Seni Menikmati Kopi di Seniman Coffee Studio, Ubud

Coffee lovers, kalau mau mencoba sesuatu yang lain, kunjungi Ubud Bali. Selain rasa kopinya yang nikmat, suasana dan tempatnya juga cozy banget. Plus penataan dengan cita rasa ala galeri seni. Instagramable.

Inilah Seniman Coffee Studio, salah satu tempat hangout favorit yang menyajikan berbagai menu pilihan dan kopi istimewa. Terletak di Jalan Sriwedari No. 5 Ubud, Bali.

Outlet ini memang unik. Kursi plastik yang saya duduki yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kursi goyang yang nyaman. Tata ruang dan berbagai souvenir yang dipajang di rak-rak dinding, menambah cantik ruangan.

Di bar, duduk beberapa tamu menikmati kopi. Ada juga tamu yang sedang ngobrol dengan barista yang dengan sabar dan ramah menjelaskan setiap pertanyaan sambil meracik kopi. Sementara beberapa tamu lain memilih duduk di sofa nyaman.

Lalu tibalah pesanan saya. Tersaji dengan penataan yang unik. Secangkir cappuccino dilengkap dengan air putih dalam gelas yang terbuat dari botol daur ulang ditambah sekeping cookie. Detox juice yang saya pilih juga pas sekali. Setelah lelah berjalan-jalan di seputar Ubud, seporsi besar menu utama plus kopi nikmat memang cocok banget meredakan gejolak di perut.

Tak hanya berhenti pada interior dengan tema recycle-up yang kreatif penuh seni, Seniman Coffee Studio juga juga me-roasting kopi mereka sendiri. Tersedia banyak pilihan biji kopi yang bisa dibeli untuk dibawa pulang, semua adalah kopi plilihan dari berbagai daerah.

Oya, di sebelah ada Bar Seniman, yang menyediakan alcohol infused signature drinks dan classic cocktails/coffee. Jam bukanya lebih sore, pukul 5pm-11.59pm. Design interiornya juga unik dan nyaman.

Sementara di seberang jalan yang juga msih merupakan bagian dari outlet, dipajang beberapa mesin kopi yang dijual. Juga beberapa pilihan produk sampingan. Selain menjual kopi, Seniman Coffee juga mengolah ampas kopi menjadi sabun mandi alami. 

Bahwa kopi lebih dari sekedar tegukan, itulah pesan yang saya tangkap saat berkunjung ke sini. Dan itulah sebabnya mengapa tamu selalu kembali lagi ke sini lagi dan lagi dan lagi…

Tempat dimana seni dan kopi berpadu menjadi satu, istimewa…

Keagungan Pura Mangkunegaran Solo

Mungkin, nama Pura Mangkunegaran masih terdengar asing bagi sebagian orang. Karena memang, biasanya orang lebih mengenal Keraton Solo.

Tetapi menurut pendapat saya pribadi, Pura Mangkunegaran ini lebih menarik untuk di eksplore. Penataannya rapi dan cukup luas. Juga tidak seramai Kraton Solo.

Tiket masuk Rp. 20.000/orang untuk domestik. Pengunjung wajib didampingi seorang guide saat berkeliling. Tips yang diberikan sukarela saja.

Menurut sejarah, Pura Mangkunegaran ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran. Raden Mas Said atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa diangkat menjadi Adipati dengan gelar Mangkunegara I.

Pendapa

Arsitektur bangunannya mirip keraton, memiliki pamedan, pendapa, pringgitan, dalem ageng dan keputren. Pendapa sangat luas, didominasi warna hijau dan kuning, warna khas keluarga Mangkunegaran.

Beberapa set gamelan tertata rapi di samping-samping pendapa. Masing-masing mempunyai sejarahnya sendiri dan akan ditabuh tergantung acara yang berlangsung.

Plafon pendapa dilukis indah, menggambarkan astrologi Hindu-Jawa. Dihias dengan deretan lampu gantung antik. Tiang-tiang kayu persegi diambil dari pepohonan yang tumbuh di Alas Kethu dan seluruh bangunan didirikan tanpa menggunakan paku. Amazing…

Di bagian belakang pendopo, terdapat sebuah beranda terbuka yang disebut Pringgitan, dengan deretan anak tangga menuju museum. Sebelum masuk museum, beberapa foto dan lukisan para mangkunegara dan keturunannya dipajang. Menurut keterangan guide, foto dan lukisan ini diganti secara berkala.

Museum

Masuk ke dalam museum kita akan dimanjakan dengan berbagai benda bersejarah yang penuh berisi cerita menarik. Mulai dari lambang Mangkunegara dan warnanya, senjata, perhiasan, pakaian , medali, uang logam, peralatan makan, berbagai sertifikat penghargaan, perlengkapan wayang dan berbagai benda seni. 

Satu-satunya ruangan dimana kita tidak boleh mengambil foto adalah di museum. Sehingga tidak ada dokumentasi sama sekali di dalam museum. Tujuannya adalah agar benda-benda bersejarah ini aman dari pemalsuan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang semata-mata hanya mencari keuntungan pribadi.

Dalem Ageng

Beranjak dari museum, kita diajak menuju Dalem Ageng. Ini adalah rumah besar kediaman keluarga Mangkunegaran. Berderet kursi, sofa, meja dan lemari pajangan beserta foto-foto keluarga menghiasi bagian teras. Perabotan kuno dan antik mendominasi.

Pengunjung boleh duduk-duduk bersantai sejenak di sini sambil menikmati taman teduh. Taman yang tertata rapi terletak di bagian tengah bangunan menjadi pusat pemandangan asri. Sejuk dan segar.

Suasananya tenang, taman dengan berbagai pohon memberikan kesan teduh dan udara bersih. Kicauan burung yang diperlihara dan dirawat dengan baik merdu terdengar. Betah juga rasanya berlama-lama duduk di teras.

Benar kan Pura Mangkunegaran tak kalah menarik untuk dikunjungi, sarat dengan cerita sejarah dan berbagai peninggalan sejarah. Jangan ragu mampir ya kalau lewat ke sini.

Jam buka 
Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu 8.00-15.00 WIB
Kamis dan Minggu 8.00-14.30 WIB

Pulau Serangan, Pesona Wisata Alam di Tengah Kota Denpasar

Berlibur tak harus mahal, pantai cantik di tengah kota Denpasar ini bisa menjadi pilihan menikmati alam dan sunset indah.

Saya beruntung pernah beberapa kali mengunjungi Pulau Serangan yang beberapa waktu ini tertutup untuk umum. Nama Pulau Serangan ini diambil dari nama desa Serangan yang dulunya adalah sebuah pulau kecil terpisah.

Pulau Serangan ini unik, karena penduduknya sebagian besar ber-etnis Bugis. Ya, mereka memang aslinya adalah pendatang, pengungsi dari Makasar yang kemudian menetap di pulau ini.

Sekarang, akses masuk menuju ke Desa Serangan menjadi lebih mudah ketika akhirnya Pulau Serangan menjadi satu daratan dengan Pulau Bali. Semua ini berkat proyek reklamasi yang menyatukan kedua pulau.

Jalan masuk menuju Pulau Serangan dari jalan raya sudah beraspal. Kiri kanan jalan dipenuhi pohon pinus sebagai peneduh. Ada banyak penjual makanan dan minuman di sekitar jalan. Namun jalan masuk yang langsung ke pantai masih berupa tanah berkapur. Tiket masuk kala itu murah sekali, hanya membayar Rp. 2.000/motor dan Rp. 5.000/mobil.

Sebuah jembatan menjadi penanda pintu masuk ke Pantai Serangan. Aroma pantai langsung menyapa begitu kita berada di area ini. Di sebelah kiri adalah hutan buatan dengan pohon-pohon besar. Sedangkan di bagian kanan jalan kita bisa langsung menikmati keindahan pantai, di seberang terlihat Tanjung Benoa lokasi permainan watersport.

Pantai tenang saat sore hari dan airnya tidak bergelombang besar. Terlihat beberapa wisatawan sedang bersantai bersama keluarga menikmati sore sambil bermain air.

Pesawat beterbangan di atas kami, dan terlihat beberapa cruise memulai perjalanan pelayarannya. Burung bangau mencari makan di tepi pantai. Sementara burung-burung kecil beterbangan dari pohon ke pohon secara berkelompok. Indahnya…

Menyusuri jalan masuk ke dalam hutan, terlihat betapa teduh jalanan karena rimbunnya pohon-pohon besar. Walau debu masih cukup banyak karena tanah memang tidak beraspal. Namun keindahan rindangnya pohon pinus bagi saya tetaplah juaranya.

Di beberapa tempat terlihat sekawanan sapi merumput dengan tenang. Tak ada rasa kawatir dengan kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa bapak-bapak mencari makan ternak di sekitar rawa. Semua kegiatan tampak alami dan menyatu dengan keindahan alam. Sempurna.

Di pantai banyak pengunjung yang berenang, memancing atau sekedar bermain air. Bahkan beberapa wisatawan terlihat asik berselancar, kebanyakan wisatawan asing.

Pura tempat sembahyang begitu menonjol di tepi pantai dalam semburat lembayung senja.

Cuaca sore ini memang cerah dan langit bersih. Menyenangkan rasanya bisa menikmati udara segar ini dari alam terbuka.

Perlu waktu setidaknya 2 jam untuk berkeliling area Pulau Serangan ini dengan berkendara. Namun pasti perlu waktu lebih lama lagi bila juga ingin berenang dan mengambil beberapa foto cantik.

Dalam perjalanan kembali, bertepatan dengan waktunya sunset beraksi. Warna jingga di langit menjadi latar belakang lukisan alam. Duuuhhh, cantiknyaaaa…

Waroeng Kroepoek, Solo-Rumah Makan ala Wedangan Khas Solo yang Unik

Saya paling suka kulineran di kota Solo. karena hampir semua makanannya enak dan cocok di lidah. Rata-rata pemilik bisnis kuliner juga merupakan bisnis keluarga yang diwariskan turun menurun. Dan hebatnya, cita rasa makanan jarang yang berubah.

Solo memang top banget untuk masalah kuliner. Sebut saja semua jajanan khas Jawa, pasti ada dan terkenal cita rasanya. Begitu banyak makanan khas Solo yang menggoda lidah seperti Selat Solo, Tengkleng, Mi Acar, Tahu Campur, Es Dawet, Serabi, Karak dan seterusnya, dan seterusnya…

Demikian pula saat ini, pilihan untuk warung makan dan wedangan makin banyak. Bagi yang suka dengan suasana dan kulineran tempo dulu, kuliner wedangan bisa menjadi pilihan.

Salah satu favorit saya adalah Waroeng Kroepoek yang berada di jalan dr. Rajiman 200, Solo.

Dari luar sudah terasa aura keunikan tempat ini, beneran keren dan instagramable. Mulai dari penataan, interior design, juga lukisan dindingnya. Mebelernya dari kayu dan designnya antik. Ada juga meja yang dimodifikasi dari mesin jahit, unik dan kreatif. Juga tersedia panggung keren untuk live music. 

Konsep Waroeng Kroepoek adalah wedangan atau HIK, khas Solo. Namun sudah buka mulai siang hari tidak seperti warung wedangan lain yang rata-rata buka mulai sore. Ini salah satu kelebihan yang saya suka.

Hal lain yang menarik, Waroeng Kroepoek juga dilengkapi dengan gerobag dan kaleng kerupuk tempo dulu. Lucuk..

Menu yang tersedia berupa aneka makanan, jajanan dan minuman khas wedangan dengan harga terjangkau. Namun ada yang special, karena Waroeng Kroepoek juga menawarkan menu Selat Solo dan rica tengkleng yang mak nyusss. Apalagi ditambah dengan pilihan minuman jamu seperti beras kencur yang segar. Lengkap sudah. Solo bangeeettt…

Rica tengkleng rasanya nendang banget dan porsinya besar. Bisa untuk makan bertiga atau berempat bila dengan nasi. Selat Solonya juga juara, nggak kalah dengan Selad Solo mbak Lis yang terkenal itu. Kuahnya segar dan porsinya pas banget. Aneka jajanan Solonya juga bikin kalap, huuuuffftttthhh…

  • Buka setiap hari pukul 10am-11.30pm
  • Selat Solo + beras kencur Rp. 12.500
  • Rica tengkleng Rp. 50.000

Nikmatnya Ayam Goreng Mbah Cemplung, Kasongan, Jogja

Ayam goreng Mbah Cemplung. Namanya unik ya, dan kehebatan rasanya sudah kondang kemana-mana.

Awalnya saya penasaran membaca testimoni para pembeli. Karenanya, saya menyempatkan diri suatu siang untuk mencicipi kedahsyatannya. Lumayan jauh juga, karena lokasinya berada di desa wisata Kasongan. Sengaja nggak sarapan paginya biar bisa menikmati makan dengan semangat 45, eh…

Sampai di rumah makan ternyata masih agak sepi pengunjung karena memang belum jam makan siang. Namun ketika saya sudah selesai makan tamu mulai ramai berdatagan. Baik berdua, bersama keluarga maupun rombongan kantor.

Ada dua outlet Ayam Goreng Mbah Cemplung di area ini, keduanya berhadapan, masih dengan pemilik yang sama. Rumah pertama adalah outlet asli yang pertama, rasanya saya lebih suka mencoba makan di sini. Saya memilih tempat duduk yang cukup nyaman dan strategis. Bisa melihat-lihat sekitar dari sudut ini.

Meja kursi kayu ditata dengan cara lama, khas warung makan tempo dulu.

Meja kayu panjang, lengkap dengan bangku yang panjang. Model lama dan kuno. Semuanya berasa klasik, masih seperti aslinya dulu. Beberapa foto mbah Cemplung diabadikan dalam pigura dan terpasang di dinding.

Saya menuliskan pesanan makanan, ternyata pelayanannya cepat juga. Tak menunggu lama dan taraaaa… pesanan telah datang. Diawali dengan jamu beras kencur, rasa kencurnya nendang banget. Hangat di tenggorokan, hangat di badan dan rasanya segar sekali.

Lalu hidangan utama pun siap dinikmati. Potongan ayam gorengnya besar-besar euy, mantap pisan. Saya juga memesan sayur terong pedas dan oseng-oseng daun pepaya. Wah… rasa-rasanya ini porsi yang bisa dihabiskan untuk berempat. Hohoho…

Oya, sambal bawangnya benar-benar luar biasa level pedasnya. Cocok bagi pencinta pedas, dijamin berkeringat dan megap-megap. Bagi yang kurang suka pedas sebaiknya tidak usah memesan sambel tambahan ya.

Ayam Goreng Mbah Cemplung, Kasongan
Harga per potong ayam Rp. 15.000-Rp. 45.000
Harga ayam utuh Rp. 100.000-180.000
Beras kencur Rp. 6000

Buka 08.00-19.00 WIB

Wisata Edukasi dan Belanja di Secret Garden, Bedugul

Bedugul bukan hanya menawarkan wisata alamnya yang indah dan sejuk. Banyak tempat wisata bernuansa alam yang menarik di sana.

Salah satu tujuan wisata yang menawarkan pengetahuan budaya tradisional perawatan tubuh yang mengedukasi adalah Secret Garden. Terletak di Jalan Raya Bedugul Km. 36, di sisi kanan jalan raya bila berangkat dari arah Denpasar.

Lokasinya cukup mudah ditemukan karena bangunannya unik. Hasil karya Andra Martin, arsitektur terkenal yang banyak andil dalam berdirinya beberapa bangunan terkenal di Bali. Penataan taman dan bangunan indah dan banyak spot foto kekinian. Sejak pintu masuk kita sudah disuguhi dengan cantiknya ornamen yang tertata serasi.

Setelah membayar tiket di loket sebesar Rp. 50.000/WNI dan Rp. 100.000/WNA, kita akan dipandu seorang guide dalam satu kelompok kecil. Jadi harga tiket yang cukup mahal ini sudah include dengan guide ya gaes. Guide akan memandu dan menjelaskan segala hal selama tour.

Tour ini dimulai dengan mengunjungi museum, pabrik pembuatan produk Herborist, pemutaran film dan kemudian belanja produk. Mengapa produk Herborist? Karena Secret Garden ini adalah showroom dan edukasi dari produk Herborist.

1. Museum

Museum ini bernama Beauty Heritage Museum. Terdapat berbagai peralatan meramu jamu dan produk kecantikan kuno. Walau pun kecil namun unik dan menarik penataannya. Bahkan ada becak di dalamnya. Kesan yang ditangkap adalah museum yang kekinian dan tidak membosankan.

2. Pabrik

Pabrik Oemah Herborist ini satu-satunya lokasi dimana kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Tas dan HP kita disimpan di loker yang disediakan. Dan kita semua wajib memakai jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik seperti penutup sepatu dan kepala.

Sebelum masuk ke pabrik, kita diberikan kesempatan berfoto 3D lengkap dengan jas lab putih dan perlengkapan safety pabrik. Diberikan kesempatan 2-3 kali bergaya , dan bisa dipilih salah satu foto terbaik untuk dicetak. Tentu saja dengan mengganti biaya cetak.

Pabriknya tidak terlalu besar, sehingga tidak memerlukan waktu lama berkeliling. Guide tetap setia menemani dan menjelaskan setiap pertanyaan kami.

3. Belanja Produk

Setelah berkeliling pabrik, kita diajak menikmati sebuah film pendek. Ruangannya tidak terlalu besar, muat untuk sekitar 40-50 orang. Film ini berdurasi tidak lebih dari 10 menit. Berisi penjelasan produk premium unggulan Herborist.

Kemudian, barulah kita mulai berkeliling toko dan berbelanja. Semua produk komplit dan tersedia dalam tatanan dan pencahayaan yang menarik. Mulai dari produk umum sampai yang premium yang jarang kita temukan di toko atau supermarket.

Produk kecantikan seperti berbagai macam perawatan mandi, perawatan badan, rambut, parfum, berbagai macam minyak massage, semua ada. Favorit saya di bagian sabun, parfum dan produk premium.

Di section produk premium, didemokan pemakaian produk andalan anytime by request. Tentu saja saya tidak menolak untuk menjadi relawan percobaan lulur. Tangan jadi halus dan wangi. Karyawatinya juga ramah dan helpfull, mampu menjelaskan produk dengan baik.

Harga jual produk memang lebih murah daripada harga umum. Jadi kalau memang sehari-hari menggunakan produk Herborist, sebaiknya sekalian memborong beli banyak untuk stock di rumah. Counter kasir juga cukup banyak sehingga tidak perlu antre lama.

4. Kafe & Restoran

Salah satu hal yang menjadi daya tarik adalah tersedianya tempat makan yang mewah dengan view indah.

Setelah capek berkeliling dan belanja, kita bisa menikmati secangkir kopi nikmat. Banyak pilihan kopinya. Bahkan terdapat juga museum kopi lengkap dengan beragam koleksi peralatannya. Eh, ada juga luwak hidup di kandang di samping resto.

Resto juga berkesan mewah dengan karena arsitekturnya yang keren. Terasa nyaman banget untuk bersantai. Udara dingin dan segar serta view cantik membuat tamu betah berlama-lama di sini.

Sayang sekali saat berkunjung saya sudah terlalu sore. Sebagian waktu untuk tour dan belanja, sehingga ketika sampai resto ternyata sudah tutup. Hari sudah malam dan hanya bisa menikmati kopi sebentar saja.

So, saran saya, waktu yang tepat berkunjung adalah setelah jam makan siang. Bisa menikmati waktu lebih panjang untuk tour, belanja dan menikmati sunset sambil seruput kopi.