Museum The Tjolomadu, Solo

Kali ini jalan-jalan ke Solo yuk…

Selain Kraton Solo, Klewer dan wisata kuliner, ada beberapa tempat wisata baru yang menarik di kota Solo. Salah satunya adalah Museum The Tjolomadu.

Museum ini dulu pada masanya adalah Pabrik Gula yang besar dan megah di jaman penjajahan Belanda.

Bangunannya pun hingga kini masih menunjukkan kemegahan dan keindahan arsitekturnya. Dari jalan raya pun terlihat menarik setiap mata yang memandangnya.

Karena sudah tidak digunakan lagi untuk memproduksi gula, pabrik akhirnya dialih-fungsikan menjadi museum.

Waktu berkunjung setiap hari Selasa-Minggu. Selasa- Kamis buka pukul 10.00 s.d 18.00 WIB. Hari Jumat-Minggu buka pukul 10.00-21.00 WIB. Sedangkan untuk hari Senin libur ya, jangan sampai keliru jadwal, hihihi…

Namun, meskipun saya berkunjung hari Senin, tetap saja menarik untuk mengambil foto di area luar museum. Kebetulan cuaca juga cerah panas dan mendukung hasil foto menjadi keren.

Sebagai bangunan kuno, Museum The Tjolomadu ini direnovasi tanpa merubah bangunan aslinya. Cantik sekali.

Cobalah mengunjungi museum cantik yang penuh sejarah ini. Tidak semua museum itu membosankan, Museum The Tjolomadu ini contohnya.

Indahnya Sunset Rawa Pening dari Atas Perahu

Berkali-kali mengunjungi Jembatan Biru, Sumurup, saya belum pernah mencoba jasa naik perahu berkeliling Rawa Pening.

hingga akhirnya di suatu sore yang cukup cerah, saya kembali ke sini untuk menikmati sunset. Bedanya, kali ini saya tergoda mencoba naik perahu dan berkeliling rawa sambil menunggu sang matahari kembali ke peraduan.

Turun ke dermaga kecil dari bambu, saya bertanya ke bapak tukang perahu. Ternyata ongkosnya tak terlalu mahal juga, hanya dengan RP. 75.000 untuk berkeliling Rawa Pening. Atau bisa diantar sampai ke Rumah Makan Kampoeng Rawa di seberang sana, PP membayar sejumlah Rp. 150.000.

Rasanya tak terlalu mahal karena sebanding dengan keindahan pemandangan yang bakal kita dapatkan. Oya, kapasitas perahu bisa dinaiki kurang lebih 6 orang dewasa dan aman.

Bapak tukang perahu ramah sekali, dan membawa saya berkeliling melalui tambak ikan yang berjajar di tengah rawa. Duh, ternyata memang jauh lebih indah menikmati pemandangan sambil naik perahu. Cantik sekali.

Kami menyusuri air yang terbelah ketika perahu melaju. Di kiri kanan berderet tambak ikan berpagar bambu dan jaring.

Teriknya matahari siang ini plus perahu yang terus bergerak merupakan tantangan tersendiri untuk mengambil gambar terbaik.  

Deretan tambak ikan berjajar dan berpagar bambu. Kami berperahu di jalur yang membelah di antaranya, amazing… Beberapa penambak tampak sedang sibuk menjaring ikan atau melakukan perbaikan di sana sini.

Perahu melaju menuju ke bagian tengah rawa, lalu berhenti beberapa saat sehingga saya bisa menikmati keindahan luar biasa ini. Bahkan saya sempat mengabadikan seekor burung yang melintas, cantiiikkk… Di arah Barat, matahari perlahan mulai turun. Kami putuskan untuk segera kembali mengejar sunset.

Warna merah membayang di permukaan air, duuuhhh… indahnyaaaa….

Beruntung sekali sore ini saya bisa menikmati sunset yang luar biasa.

Terimakasih pak tukang perahu, yang maaf banget lupa saya tanyakan namanya, hiks…

Next time pasti saya kembali, untuk menikmati nuansa yang berbeda lagi.

Cerita Rawa Pening lainnya dapat dibaca di link http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-indahnya-jembatan-biru/ dan http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-sunrise-bukit-cinta/

Pondok Kopi, Umbul Sidomukti, Bandungan

Salah satu tempat ngopi favorit dan happening yang sayang dilewatkan adalah Pondok Kopi di area wisata Umbul Sidomukti, Bandungan.

Tepatnya terletak di DesaSidomukti, Jl. Goa Jepang, Jimbaran, Kec. Bandungan, Semarang, Jawa Tengah.

Jalan menuju ke lokasi cukup mudah karena banyak petunjuk arah di setiap persimpangan. Namun yang perlu diingat dan diperhatikan adalah, kendaraan harus dalam kondisi prima. Karena jalan cukup sempit dan menanjak cukup tajam.

Kalau dirasa kurang yakin dengan petunjuk arah, bisa menggunakan GPS atau Google Map. Rasanya sangat membantu bila belum mengenal daerah ini. Atau bisa pakai cara kuno yang juga pasti akurat, dengan bertanya pada penduduk sekitar, hehehe…

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan warna hijau segar tanaman dan perkebunan sayur petani. Suasana pegunungan yang segar juga membuat perjalanan tak berasa jauh. Santuuuuyyy…

Lokasi parkir yang cukup luas letaknya berseberangan dengan restaurant. Sementara Pondok Kopi berada di ketinggian dengan view yang cantik. Saat kabut turun, rasanya seperti negeri di atas awan, uuhhh…

Oiya… jangan lupa bawa jaket ya, karena udara bisa tiba-tiba berubah menjadi dingin. Saat musim hujan seperti ini, juga bisa tiba-tiba turun hujan. Jadi tak ada salahnya membawa payung juga gaes. Karena jarak dari tempat parkir menuju restorant dan sebaliknya cukup membuat basah kuyup bila hujan deras.

Menu yang disajikan cukup beragam. Berbagai pilihan biji kopi terkenal bisa dicoba dengan pilihan jenis kopi. Menu makanan dan snack juga menggoda. Apalagi cuaca dingin membuat perut selalu lapar.

Eh, jangan sampai nggak pesan tahu asli Bandungan yang terkenal ini yaaa…

Untuk harga, di atas rata-rata. Tapi bisa dipahami karena ini daerah wisata dan letaknya cukup jauh dari keramaian kota.

Selain menikmati kopi dan makan, kita bisa berjalan-jalan di area restaurant. Ada banyak spot cantik untuk mengambil foto. Tebing curam berkabut dengan sungai di bawahnya berada di satu sisi di bagian belakang resto.

Lalu ada spot-spot foto lain seperti panggung pertunjukan terbuka, taman alami atau menyusuri Goa Jepang.

Saya tertarik untuk melihat ada apa di ujung Goa Jepang ini. Dan setelah berjalan menyusuri goa yang dingin dan bikin merinding, sampailah saya di ujungnya.

Ada semacam balkon dengan view tebing yang keren banget. Suasana tenang dan view cantiknya membuat betah berlama-lama di balkon ini.

Menariknya lagi, karena juga tersedia villa cantik untuk menginap.  Tempat yang nyaman dan tenang untuk menikmati liburan, menjauh dari keramaian. Bisa berdua saja atau bersama keluarga, tinggal pilih ukuran villa saja ya sesuai jumlah peserta.

Asik juga ya menikmati cuaca dingin sejuk dengan pemandangan lembah hijau dan tenang. Uuhhh… mesti segera mengatur liburan ini…

Agrowisata Gunungsari, Kopeng, Salatiga

Tergolong destinasi wisata baru, Agrowisata Gunungsari di Desa Kopeng ini menarik minat banyak pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam dan suasana pegunungan.

Letaknya di ketinggian, di tengah hutan pinus Kopeng, di lereng Gunung Merbabu yang gagah. Untuk menuju ke sana, kita dapat berkendara melalui Desa Cuntel, desa yang dikenal sebagai pos pertama jalur pendakian Gunung Merbabu.

Karena berkunjung di musim penghujan, terasa sekali suasana dingin sejuk dan mendung berkabut. Walau tak ada matahari, namun pemandangan tetap mempesona.

Hutan menghijau tertutup barisan pohon cemara sebagai background. Kabut mulai turun membuat segala sesuatu memutih, membuat suasana terasa sendu dan mistis.

Ada beberapa gardu pandang yang biasa digunakan para pengunjung untuk menikmati keindahan suasana pegunungan. Banyak foto keceh bisa diambil dari gardu pandang ini loh…

Sayang sekali, baru menikmati beberapa area  cantik, hujan sudah tak sabar mengguyur. Berlarianlah kami menuju ke resto untuk berteduh.

Beruntung sekali sudah ada resto kecil di dalam lokasi wisata. Sambil menunggu hujan reda, menikmati semangkok ronde panas sambil bercerita cukuplah menghangatkan badan.

Mungkin suatu hari nanti saya kembali lagi ke sini untuk menghilangkan rasa penasaran dan memuaskan keinginan berkeliling ke seluruh area cantik ini.

Candi Arjuna Dieng, Candi Tertua Yang Gagah

Dieng tak lepas dari daya tarik keindahan kompleks Percandian Arjuna.

Kompleks Candi Arjuna adalah lokasi terfavorit para pemburu embun upas yang muncul di tiap musim dingin. Embun upas terjadi saat suhu mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Pada kondisi ini semua cairan membeku. Tercatat pada awal bulan Agustus 2019 ini suhu terendah di Dieng mencapai minus 11 derajat Celcius. Brrrr….

Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna. Dalam sejarahnya, Candi Arjuna diperkirakan sebagai candi tertua yang dibangun abad 8M oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno (sumber: Wikipedia).

Begitu berjalan masuk gapura kompleks candi, di kiri kanan terlihat hamparan taman dengan rumput yang terawat rapi. Pohon-pohon rindang sebagai peneduh memayungi jalan setapak. Beberapa tumpuk batu candi terkumpul di beberapa lokasi. Tampaknya pemugaran masih terus berlangsung.

Di tengah hamparan rumput yang luas, Candi Arjuna berdiri megah. Walau memang tak sebesar Borobudur atau Prambanan, Candi Arjuna tampak gagah didampingi beberapa candi kecil. Ada candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Semar. Juga beberapa candi lain.

Saya rasa daya tarik candi juga karena candi dengan view pegunungan yang indah. Hijaunya latar belakang candi ini menambah cantik hasil foto.

Ada yang unik berkesan kekinian untuk ber-swafoto. Saat mengunjungi Candi Arjuna saya bertemu dengan Buto Cakil dan Po si Teletubbies merah. Jika tertarik bisa foto bersama dengan tokoh-tokoh ini. Bayarannya sukarela kok, minimal Rp. 5.000,- saja.

Biasanya pemain di balik topeng tokoh-tokoh ini adalah penduduk sekitar yang mencari penghasilan tambahan. Karakter yang dipilih bisa beragam. Baik dari tokoh pewayangan sampai cerita kartun anak-anak yang lagi hits seperti power ranger. Agak-agak geli juga foto bersama karakter kekinian dengan latar belakang bangunan kuno berumur berabad-abad.

Oya, Kompleks Candi Arjuna ini adalah Candi Hindu. Saat memasuki kawasan Candi Arjuna kita wajib memakai kain batik yang disediakan di pintu masuk. Biaya sewa sukarela saja, diberikan saat selesai mengunjungi candi.

Berburu Sunrise di Puncak Sikunir, Dieng

Siapa yang tidak mengenal keindahan Negeri di Atas Awan, julukan keren untuk Dieng sebagai destinasi wisata favorit di Wonosobo.

Salah satu spot yang paling diminati adalah sunrise  di Puncak Sikunir yang terletak di Desa Sembung, desa tertinggi di pulau Jawa. Berada di ketinggian sekitar 800m dpl, pendakian biasanya dimulai saat subuh sekitar pukul 03.30-04.00 WIB.

Waktu pendakian juga relatif singkat yaitu sekitar 30-60 menit sesuai kekuatan masing-masing.

Rute menuju Sikunir juga cukup mudah. Dari alun-alun kota Wonosobo langsung lurus saja ke arah Dieng. Sesampainya di gerbang Dieng, bisa langsung ambil jalan ke kiri kearah Telaga Warna. Lalu lurus ke Desa Sembungan.

Area parkir disediakan cukup luas, nggak perlu kuatir tidak kebagian tempat parkir saat padat pengunjung. Jarak dari tempat parkir ke Pos pendakian sekitar 2km. Namun tidak harus berjalan kaki kok, karena ojek siap mengantar dengan tarif cukup murah.

Dingin? Bangeetttt…. Suhu dini hari saat musim embun upas muncul bisa mencapai minus 11 derajat Celcius. Brrrrr… Bawa air minum saja bisa beku seperti es, daun-daun juga membeku. Makanya mesti pakai baju yang hangat ya.

Pakailah jaket tebal, celana yang lentur dan hangat, kaos tangan, syal, tutup muka, kaos kaki, sepatu dan topi yang menutup sampai telinga.

Dari pos pendakian jalan cukup menanjak, jalan yang berupa paving cukup mempermudah pendakian awal. Sepanjang kurang lebih 200m jalanan paving ini, di kiri kanan jalan berjajar rumah penduduk. Semua berjualan makanan dan minuman bahkan oleh-oleh khas Dieng.

Minuman panas dijajakan, lengkap dengan berbagai macam gorengan dan rendang kentang yang menggoda. Mi instan tentu saja juga menjadi salah satu menu pilihan favorit. Siapa yang bisa menolak makan mi kuah panas di udara sedingin ini?

Juga tersedia toilet dan mushola. Semuanya lengkap. Jadi bisa istirahat sebentar atau sembahyang di area ini, mengumpulkan tenaga kembali. Karena setelah ini, jalanan berubah menjadi anak tangga dari batu dan tanah.

Selama perjalanan berikutnya, pendakian cukup menanjak. Jarak tiap anak tangga juga lumayan. Sebaiknya berjalan pelan-pelan sekuatnya saja. Jika terasa lelah bisa berhenti sejenak sambil mengatur nafas.

Untuk sampai ke Puncak Sikunir kita akan melalui 3 Pos pendakian.

Jika merasa sudah tidak kuat mendaki disarankan istirahat di Pos 1 atau Pos 2. Sunrise dari 2 pos ini juga indah kok. Jadi jika benar-benar merasa tidak kuat bisa berhenti dan menikmati sunrise sambil ngopi di warung yang ada di Pos.

Tapi menurut saya, rugi banget kalau hanya berhenti di Pos 1 atau Pos 2, karena semua hal terbaik menantimu di Puncak Sikunir. View keren dari Puncak Sikunir… Awesome…

Lalu, saat turun dari Puncak Sikunir, kita masih disuguhi pemandangan indah dan menakjubkan dari Telaga Cebong dari ketinggian. Gorgeous…

Seni Menikmati Kopi di Seniman Coffee Studio, Ubud

Coffee lovers, kalau mau mencoba sesuatu yang lain, kunjungi Ubud Bali. Selain rasa kopinya yang nikmat, suasana dan tempatnya juga cozy banget. Plus penataan dengan cita rasa ala galeri seni. Instagramable.

Inilah Seniman Coffee Studio, salah satu tempat hangout favorit yang menyajikan berbagai menu pilihan dan kopi istimewa. Terletak di Jalan Sriwedari No. 5 Ubud, Bali.

Outlet ini memang unik. Kursi plastik yang saya duduki yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kursi goyang yang nyaman. Tata ruang dan berbagai souvenir yang dipajang di rak-rak dinding, menambah cantik ruangan.

Di bar, duduk beberapa tamu menikmati kopi. Ada juga tamu yang sedang ngobrol dengan barista yang dengan sabar dan ramah menjelaskan setiap pertanyaan sambil meracik kopi. Sementara beberapa tamu lain memilih duduk di sofa nyaman.

Lalu tibalah pesanan saya. Tersaji dengan penataan yang unik. Secangkir cappuccino dilengkap dengan air putih dalam gelas yang terbuat dari botol daur ulang ditambah sekeping cookie. Detox juice yang saya pilih juga pas sekali. Setelah lelah berjalan-jalan di seputar Ubud, seporsi besar menu utama plus kopi nikmat memang cocok banget meredakan gejolak di perut.

Tak hanya berhenti pada interior dengan tema recycle-up yang kreatif penuh seni, Seniman Coffee Studio juga juga me-roasting kopi mereka sendiri. Tersedia banyak pilihan biji kopi yang bisa dibeli untuk dibawa pulang, semua adalah kopi plilihan dari berbagai daerah.

Oya, di sebelah ada Bar Seniman, yang menyediakan alcohol infused signature drinks dan classic cocktails/coffee. Jam bukanya lebih sore, pukul 5pm-11.59pm. Design interiornya juga unik dan nyaman.

Sementara di seberang jalan yang juga msih merupakan bagian dari outlet, dipajang beberapa mesin kopi yang dijual. Juga beberapa pilihan produk sampingan. Selain menjual kopi, Seniman Coffee juga mengolah ampas kopi menjadi sabun mandi alami. 

Bahwa kopi lebih dari sekedar tegukan, itulah pesan yang saya tangkap saat berkunjung ke sini. Dan itulah sebabnya mengapa tamu selalu kembali lagi ke sini lagi dan lagi dan lagi…

Tempat dimana seni dan kopi berpadu menjadi satu, istimewa…

Keagungan Pura Mangkunegaran Solo

Mungkin, nama Pura Mangkunegaran masih terdengar asing bagi sebagian orang. Karena memang, biasanya orang lebih mengenal Keraton Solo.

Tetapi menurut pendapat saya pribadi, Pura Mangkunegaran ini lebih menarik untuk di eksplore. Penataannya rapi dan cukup luas. Juga tidak seramai Kraton Solo.

Tiket masuk Rp. 20.000/orang untuk domestik. Pengunjung wajib didampingi seorang guide saat berkeliling. Tips yang diberikan sukarela saja.

Menurut sejarah, Pura Mangkunegaran ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran. Raden Mas Said atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa diangkat menjadi Adipati dengan gelar Mangkunegara I.

Pendapa

Arsitektur bangunannya mirip keraton, memiliki pamedan, pendapa, pringgitan, dalem ageng dan keputren. Pendapa sangat luas, didominasi warna hijau dan kuning, warna khas keluarga Mangkunegaran.

Beberapa set gamelan tertata rapi di samping-samping pendapa. Masing-masing mempunyai sejarahnya sendiri dan akan ditabuh tergantung acara yang berlangsung.

Plafon pendapa dilukis indah, menggambarkan astrologi Hindu-Jawa. Dihias dengan deretan lampu gantung antik. Tiang-tiang kayu persegi diambil dari pepohonan yang tumbuh di Alas Kethu dan seluruh bangunan didirikan tanpa menggunakan paku. Amazing…

Di bagian belakang pendopo, terdapat sebuah beranda terbuka yang disebut Pringgitan, dengan deretan anak tangga menuju museum. Sebelum masuk museum, beberapa foto dan lukisan para mangkunegara dan keturunannya dipajang. Menurut keterangan guide, foto dan lukisan ini diganti secara berkala.

Museum

Masuk ke dalam museum kita akan dimanjakan dengan berbagai benda bersejarah yang penuh berisi cerita menarik. Mulai dari lambang Mangkunegara dan warnanya, senjata, perhiasan, pakaian , medali, uang logam, peralatan makan, berbagai sertifikat penghargaan, perlengkapan wayang dan berbagai benda seni. 

Satu-satunya ruangan dimana kita tidak boleh mengambil foto adalah di museum. Sehingga tidak ada dokumentasi sama sekali di dalam museum. Tujuannya adalah agar benda-benda bersejarah ini aman dari pemalsuan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang semata-mata hanya mencari keuntungan pribadi.

Dalem Ageng

Beranjak dari museum, kita diajak menuju Dalem Ageng. Ini adalah rumah besar kediaman keluarga Mangkunegaran. Berderet kursi, sofa, meja dan lemari pajangan beserta foto-foto keluarga menghiasi bagian teras. Perabotan kuno dan antik mendominasi.

Pengunjung boleh duduk-duduk bersantai sejenak di sini sambil menikmati taman teduh. Taman yang tertata rapi terletak di bagian tengah bangunan menjadi pusat pemandangan asri. Sejuk dan segar.

Suasananya tenang, taman dengan berbagai pohon memberikan kesan teduh dan udara bersih. Kicauan burung yang diperlihara dan dirawat dengan baik merdu terdengar. Betah juga rasanya berlama-lama duduk di teras.

Benar kan Pura Mangkunegaran tak kalah menarik untuk dikunjungi, sarat dengan cerita sejarah dan berbagai peninggalan sejarah. Jangan ragu mampir ya kalau lewat ke sini.

Jam buka 
Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu 8.00-15.00 WIB
Kamis dan Minggu 8.00-14.30 WIB

Pulau Serangan, Pesona Wisata Alam di Tengah Kota Denpasar

Berlibur tak harus mahal, pantai cantik di tengah kota Denpasar ini bisa menjadi pilihan menikmati alam dan sunset indah.

Saya beruntung pernah beberapa kali mengunjungi Pulau Serangan yang beberapa waktu ini tertutup untuk umum. Nama Pulau Serangan ini diambil dari nama desa Serangan yang dulunya adalah sebuah pulau kecil terpisah.

Pulau Serangan ini unik, karena penduduknya sebagian besar ber-etnis Bugis. Ya, mereka memang aslinya adalah pendatang, pengungsi dari Makasar yang kemudian menetap di pulau ini.

Sekarang, akses masuk menuju ke Desa Serangan menjadi lebih mudah ketika akhirnya Pulau Serangan menjadi satu daratan dengan Pulau Bali. Semua ini berkat proyek reklamasi yang menyatukan kedua pulau.

Jalan masuk menuju Pulau Serangan dari jalan raya sudah beraspal. Kiri kanan jalan dipenuhi pohon pinus sebagai peneduh. Ada banyak penjual makanan dan minuman di sekitar jalan. Namun jalan masuk yang langsung ke pantai masih berupa tanah berkapur. Tiket masuk kala itu murah sekali, hanya membayar Rp. 2.000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Sebuah jembatan menjadi penanda pintu masuk ke Pantai Serangan. Aroma pantai langsung menyapa begitu kita berada di area ini. Di sebelah kiri adalah hutan buatan dengan pohon-pohon besar. Sedangkan di bagian kanan jalan kita bisa langsung menikmati keindahan pantai, di seberang terlihat Tanjung Benoa lokasi permainan watersport.

Pantai tenang saat sore hari dan airnya tidak bergelombang besar. Terlihat beberapa wisatawan sedang bersantai bersama keluarga menikmati sore sambil bermain air.

Pesawat beterbangan di atas kami, dan terlihat beberapa cruise memulai perjalanan pelayarannya. Burung bangau mencari makan di tepi pantai. Sementara burung-burung kecil beterbangan dari pohon ke pohon secara berkelompok. Indahnya…

Menyusuri jalan masuk ke dalam hutan, terlihat betapa teduh jalanan karena rimbunnya pohon-pohon besar. Walau debu masih cukup banyak karena tanah memang tidak beraspal. Namun keindahan rindangnya pohon pinus bagi saya tetaplah juaranya.

Di beberapa tempat terlihat sekawanan sapi merumput dengan tenang. Tak ada rasa kawatir dengan kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa bapak-bapak mencari makan ternak di sekitar rawa. Semua kegiatan tampak alami dan menyatu dengan keindahan alam. Sempurna.

Di pantai banyak pengunjung yang berenang, memancing atau sekedar bermain air. Bahkan beberapa wisatawan terlihat asik berselancar, kebanyakan wisatawan asing.

Pura tempat sembahyang begitu menonjol di tepi pantai dalam semburat lembayung senja.

Cuaca sore ini memang cerah dan langit bersih. Menyenangkan rasanya bisa menikmati udara segar ini dari alam terbuka.

Perlu waktu setidaknya 2 jam untuk berkeliling area Pulau Serangan ini dengan berkendara. Namun pasti perlu waktu lebih lama lagi bila juga ingin berenang dan mengambil beberapa foto cantik.

Dalam perjalanan kembali, bertepatan dengan waktunya sunset beraksi. Warna jingga di langit menjadi latar belakang lukisan alam. Duuuhhh, cantiknyaaaa…

Waroeng Kroepoek, Solo-Rumah Makan ala Wedangan Khas Solo yang Unik

Saya paling suka kulineran di kota Solo. karena hampir semua makanannya enak dan cocok di lidah. Rata-rata pemilik bisnis kuliner juga merupakan bisnis keluarga yang diwariskan turun menurun. Dan hebatnya, cita rasa makanan jarang yang berubah.

Solo memang top banget untuk masalah kuliner. Sebut saja semua jajanan khas Jawa, pasti ada dan terkenal cita rasanya. Begitu banyak makanan khas Solo yang menggoda lidah seperti Selat Solo, Tengkleng, Mi Acar, Tahu Campur, Es Dawet, Serabi, Karak dan seterusnya, dan seterusnya…

Demikian pula saat ini, pilihan untuk warung makan dan wedangan makin banyak. Bagi yang suka dengan suasana dan kulineran tempo dulu, kuliner wedangan bisa menjadi pilihan.

Salah satu favorit saya adalah Waroeng Kroepoek yang berada di jalan dr. Rajiman 200, Solo.

Dari luar sudah terasa aura keunikan tempat ini, beneran keren dan instagramable. Mulai dari penataan, interior design, juga lukisan dindingnya. Mebelernya dari kayu dan designnya antik. Ada juga meja yang dimodifikasi dari mesin jahit, unik dan kreatif. Juga tersedia panggung keren untuk live music. 

Konsep Waroeng Kroepoek adalah wedangan atau HIK, khas Solo. Namun sudah buka mulai siang hari tidak seperti warung wedangan lain yang rata-rata buka mulai sore. Ini salah satu kelebihan yang saya suka.

Hal lain yang menarik, Waroeng Kroepoek juga dilengkapi dengan gerobag dan kaleng kerupuk tempo dulu. Lucuk..

Menu yang tersedia berupa aneka makanan, jajanan dan minuman khas wedangan dengan harga terjangkau. Namun ada yang special, karena Waroeng Kroepoek juga menawarkan menu Selat Solo dan rica tengkleng yang mak nyusss. Apalagi ditambah dengan pilihan minuman jamu seperti beras kencur yang segar. Lengkap sudah. Solo bangeeettt…

Rica tengkleng rasanya nendang banget dan porsinya besar. Bisa untuk makan bertiga atau berempat bila dengan nasi. Selat Solonya juga juara, nggak kalah dengan Selad Solo mbak Lis yang terkenal itu. Kuahnya segar dan porsinya pas banget. Aneka jajanan Solonya juga bikin kalap, huuuuffftttthhh…

  • Buka setiap hari pukul 10am-11.30pm
  • Selat Solo + beras kencur Rp. 12.500
  • Rica tengkleng Rp. 50.000