami mencoba berbagai cara dan teknik untuk mendapatkan hasil foto terbaik. Menjadi sebuah hiburan tersendiri karena hasilnya seringkali membuat kami tertawa geli melihat kekonyolan diri sendiri.

Selain ribuan lampu indah ini, ada juga Kids Playground. Dilengkapi dengan permainan Helikopter Mini, Euro Bungee, Kereta Mini, Trampolin, Rumah Balon dan Rumah Kelinci. So, jangan kuatir bagi yang ingin rekreasi bersama keluarga ya, pasti si kecil juga betah bermain lama-lama di sini.

Lapar? Nggak perlu keluar area, karena tersedia banyak pilihan kuliner. Stand makanan aneka pilhan berderet di sisi kiri pintu masuk. Bisa menikmati makan sambil memandang keindahan seni luar biasa ini.

Oya, pada tanggal 13-14 Juli 2091 penutupan Nusa Dua Light Festival ini akan dimeriahkan dengan penyelenggaraan Bali Blues Festival (BBF). Menghadirkan artis-artis nasional seperti Gugun Blues Shelter feat Emmy Tobing, Balawan, Gus Teja, Endah n Rhesa, juga dimeriahkan band lokal dan artis pendukung.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk untuk domestik weekday Rp. 30.000, weekend Rp. 35.000. Sedangkan tiket masuk untuk wisatawan asing weekday Rp. 75.000 dan weekend Rp. 100.000. Buka mulai pukul 16.00-22.00 WITA. Nah, yang keren nih, tiket bisa dibeli secara online di Traveloka, Gojek, Loket dan Tokopedia. Atau bisa dibeli langsung di tempat.

Kemudian untuk tiket permainan di dalam area Kids Playground-Nusa Dua Light Festival berkisar antara Rp 10.000 – Rp. 25.000 sesuai jenis permainan. Permainan Helikopter Mini, Kereta Mini, Rumah Balon dan Rumah Kelinci aman untuk anak usia 3 tahun ke atas. Namun permainan Euro Bungee dan Trampolin dibatasi untuk anak usia 6 tahun ke atas.

Berdasar pengalaman, saran saya, sebaiknya berkunjung lebih sore sekitar pukul 5 sudah di lokasi. Sehingga bisa menikmati suasana sebelum gelap. Hasil foto saat pencahayaan sore apalagi saat sunset lebih indah dan romantis. Please try…

Sekumpul Waterfall, Keindahan Ganda Sekumpulan Air Terjun di Buleleng, Bali

Air terjun, siapa yang tak suka menikmati keindahannya?

Air terjun, wisata alam cantik yang seringkali  membutuhkan energi untuk menikmatinya. Karena lokasinya yang sebagian besar tersembunyi dan sulit dicapai.

Kali ini saya dan beberapa teman berombongan mbolang ke Sekumpul Waterfall di Buleleng dengan motor. Perjalanan melalui rute Bedugul yang berliku naik turun. Udara pegunungan yang dingin dan segar menghibur saya.

Area parkir mobil cukup jauh dari air terjun.

Sesampainya di sana, ternyata area parkir mobil masih jauh dari air terjun. So, jika naik mobil, ada dua alternatif untuk sampai ke loket ticketing. Dengan naik ojek atau berjalan kaki.

Kebanyakan wisatawan asing memilih berjalan kaki. Tapi rata-rata wisatawan domestik memilih naik ojek. Beruntung kami naik motor sehingga bisa langsung menuju ticketing.

Jalan menuju ke loket ticketing berkelok dan sempit.

Jalan menuju ticketing sempit, hanya bisa dilalui satu motor. Menegangkan juga karena berkelak-kelok dengan jurang di satu sisi. Jika kebetulan berpapasan dengan pengendara motor dari arah berlawanan, salah satu harus mengalah. Sport jantung, uuuhhh… deg-deg an sangaaadd…

Dari area parkir motor, kita masih harus berjalan sekitar 200m ke loket ticketing. Di sini tersedia pula toilet yang bisa digunakan untuk ganti baju. Namun sayang kurang terawat, kurang bersih dan gelap.

Nah, kalau kelaparan, nggak perlu kuatir. Terdapat juga warung kecil untuk istirahat dengan menu sederhana. Tentu saja ada Indomie sebagai menu favorit.

Holy Water Spring, alternatif pertama air terjun

Setelah membeli tiket, di area kanan ticketing ada air terjun kecil, namanya Holy Water Spring. Airnya tidak terlalu dalam, bersih, jernih, segar.  Aman dan cocok untuk anak-anak berenang dan bermain santai.

Jika ingin yang lebih menantang, ambil jalan ke bawah menuju air terjun. Ada ratusan anak tangga yang harus kita turuni untuk menuju ke Sekumpul Waterfall. Sebagian jalannya masih berupa tanah, sebagian lagi berupa anak tangga semen. Cukup curam jadi mesti hati-hati ya, tetap fokus pada jalan. Walau menurut saya cukup aman karena ada pagar di kiri kanannya. 

Saya turun pelan-pelan dan banyak berhenti tergoda spot-spot cantik. Sayang nggak bawa camera, jadi harus cukup puas dengan HP.

Keindahan beragam air terjun di sepanjang perjalanan

Di sepanjang perjalanan banyak air terjun kecil yang cantik yang saya temukan. Juga jembatan-jembatan yang menggoda untuk diabadikan.

Jembatan penghubung ke Gombrong Waterfall dan Fiji Waterfall juga keren loh. Bisa jadi alternatif spot foto yang amazing.

Banyak juga ya air terjun di area ini, pantas saja namanya Sekumpul Waterfall. Baru kali ini saya mengunjungi area wisata yag penuh dengan air terjun menakjubkan. Ah, air terjun  memang selalu penuh pesona. Sayang saya tidak sempat menikmati semuanya.

Sekumpul Waterfall, air terjun yang amazing

Sampai juga akhirnya ke tujuan utama. Mata langsung terbuka lebar ketika sampai di Sekumpul Waterfall. Air terjun ini memang luar biasa menakjubkan.

Nggak rugi berlelah-lelah sampai ke sini. Amazing banget lihat sekumpulan air terjun berkumpul dalam satu lokasi. That’s why namanya Sekumpul Waterfall.

Airnya terasa dingin namun menyegarkan setelah berpanas-panas dan berjalan jauh. Tak bisa tidak, harus mandi dan berbasah-basah kalau sudah di sini. Hanya saja lebih hati-hati berjalan di kolam air terjun. Ada banyak lumut sehingga bebatuan cukup licin terasa di kaki.

Perjuangan kembali menaiki anak tangga menuju tempat parkir

Baliknya, OMG… sungguk-sungguh perjuangan. Mendaki tangga yang sama satu per satu dengan sisa-sisa tenaga itu sesuatu banget. Berasa lebih berat medannya dibandingkan mendaki Kawah Ijen, hahaha…  Nafas habis ketika sampai kembali di ticketing.

Akhirnya, memang harus beristirahat sebentar di warung sederhana ini untuk memulihkan energi. Bersyukur banget ada warung kecil penyelamat ini. Ibu pemilik warung juga ramah dan mau melayani semua permintaan. Dan kami duduk-duduk minum dan mencicipi menu seadanya. Coffee is the best choice for recovering energy, don’t you?

Menurut saya, lebih seru jika saat datang langsung eksplore turun ke air terjun. Setelah puas bermain air, baru kembali dan berbilas di Holy Water Spring. Airnya lebih hangat dan jernih. Bisa menghilangkan rasa lelah setelah menaiki ratusan anak tangga.

Bali Bird Park, Taman Burung Wisata Keluarga

Ini adalah salah satu wisata favorit saya, Bali Bird Park. Berlokasi di Jalan Serma Cok Ngurah Gambir Singapadu, Batubulan, Gianyar, Bali. Lokasinya dekat dengan Bali Safari Marine Park.

Mengunjungi Bali Bird Park bukan hanya melihat kecantikan ribuan burung-burung yang dirawat dengan baik. Tetapi mata juga dimanjakan dengan keindahan taman yang terdiri dari ribuan species dari berbagai daerah di Indonesia.

Tau nggak, taman burung ini berada di lahan seluas kurang lebih 2Ha. Ada sekitar 1000 burung dari 250 species berbeda, sebagian adalah burung langka. Demikian juga tamannya terdiri dari sekitar 2000 species berbeda. Wooow… Kebayang kan bagaimana indah dan berwarna-warninya taman burung ini.

Harga tiket domestik Rp. 140.000/dewasa dan Rp. 75.000/anak. Buka mulai jam 09.00-17.00 WITA.

Oya, jangan lupa minta brosur di loket ya, karena ada jadwal pertunjukan kerennya. Jangan sampai terlewat jam-jam pertunjukannya.

Jadwal atraksi dari Bali Bird Park
Perhatikan jadwal atraksi ya, karena seringkali kita terlalu asik dengan burung-burung ini sehingga lupa dengan pertunjukannya.

Beberapa atraksi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan adalah Basic Instinct, Lory feeding, Pelican feeding, Meet the Bird Star. Ada juga pemutaran film 4 dimensi dengan film yang berbeda-beda di setiap sesi pemutarannya. Semua ini bisa kita nikmati tanpa menambah biaya lagi.

Setelah dari loket, menuju ke taman, langsung terasa suasana alam menyapa. Kerindangan pohon-pohon besar dan hijaunya taman yang tertata indah. Banyak burung berwarna-warni hinggap di pepohonan, semuanya jinak dan terlihat sehat bahagia. Suara alam berbaur dengan kicauan bermacam-macam jenis burung. Rasanya damai.

Di bagian kiri berderet sangkar-sangkar besar denganburung-burung cantik. Ada papan nama yang menjelaskan dengan detail jenis species dan asal habitatnya. Lengkap dengan fotonya pula. Rapi dan komunikatif. Kita bisa belajar banyak di sini. Koleksi burung dalam negeri berasal dari Papua, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan dari luar negeri berasal dari Amerika Selatan dan Afrika Selatan.

Burung-burung cantik ini ramah dan terlatih sekali.

Berkeliling di taman burung, setiap spot menarik untuk diabadikan. Beberapa burung terlatih untuk berfoto bersama para tamu. Burung-burung ini indah warnanya dan jinak sekali, bersahabat dan mau berinteraksi dengan pengunjung. Namun jika jam makan, maka kegiatan ini akan dihentikan sementara. Memberikan kesempatan burung-burung makan dan istirahat.

Di beberapa lokasi bahkan burung-burung dibiarkan bebas berkeliaran dan terbang di pohon-pohon. Bisa berfoto dekat sekali dengan mereka walau tanpa pawangnya. Keren banget…

Di area taman juga terdapat bangunan rumah adat Toraja bernama Tongkonan. Rumah panggung dengan atap melengkung menyerupai perahu, terbuat dari susuan bambu. Rumah adat ini terawat baik dan berbaur serasi dengan sekitarnya.

Tamannya juga memiliki tema untuk masing-masing area.

Dinamakan dengan nama propinsi sesuai habitat burung dan tanaman yang berada di dalamnya. Saya terpesona dengan burung-burung pelikan yang bermain air di kolam kecil. Burung-burung berbulu putih ini memang menawan.

Lelah berkeliling, kita bisa menikmati gelato di Rainforest Cafe. Tersedia beberapa pilihan minuman dan snack selain es krim. Sementara Dine & Shop Restaurant menyedikan menu lengkap dan terletak di bagian depan dekat pintu masuk.

Saran saya, sebaiknya datang ke tempat ini pagi. Sehingga bisa menikmati semua atraksi, juga bisa explore taman sepuasnya.

Stonehenge-Monumen Batu Kuno Merapi

Tak perlu jauh-jauh ke Inggris untuk dapat menikmati monumen Stonehenge yang keren ini.

Jogja juga punya dengan nama yang sama, Stonehenge. Berada di lereng Merapi, hanya 5 menit dari lokasi The Lost World Castle. Bonusnya view alam pegunungan plus udara bersih yang kaya oksigen. Tentu saja semua ini tak boleh dilewatkan.

Jarak dari Jogja sekitar 30 km dan dapat ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Saya mencoba dengan motor, aman dan jalannya bagus. Ambil jalur menuju Kaliurang, saya memilih lewat Merapi Golf dan melewati The Lost World Castle. Menurut saya jalan ini paling aman dan mudah dilewati.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/the-lost-world-castle-kastil-epic-di-lereng-merapi/

Saran saya jika jalan sendiri sebaiknya pelajari dulu map nya ya. Kalau pakai GPS atau google map seringkali malah diajak melewati jalan-jalan kecil yang aneh bin ajaib. Walau memang diajak melalui jalan yang sepi namun medannya kadang-kadang sulit dilalui. Misalnya, jalan dengan medan berbatu-batu besar. Alhasil jadi lebih jauh dan lama untuk sampai ke lokasi… huhuuuuu… GPS memang suka banget bikin galau.

Stonehenge ini terletak di jalur Wisata Jeep Merapi, sehingga cukup sering berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Tiket masuk Rp. 10.000 saja, rasanya terhitung cukup mahal juga karena tidak banyak yang ditawarkan selain monumen batu.

Nah, kalau mau mendapatkan hasil foto yang bagus, sebaiknya sampai lokasi ini pagi hari. Dengan pencahayaan matahari pagi yang tidak terlalu terang hasilnya bisa lebih smooth. View gunung Merapi sebagai background akan terlihat keren banget apalagi dengan sinar keemasan matahari pagi. Bahkan  akhir-akhir ini lokasi wisata Stonehenge semakin banyak dipakai untuk foto prewed. Hasil fotonya pasti unik dan keren. Mau coba?

Pantai Balangan, Keindahan Surga Tersembunyi

Berada di Uluwatu, Pantai Balangan yang indah ini tak lagi tersembunyi dari wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Bali.

Disebut surga tersembunyi, karena letaknya berada di balik tebing tinggi yang menutupi pantai dengan sempurna. Bahkan dari ketinggian tebing inipun pemandangan pantai terlihat begitu indah dan sempurna.

Keindahan panorama pantai Balangan ini menyatu dengan hijaunya daratan. Inilah yang membuat Pantai Balangan menjadi favorite bagi pasangan yang berbulan madu. Tentu saja suasana romantis ini pun tak diabaikan begitu saja oleh pasangan yang akan menikah.

Lihat saja, betapa banyaknya sesi foto prewed saat saya berkunjung ke sini. Menjelang sunset memang saat paling tepat mengabadikan moment indah ini. Dan ternyata, tak hanya pasangan prewed domestik, sore ini saya bertemu dengan banyak sekali pasangan dari group prewed Korea. Ada 9 pasangan yang secara bersamaan mengambil sesi foto di pantai  Balangan. Woooww…

Hanya berjarak sekitar 15 menit dari bandara dengan menggunakan motor. Tiket masuk pun free, hanya dikenakan tarif parkir motor Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000. Murah meriah kan…

Jadi, kapan kamu mau foto prewed atau sekedar menikmati sunset di pantai Balangan?