Sekumpul Waterfall, Keindahan Ganda Sekumpulan Air Terjun di Buleleng, Bali

Air terjun, siapa yang tak suka menikmati keindahannya?

Air terjun, wisata alam cantik yang seringkali  membutuhkan energi untuk menikmatinya. Karena lokasinya yang sebagian besar tersembunyi dan sulit dicapai.

Kali ini saya dan beberapa teman berombongan mbolang ke Sekumpul Waterfall di Buleleng dengan motor. Perjalanan melalui rute Bedugul yang berliku naik turun. Udara pegunungan yang dingin dan segar menghibur saya.

Area parkir mobil cukup jauh dari air terjun.

Sesampainya di sana, ternyata area parkir mobil masih jauh dari air terjun. So, jika naik mobil, ada dua alternatif untuk sampai ke loket ticketing. Dengan naik ojek atau berjalan kaki.

Kebanyakan wisatawan asing memilih berjalan kaki. Tapi rata-rata wisatawan domestik memilih naik ojek. Beruntung kami naik motor sehingga bisa langsung menuju ticketing.

Jalan menuju ke loket ticketing berkelok dan sempit.

Jalan menuju ticketing sempit, hanya bisa dilalui satu motor. Menegangkan juga karena berkelak-kelok dengan jurang di satu sisi. Jika kebetulan berpapasan dengan pengendara motor dari arah berlawanan, salah satu harus mengalah. Sport jantung, uuuhhh… deg-deg an sangaaadd…

Dari area parkir motor, kita masih harus berjalan sekitar 200m ke loket ticketing. Di sini tersedia pula toilet yang bisa digunakan untuk ganti baju. Namun sayang kurang terawat, kurang bersih dan gelap.

Nah, kalau kelaparan, nggak perlu kuatir. Terdapat juga warung kecil untuk istirahat dengan menu sederhana. Tentu saja ada Indomie sebagai menu favorit.

Holy Water Spring, alternatif pertama air terjun

Setelah membeli tiket, di area kanan ticketing ada air terjun kecil, namanya Holy Water Spring. Airnya tidak terlalu dalam, bersih, jernih, segar.  Aman dan cocok untuk anak-anak berenang dan bermain santai.

Jika ingin yang lebih menantang, ambil jalan ke bawah menuju air terjun. Ada ratusan anak tangga yang harus kita turuni untuk menuju ke Sekumpul Waterfall. Sebagian jalannya masih berupa tanah, sebagian lagi berupa anak tangga semen. Cukup curam jadi mesti hati-hati ya, tetap fokus pada jalan. Walau menurut saya cukup aman karena ada pagar di kiri kanannya. 

Saya turun pelan-pelan dan banyak berhenti tergoda spot-spot cantik. Sayang nggak bawa camera, jadi harus cukup puas dengan HP.

Keindahan beragam air terjun di sepanjang perjalanan

Di sepanjang perjalanan banyak air terjun kecil yang cantik yang saya temukan. Juga jembatan-jembatan yang menggoda untuk diabadikan.

Jembatan penghubung ke Gombrong Waterfall dan Fiji Waterfall juga keren loh. Bisa jadi alternatif spot foto yang amazing.

Banyak juga ya air terjun di area ini, pantas saja namanya Sekumpul Waterfall. Baru kali ini saya mengunjungi area wisata yag penuh dengan air terjun menakjubkan. Ah, air terjun  memang selalu penuh pesona. Sayang saya tidak sempat menikmati semuanya.

Sekumpul Waterfall, air terjun yang amazing

Sampai juga akhirnya ke tujuan utama. Mata langsung terbuka lebar ketika sampai di Sekumpul Waterfall. Air terjun ini memang luar biasa menakjubkan.

Nggak rugi berlelah-lelah sampai ke sini. Amazing banget lihat sekumpulan air terjun berkumpul dalam satu lokasi. That’s why namanya Sekumpul Waterfall.

Airnya terasa dingin namun menyegarkan setelah berpanas-panas dan berjalan jauh. Tak bisa tidak, harus mandi dan berbasah-basah kalau sudah di sini. Hanya saja lebih hati-hati berjalan di kolam air terjun. Ada banyak lumut sehingga bebatuan cukup licin terasa di kaki.

Perjuangan kembali menaiki anak tangga menuju tempat parkir

Baliknya, OMG… sungguk-sungguh perjuangan. Mendaki tangga yang sama satu per satu dengan sisa-sisa tenaga itu sesuatu banget. Berasa lebih berat medannya dibandingkan mendaki Kawah Ijen, hahaha…  Nafas habis ketika sampai kembali di ticketing.

Akhirnya, memang harus beristirahat sebentar di warung sederhana ini untuk memulihkan energi. Bersyukur banget ada warung kecil penyelamat ini. Ibu pemilik warung juga ramah dan mau melayani semua permintaan. Dan kami duduk-duduk minum dan mencicipi menu seadanya. Coffee is the best choice for recovering energy, don’t you?

Menurut saya, lebih seru jika saat datang langsung eksplore turun ke air terjun. Setelah puas bermain air, baru kembali dan berbilas di Holy Water Spring. Airnya lebih hangat dan jernih. Bisa menghilangkan rasa lelah setelah menaiki ratusan anak tangga.

Benculuk, Hutan Lord of The Ring di Banyuwangi

Bagi para pencinta buku dan film Lord of The Ring, inilah tempat yang harus dikunjungi. Hutan kota Banyuwangi yang dilindungi ini dikenal dengan nama Benculuk atau Hutan Kota Djawatan.

Suasana mistis begitu terasa begitu memasuki area hutan, mirip penggambaran dalam suasana film Lord of The Ring.

Keunikan hutan ini tercipta dari deretan pohon trembesi yang berusia kurang lebih 200 tahun. Bisa dibayangkan seberapa besar lingkar pohonnya, bahkan lumut telah menutupi seluruh batangnya. Bentuk batangnya berbeda dari pohon-pohon biasa. Percabangan pohon dan dahan-dahannya terlihat seperti tangan-tangan raksasa. Kerimbunan pohon menghalangi sinar matahari sehingga hutan terllihat selalu basah, lembab dan magis. 

Namun jangan takut dulu, itu hanya kesan yang ditimbulkan. Tempat ini instagramable banget. Keren sekali untuk foto-foto selfie cantik. Apalagi di berbagai area dilengkapi dengan sarana berselfie seperti rumah pohon, jembatan cantik dan bahkan ada sederet andong yang siap membawa berkeliling. Lengkap kan…

Sebagai catatan, pohon trembesi ini adalah pohon yang berfungsi untuk menyimpan air. Pohon ini sudah semakin langka, sedangkan manfaatnya sangat nyata bagi kelestarian air sebagai sumber kehidupan di bumi ini.

Tiket masuknya? Murah banget, Cuma Rp. 2.000 saja…
So, jangan lewatkan hutan cantik ini ya, nggak bakalan nyesel…

Warung Bu Komang, Warung Makan Khas Bali di Jogja

Seringkali saya kangen masakan citarasa khas Bali. Nah, senang banget karena di Jogja ternyata ada warung makan dengan menu khas Bali. Namanya Warung Bu Komang.

Warung bu Komang berada di Jl. Pura Sorowajan No.201, Jomblangan, Banguntapan, Bantul. Menyediakan aneka menu Bali seperti nasi campur, urutan, sate, nasi jinggo, lawar, es daluman, dsb. Benar-benar mengobati rasa kangen akan menu masakan Bali yang selalu menggoyang lidah.

Rasanya juga enak, Bali banget, karena memang pemiliknya asli dari Bali. Jadi, di Jogja pun kita bisa menikmati nasi campur dan sate khas Bali. Bagi yang tidak makan babi jangan kuatir karena juga tersedia menu halal.

Pengunjung rata-rata mahasiswa, karena harganya juga bersahabat bagi kantong mahasiswa. Jam buka warung juga cocok untuk mahasiswa dan karyawan, buka mulai jam 09.00 pagi hingga 21.00 malam.

Selain rasanya enak, pelayanan juga cepat dan ramah. Tempat makan juga cukup luas dan nyaman walaupun sederhana. Cocok juga untuk acara makan bersama keluarga.

Kopi Babah Kacamata Salatiga, Kopi Robusta Indonesia Yang Mendunia

Wahai coffee lovers, kopi Babah Kacamata ini wajib jadi agenda shopping kamu di Salatiga.

Kopi Robusta yang sudah dijual sejak 1965 ini bahkan terkenal sampai ke mancanegara. Walaupun kopi bukan asli dari Salatiga, melainkan dari Pingit-Magelang, namun kopi ini diracik sendiri oleh pemilik usaha. Semua pengolahan berawal dari biji kopi.

Tidak ada rahasia dalam proses pengolahannya. Namun mungkin yang membuatnya istimewa adalah tungku yang dipakai masih menggunakan tungku pertama sejak awal pembuatan kopi Babah Kacamata ini.

Nama Babah Kacamata sendiri konon diberikan oleh para pelanggan, karena pengusaha pertama memang berkacamata. Saat ini penerus bisnis adalah anaknya. Sehari rata-rata bisa memproduksi dan menjual 100-200kg kopi. Luar biasa ya…

Kopi Babah Kacamata ini bisa ditemukan di hampir semua toko di Salatiga. Saya sendiri lebih sering membeli di pasar, di toko salah satu anak Babah Kacamata. Untuk toko asli dan pabriknya ada di Jl. Kalinyamat 16, Salatiga.

Kemasan 1 ons harganya hanya Rp. 7.500/bungkus. Sedangkan kemasan 2,5 ons harganya Rp. 18.000, untuk kemasan 1kg hanya Rp. 70.000 saja. Semuanya sudah dalam bentuk kopi giling halus.

Rasa pahit dengan aroma khas kopi Babah kacamata ini memang membuat ketagihan. So, wajib dicoba ya, cocok juga buat oleh-oleh bagi teman dan kerabat.

Bali Bird Park, Taman Burung Wisata Keluarga

Ini adalah salah satu wisata favorit saya, Bali Bird Park. Berlokasi di Jalan Serma Cok Ngurah Gambir Singapadu, Batubulan, Gianyar, Bali. Lokasinya dekat dengan Bali Safari Marine Park.

Mengunjungi Bali Bird Park bukan hanya melihat kecantikan ribuan burung-burung yang dirawat dengan baik. Tetapi mata juga dimanjakan dengan keindahan taman yang terdiri dari ribuan species dari berbagai daerah di Indonesia.

Tau nggak, taman burung ini berada di lahan seluas kurang lebih 2Ha. Ada sekitar 1000 burung dari 250 species berbeda, sebagian adalah burung langka. Demikian juga tamannya terdiri dari sekitar 2000 species berbeda. Wooow… Kebayang kan bagaimana indah dan berwarna-warninya taman burung ini.

Harga tiket domestik Rp. 140.000/dewasa dan Rp. 75.000/anak. Buka mulai jam 09.00-17.00 WITA.

Oya, jangan lupa minta brosur di loket ya, karena ada jadwal pertunjukan kerennya. Jangan sampai terlewat jam-jam pertunjukannya.

Jadwal atraksi dari Bali Bird Park
Perhatikan jadwal atraksi ya, karena seringkali kita terlalu asik dengan burung-burung ini sehingga lupa dengan pertunjukannya.

Beberapa atraksi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan adalah Basic Instinct, Lory feeding, Pelican feeding, Meet the Bird Star. Ada juga pemutaran film 4 dimensi dengan film yang berbeda-beda di setiap sesi pemutarannya. Semua ini bisa kita nikmati tanpa menambah biaya lagi.

Setelah dari loket, menuju ke taman, langsung terasa suasana alam menyapa. Kerindangan pohon-pohon besar dan hijaunya taman yang tertata indah. Banyak burung berwarna-warni hinggap di pepohonan, semuanya jinak dan terlihat sehat bahagia. Suara alam berbaur dengan kicauan bermacam-macam jenis burung. Rasanya damai.

Di bagian kiri berderet sangkar-sangkar besar denganburung-burung cantik. Ada papan nama yang menjelaskan dengan detail jenis species dan asal habitatnya. Lengkap dengan fotonya pula. Rapi dan komunikatif. Kita bisa belajar banyak di sini. Koleksi burung dalam negeri berasal dari Papua, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan dari luar negeri berasal dari Amerika Selatan dan Afrika Selatan.

Burung-burung cantik ini ramah dan terlatih sekali.

Berkeliling di taman burung, setiap spot menarik untuk diabadikan. Beberapa burung terlatih untuk berfoto bersama para tamu. Burung-burung ini indah warnanya dan jinak sekali, bersahabat dan mau berinteraksi dengan pengunjung. Namun jika jam makan, maka kegiatan ini akan dihentikan sementara. Memberikan kesempatan burung-burung makan dan istirahat.

Di beberapa lokasi bahkan burung-burung dibiarkan bebas berkeliaran dan terbang di pohon-pohon. Bisa berfoto dekat sekali dengan mereka walau tanpa pawangnya. Keren banget…

Di area taman juga terdapat bangunan rumah adat Toraja bernama Tongkonan. Rumah panggung dengan atap melengkung menyerupai perahu, terbuat dari susuan bambu. Rumah adat ini terawat baik dan berbaur serasi dengan sekitarnya.

Tamannya juga memiliki tema untuk masing-masing area.

Dinamakan dengan nama propinsi sesuai habitat burung dan tanaman yang berada di dalamnya. Saya terpesona dengan burung-burung pelikan yang bermain air di kolam kecil. Burung-burung berbulu putih ini memang menawan.

Lelah berkeliling, kita bisa menikmati gelato di Rainforest Cafe. Tersedia beberapa pilihan minuman dan snack selain es krim. Sementara Dine & Shop Restaurant menyedikan menu lengkap dan terletak di bagian depan dekat pintu masuk.

Saran saya, sebaiknya datang ke tempat ini pagi. Sehingga bisa menikmati semua atraksi, juga bisa explore taman sepuasnya.

Stonehenge-Monumen Batu Kuno Merapi

Tak perlu jauh-jauh ke Inggris untuk dapat menikmati monumen Stonehenge yang keren ini.

Jogja juga punya dengan nama yang sama, Stonehenge. Berada di lereng Merapi, hanya 5 menit dari lokasi The Lost World Castle. Bonusnya view alam pegunungan plus udara bersih yang kaya oksigen. Tentu saja semua ini tak boleh dilewatkan.

Jarak dari Jogja sekitar 30 km dan dapat ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Saya mencoba dengan motor, aman dan jalannya bagus. Ambil jalur menuju Kaliurang, saya memilih lewat Merapi Golf dan melewati The Lost World Castle. Menurut saya jalan ini paling aman dan mudah dilewati.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/the-lost-world-castle-kastil-epic-di-lereng-merapi/

Saran saya jika jalan sendiri sebaiknya pelajari dulu map nya ya. Kalau pakai GPS atau google map seringkali malah diajak melewati jalan-jalan kecil yang aneh bin ajaib. Walau memang diajak melalui jalan yang sepi namun medannya kadang-kadang sulit dilalui. Misalnya, jalan dengan medan berbatu-batu besar. Alhasil jadi lebih jauh dan lama untuk sampai ke lokasi… huhuuuuu… GPS memang suka banget bikin galau.

Stonehenge ini terletak di jalur Wisata Jeep Merapi, sehingga cukup sering berpapasan dengan jeep-jeep yang membawa wisatawan. Tiket masuk Rp. 10.000 saja, rasanya terhitung cukup mahal juga karena tidak banyak yang ditawarkan selain monumen batu.

Nah, kalau mau mendapatkan hasil foto yang bagus, sebaiknya sampai lokasi ini pagi hari. Dengan pencahayaan matahari pagi yang tidak terlalu terang hasilnya bisa lebih smooth. View gunung Merapi sebagai background akan terlihat keren banget apalagi dengan sinar keemasan matahari pagi. Bahkan  akhir-akhir ini lokasi wisata Stonehenge semakin banyak dipakai untuk foto prewed. Hasil fotonya pasti unik dan keren. Mau coba?

The Lost World Castle-Kastil Epic di Lereng Merapi

Di lereng Merapi yang sejuk, terdapat wisata kekinian yang tidak boleh dilewatkan yaitu The Lost World Castle. 

Mengambil tema kastil megah dengan view pegunungan. Dilengkapi dengan taman, kemah ala Indian, lukisan foto 3D dan spot menarik untuk ber-swa foto. Areanya yang cukup luas juga memungkinkan untuk acara-acara seru bersama keluarga atau teman. Jadi, bisa menjadi salah satu alternatif lokasi untuk gathering. Tiket masuk Rp. 25.000/orang.

Dari luar pun kastil sudah terlihat unik. Perpaduan background view pegunungan yang hijau megah dengan bangunan kastil batu berkesan epic. Berjalan-jalan di seluruh area ini dan mengabadikannya membutuhkan waktu lebih dari sejam.

Saat bersantai dan menikmati suasana, rasanya benar-benar membuat hati dan pikiran fresh kembali. Udara segar penuh oksigen, view yang sulit diabaikan keindahan alaminya. Semua membuat betah berlama-lama di sini.

Kalau ingin menikmati serunya Wisata Lava Tour Merapi dengan jeep, bisa juga dari sini. Di area parkir depan castle ada banyak jeep yang menunggu tamu. Harga sesuai dengan jauh dekatnya rute.

Wisata Lava Tour Terbagi dalam kategori short, medium dan long trip. Harganya mulai dari Rp. 350.000. Satu jeep bisa untuk berempat plus drivernya. Nah, kalau sudah di area Merapi, memang sebaiknya eksplor banyak lokasi. Karena di sini banyak lokasi wisata menarik dan kuliner enak. Jangan sampai rugi deh…

Atau pilih yang dekat saja? Yuk ke Stonehenge, hanya 5 menit dari kastil ini loh… http://tikadewikadidjarso.com/stonehenge-monumen-batu-kuno-merapi/

Kampung Singkong Salatiga-Singkong Keju D9

Kampung Singkong Salatiga. Kampung wisata kuliner dengan menu utama singkong ini selalu penuh pengunjung. Kreatifitas penduduk Ledok, Argomulyo ini memang mengundang minat pecinta kuliner. Singkong, yang dikenal dengan makanan ndeso ini berubah menjadi salah satu oleh-oleh khas Salatiga yang paling dicari.

Setelah Gethuk Kethek yang terkenal, maka kini bertambah menu pilihan dari singkong yang menjadi ikonik. Dari berbagai merk singkong yang ditawarkan, pemilik Singkong Keju D9 adalah pioner pembuat singkong presto di Kampung Singkong Salatiga.

Jpeg

Kisah berawal dari tahun 2009, pak Haryadi, pemilik usaha Singkong Keju D9, mulai berjualan singkong presto dengan gerobak di Lapangan Pancasila. Dengan bahan baku 5kg sehari, berhasil mengembangkan bisnisnya hingga sebesar sekarang. Walaupun tidak lagi berjualan di Lapangan Pancasila, namun sekarang rumahnya diubah menjadi Kafe Singkong Keju D9.

Karena kebetulan saya lupa memotret singkong keju di lokasi, foto saya ambil dari google, dokumentasi dari garnesia.com

Menarik mengikuti kisah perjalanan pengusaha Singkong Keju D9 yang pernah diundang di acara Kick Andy ini. Bahkan nama D9 ini ternyata adalah nomer kamar sel pak Haryadi sewaktu mendekam di penjara karena kasus narkoba. Perjuangannya untuk bersih dari narkoba dan menjadi sukses seperti sekarang layak untuk menjadi contoh. Omzet penjualannya sekarang bahkan mencapai 2-3 ton singkong per hari.

Dari olahan singkong ini kita bisa memilih dari berbagai varian rasa mengoda. Singkong original, Singkong Keju Mayones, Singkong Daging Sapi Lapis Keju, Singkong Keju Tuna, dll. Bukan hanya singkong yang tersedia dan bisa dinikmati di cafe ini. Ada banyak pilihan lainnya seperti gemblong cotot, rolade daun singkong, gethuk telo ungu,timus, lumpia, resoles, egg roll waluh, macam-macam snack, hingga berjenis-jenis keripik dan bahkan ice cream jadul.

Jpeg

Wah… wah… bisa kalap dan lapar mata kalau berkunjung ke Cafe Singkong Keju D9. Apalagi bagi pecinta makanan tradisional, pas sekali menikmati camilan sambil ngopi di sini.

Jpeg

Mau dibawa pulang? Bisa bangeeett.. Tersedia juga singkong frozen yang aman dibawa dalam perjalanan. Kalau mau yang siap santap juga bisa, ada kemasan untuk dibawa pulang.

Masalah harga, pasti terjangkau. Terakhir saya berbelanja ke sini harganya masih sama. Untuk singkong frozen harganya Rp. 10.000/pax. Singkong goreng original Rp. 15.000/dus, singkong keju Rp. 16.000/dus dan singkong keju coklat Rp. 17.000/dus. Semua nikmat dimakan hangat-hangat, crispy dan renyah digigit.

Pantai Balangan, Keindahan Surga Tersembunyi

Berada di Uluwatu, Pantai Balangan yang indah ini tak lagi tersembunyi dari wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Bali.

Disebut surga tersembunyi, karena letaknya berada di balik tebing tinggi yang menutupi pantai dengan sempurna. Bahkan dari ketinggian tebing inipun pemandangan pantai terlihat begitu indah dan sempurna.

Keindahan panorama pantai Balangan ini menyatu dengan hijaunya daratan. Inilah yang membuat Pantai Balangan menjadi favorite bagi pasangan yang berbulan madu. Tentu saja suasana romantis ini pun tak diabaikan begitu saja oleh pasangan yang akan menikah.

Lihat saja, betapa banyaknya sesi foto prewed saat saya berkunjung ke sini. Menjelang sunset memang saat paling tepat mengabadikan moment indah ini. Dan ternyata, tak hanya pasangan prewed domestik, sore ini saya bertemu dengan banyak sekali pasangan dari group prewed Korea. Ada 9 pasangan yang secara bersamaan mengambil sesi foto di pantai  Balangan. Woooww…

Hanya berjarak sekitar 15 menit dari bandara dengan menggunakan motor. Tiket masuk pun free, hanya dikenakan tarif parkir motor Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000. Murah meriah kan…

Jadi, kapan kamu mau foto prewed atau sekedar menikmati sunset di pantai Balangan?

Rawa Pening – Indahnya Jembatan Biru

Jembatan Biru yang hits ini merupakan jembatan unik yang menjorok sampai ke tengah danau Rawa Pening. Jembatan ini nampaknya memang sengaja dibangun bagi wisatawan yang ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan sampai ke tengah rawa.

Tidak sulit mencapai lokasi ini. Dari arah Salatiga, ambil jalan menuju ke Semarang. Setelah melewati batas kota Salatiga, sebelum masuk ke area kebun kopi Bawen, akan melewati jembatan Tuntang. Nah, tepat di sebelah kiri di ujung jembatan ada jalan masuk ke kiri. Ikuti saja jalannya sampai nanti menemukan plang nama Jembatan Biru di kiri jalan.

Di sepanjang jalan kita akan melihat perkampungan penduduk, area persawahan, aliran air sungai, rel kereta api. Semua juga keren loh untuk menjadi objek foto.

Tempat parkir lokasi wisata Jembatan Biru cukup luas.

Namun jika hari libur pastilah ramai sekali dan akan cukup sulit mendapatkan tempat parkir. Ketika terakhir kali ke sini beberapa  waktu lalu, tiket masuk masih gratis tiiisss. Hanya membayar uang parkir saja, untuk mobil Rp. 5.000,00 dan motor Rp. 2.000,00.

Dari tempat parkir menuju ke Jembatan Biru, kita akan melewati warung-warung yang menyediakan makanan, minuman dan menyewakan toilet. Namun nampak kurang tertata rapi dan bangunannya asal-asalan saja. Sehingga terlihat tidak menarik bahkan cenderung terkesan kumuh.

Kita juga akan melewati rel kereta api.

Ini adalah rel kuno yang sudah lama sekali tidak digunakan kembali. Di sisi lain jembatan Tuntang, terdapat Stasiun Kereta Api lama yang tidak beroperasi. Lain kali akan saya ceritakan ya…

Dahulu pada awalnya, memang jembatan ini dicat dengan warna biru dan putih.

Karena warna biru yang lebih dominan, sehingga dinamakan Jembatan Biru. Pada saat pengecatan ulang, diganti dengan cat warna-warni mirip pelangi. Meriah. Terlihat begitu menonjol di antara warna hijau dan air rawa yang tenang. Namun namanya tidak berubah, tetap Jembatan Biru.

Di sepanjang jembatan, kita bisa berjalan-jalan dan menikmati keindahan Rawa Pening yang damai dan sejuk. Lalu mata akan terpesona dengan pemandangan danau rawa yang dikelilingi gugusan gunung.

Gugusan gunung ini adalah Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Perahu nelayan bergerak melintas di depan mata, gerakannya pasti dan tenang. Indahnya…

Dan seperti layaknya daerah berawa, Rawa Pening ini permukaannya juga dipenuhi vegetasi. Tanaman enceng gondok masih mendominasi setelah puluhan tahun.

Karena suburnya, sampai-sampai diturunkan alat berat khusus yang setiap hari rutin membersihkan enceng gondok ini. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan ruang dan oksigen yang cukup bagi ekosistem rawa untuk berkembangbiak dengan baik.

Sebagian dari tanaman enceng gondok itu kini diolah menjadi berbagai macam kerajinan, hasil tangan-tangan terampil penduduk sekitar. Bahkan ada yang dijadikan kertas dan menghasilkan tekstur yang unik. Kearifan lokal yang layak terus dikembangkan.

Baca juga http://tikadewikadidjarso.com/rawa-pening-sunrise-bukit-cinta/