DERMAGA MENJERITE, LABUAN BAJO

Mmmm… Namanya harus diucapkan dengan benar ya, huruf ‘e’ dibaca seperti mengucapkan kata tempe. Memang agak asing terdengar di telinga, saya juga awalnya salah baca kok, hahaha…

Tadinya juga bertanya-tanya apa keistimewaan dermaga satu ini sampai-sampai harus dikunjungi. Namun, begitu melihatnya, dari kejauhan pun saya tahu kalau saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

So, dermaga ini adalah dermaga pandang dari kayu yang cukup panjang dengan view perbukitan dan vegetasi hijau sebagai background. Sementara di sekeliling kita hanya ada pantai, laut, kapal kami dan kesunyian. Serasa milik sendiri.

Turun dari kapal, dengan boat kecil kami diantar oleh kru ke dermaga. Anak tangganya cukup lebar jaraknya, jadi perlu sedikit usaha untuk menaikinya. Bagian kayu yang terbenam air sudah berlumut dan ditumbuhi jamur, tetapi kayunya masih keras dan kuat.

Segera saja, semua berlomba-lomba mengambil pose terbaik untuk hasil paling spektakuler. Begitu pun saya, lompat-lompat tinggi biar hasil fotonya kekinian. Walau badan sudah tak seenteng dulu, but is oke lah, not bad. Setidaknya cukup banyak foto kenangan di sini.

Setelahnya, tentu saja tak boleh tidak, saatnya snorkeling. Saya pilih pakai life jacket dan kaki katak karena arus pasang cukup kuat. Selain supaya lebih aman dari goresan terumbu karang atau bulu babi, juga lebih hemat tenaga supaya bisa menikmati keindahan biota laut. Cara terbaik adalah terjun dari dermaga langsung ke air. Pemandangannya woowww… Ikan-ikan kecil berwarna-warni bersliweran di depan saya tanpa takut, bagian bawah penuh dengan terumbu karang berbagai jenis dan ukuran. Air yang jernih dan sinar matahari yang cerah sangat mendukung terciptanya keindaham alami ini. Rasanya excited sekali, dan tak ingin kedamaian ini berakhir.

Namun, jika ada awal pasti ada akhir, dan mau tak mau kami harus naik ke kapal dan meneruskan perjalanan hari ini. Lanjut ke pulau Rinca ya, di sana juga pasti lebih seru.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

PULAU KELOR, LABUAN BAJO

Pulau Kelor merupakan pulau kecil yang memiliki daratan, pantai dan bukit mungil dimana kita bisa melihat pemandangan keren banget dari puncaknya.

Merupakan salah satu pulau wajib yang mesti dikunjungi. Trekking ke puncak bukit membutuhkan energi yang cukup besar dan mesti hati-hati karena tingkat kemiringan pendakiannya lumayan tajam. Disarankan pakai sepatu yang tidak licin ya supaya aman. Dan ikuti alur pendakian yang sudah ada atau paling aman mengikuti guide yang sudah hafal jalan termudah untuk dilalui.

Sampai di puncak bukit, semua rasa lelah akan hilang melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Sepanjang mata memandang, hamparan laut, pulau, pantai tampak separti lukisan. Hanya ada satu dua kapal yang membuat semuanya nampak semakin cantik. Segala sesuatunya masih natural sekali. Udara bersih dan segar, matahari bersinar cerah. Betapa indahnya.

Di kaki bukit pun banyak spot foto yang keren, unik dan cantik. Pantai berpasir yang menjorok ke laut, pohon-pohon yang berjajar cantik, pohon-pohon tua yang tumbang pun bagus banget untuk diabadikan, bahkan ada ayunan di sana. Apapun gayamu, alam semesta akan mewujudkan keindahannya.

Namun jangan berharap menemukan pohon kelor di pulau ini, karena sudah dipastikan 100% kamu bakalan kecewa. Tak ada satupun pohon kelor di Pulau Kelor ini. Entah kenapa namanya Pulau Kelor, mungkin kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

LABUAN BAJO, PESONA ALAM INDONESIA TIMUR

Akhir tahun lalu saya beruntung mendapatkan kesempatan mengunjungi Labuan Bajo, sambil mengawal group kecil.

Siapa yang tak ingin ke Labuan Bajo? Berlayar mengunjungi pulau-pulau cantik yang masih alami dengan pemandangan laut lepas yang begitu mempesona.

Perjalanan berawal dari Bandara Ngurah Rai, bertemu dengan sahabat-sahabat saya, kami memang berencana melakukan trip bersama. Kali ini berempat saja dari Denpasar, namun pasti seru, karena akan bertemu dengan group lain di sana.

Walaupun sempat delay, akhirnya berangkat juga pesawat Garuda ATR72-600  yang kami tumpangi.

Cukup deg-deg an juga naik pesawat kecil ini, dan lega ketika landing dengan selamat di Labuan Bajo. Pandangan mata saya langsung  terpesona dengan gambar Komodo raksasa yang menyambut. Kesan pertama, memang pulau ini masih begitu alami, indah dan segar. Oya, di sini signal HP selain dengan Telkomsel akan langsung hilang signal. Siapkan kartu Simpati ya, biar gak mati gaya karena gak bisa update status.

bandara labuan bajo

Kami langsung menuju ke hotel kecil dekat bandara. Hotel Green Prundi, walau kecil namun bersih dan nyaman. Sesudah mandi, saatnya kami pergi makan malam.

Kami sepakat mencoba kelezatan ikan segar di wisata kuliner Kampung Ujung.

Sampai di sana, ternyata tempatnya berlokasi di sebuah area terbuka. Banyak warung makan berjajar, semuanya rata-rata menjajakan fresh sea food. Selain penduduk lokal dan wisatawan domestik, ternyata banyak juga turis asing yang makan malam di sini.

Duuuhh… Galau lihat pilihan udang, cumi dan beraneka ikan segar dengan warna-warni yang cantik ini, rasanya sayang sekali kalau harus dibakar dan dimakan.


Akhirnya pilihan jatuh pada ikan kue untuk dibakar dan cumi untuk digoreng crispy.

Memang nggak salah pilih menu dan tempat. Walau jalanan tanah becek sehabis gerimis siang tadi, ternyata tak mengurangi kenikmatan makan.

Hidangan tandas dan bersih saking nikmatnya. Ikan kue bakar ini manis dan lembut sekali di lidah, cumi crispynya juga renyah dan pas bumbunya. Perut langsung tenang dan damai, hahaha… Saatnya kembali ke hotel dan istirahat karena besok pagi kami sudah harus siap sailing.

Pagi ini saya bangun cepat, mandi, packing, sarapan, lalu segera kami berangkat ke pelabuhan. Kapal telah menunggu, demikian juga 4 teman baru dari group lain. Bakalan rame karena kami pergi berdelapan dengan satu guide merangkap fotografer. Lalu, cuuusss… kami memulai pelayaran seru di Labuan Bajo, yeeaaaa….

Hari pertama sailing diawali dengan mengunjungi pulau Kelor dan trekking sampai ke puncak dimana kami bisa melihat view yang luar biasa indah dari ketinggian.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/pulau-kelor-labuan-bajo/

Puas dengan view cantik pulau Kelor, kami lanjut ke dermaga Menjerite, snorkeling menikmati terumbu karang dan ikan2 cantik yang bikin mata terpana dengan kekayaan laut kita. 

Snorkeling ternyata menghabiskan banyak energi. Kami langsung makan siang di atas kapal dengan menu laut yang menggoyang lidah. Menunya lengkaaappp… Pokoknya nggak usah takut kehabisan stock deh, apalagi sampai kelaparan.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/dermaga-menjerite-labuan-bajo/

Perjalanan lanjut ke pulau Rinca dan menyaksikan komodo yang sedang bermalas-malasan.

Dua ranger menemani selama perjalanan, dijamin aman ya. Kembali ke kapal, snack sore sudah menyambut, pisang goreng keju coklat dan jus mangga. Duuuhh… Bener-bener nggak sempat lapar…

Baca http://tikadewikadidjarso.com/pulau-rinca-labuan-bajo/

Pulau Rinca


Sore pertama kami habiskan dengan berlabuh dan menikmati sunset di pulau Kalong.

Sehabis hujan cuaca cukup cerah, jadi bisa dapat pemandangan kereeeennn habis.
Menutup hari ini dengan sunset cantik dan menyaksikan ribuan kelelawar yang terbang sambil bermalas-malasan di atas dek atas. Nyata sangat betapa indahnya alam negeri ini.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/pulau-kalong-labuan-bajo/

Pulau Kalong

Hari kedua terbangun karena sunrise indah yang bisa dilihat dari jendela kabin. Rasanya excited karena pagi ini kami langsung menuju Pulau Padar.

Dan woowww… Pulau Padar ini memang luar biasa keren. Walau penuh perjuangan mendaki ratusan anak tangga (jangan kuatir, tracking di pulau Padar cukup landai kok). Semua terbayar lunas begitu menikmati pemandangan indah dari ketinggian. Amazing….

Baca http://tikadewikadidjarso.com/pulau-padar-keindahan-alam-labuan-bajo/

Lanjut ke Pink Beach, pantai cantik dengan pasir berwarna pink, real pink.

Indahnyaaaa… Berasa romantis banget bermain pasir di pantai ini. Apalagi setelahnya kami bisa snorkeling sampai puas. Masih belum lelah, snorkeling berlanjut saat berlabuh di Taka Makasar. Gundukan pasir unik ini nan mungil ini memang bikin penasaran, karena seperti muncul begitu saja dari laut.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/pink-beachpantai-ter-laafff-di-labuan-bajo/ danhttp://tikadewikadidjarso.com/taka-makasar-pulau-mungil-yang-unik/

amazing pink beach

Gili Lawa, pulau yang beberapa waktu lalu terbakar, adalah destinasi terakhir yang kami kunjungi hari kedua ini.

Walau kawasan ini masih tertutup bagi wisatawan, kami terhibur dengan rusa-rusa ramah dan jinak yang menghampiri saat kami tiba.

Trenyuh hati ini saat tahu mereka lapar dan haus. Beruntung awak kapal sudah menyiapkan makanan dan air minum untuk mereka. Walau beruntung selamat dari kebakaran, rusa-rusa ini kekurangan bahan makanan dan air bersih sejak kebakaran.

Bacahttp://tikadewikadidjarso.com/senja-di-gili-lawa-dan-sebuah-kisah-tentang-rusa/

Gili Lawa

Setelahnya, saat yang paling menyenangkan dan menenangkan, adalah menikmati sunset cantik di malam terakhir ini. Kapal berlabuh di Gili Lawa hingga besok pagi kembali berlayar berburu Manta.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/senja-di-gili-lawa-dan-sebuah-kisah-tentang-rusa/

Hari terakhir, pagi-pagi Saya bangun untuk menikmati sunrise. Cantik banget.

Bahkan ada lumba-lumba yang menari, sayang tidak bisa terekam baik di camera. Sambil sarapan kapal berlayar menuju Manta point, sayang sekali hari ini kami belum beruntung bertemu dengan Manta. 

Pulau Kanawa

Tak apalah, kami cukup terhibur dengan ikan-ikan cantik dan biota warna-warni di Pulau Kanawa, keren banget dinikmati sambil snorkeling. Juga bisa hunting spot foto-foto keren dan selfi di sepanjang pantai dan dermaga. Dijamin puas.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/kanawa-island-pulau-cantik-di-labuan-bajo/

Akhirnya, saatnya harus kembali ke peradaban, mengejar pesawat sore ini. Dipuaskanlah mata memandang laut lepas sambil meresapi keindahan pulau-pulau yang kami lewati. Membiarkan mata dibelai  semua warna biru bergradasi dengan apiknya. Sungguh indah negeri tercintaku ini, betapa bersyukur dilahirkan di negeri kaya dan luar biasa ini.

Labuan Bajo, someday I’ll be back again…

MY DREAM

Dari dulu saya sangat (ingin) menjadi penulis.

Kecintaan menulis ini mungkin karena sering melihat alm. Bapak yang suka menulis, walaupun di masa itu Bapak lebih banyak menulis sesuatu yang bersifat formal. Seperti menulis buku untuk murid-murid kursusnya (untuk kalangan sendiri), membuat renungan kotbah sendiri, dan hal-hal semacamnya.
Kalau saya membaca tulisan Bapak, terlihat bahwa alurnya sangat jelas, mudah dipahami dan menarik untuk dibaca meskipun itu buku formal (buku-buku Akutansi jaman dulu). Sejak kecil, saya suka mendengarkan (dari ruangan lain) bagaimana Bapak mengajar dan menjelaskan kepada murid-muridnya saat jam-jam pelajaran kursus berlangsung. Kebetulan saat itu rumah kami dulunya adalah tempat kursus yang dikelola Bapak sendiri. Menurut testimoni mantan murid-murid Bapak, saat kami bertemu akhir-akhir ini, Bapak adalah salah satu guru yang paling diingat karena cara menjelaskan yang mudah dipahami. Bahkan beberapa metodenya masih dipakai oleh mereka yang sekarang berprofesi menjadi dosen. Betapa saya merindukan beliau…

——————–

Kembali tentang tulis menulis, waktu kecil saya suka iseng-iseng menulis apapun. Puisi, diary, cerita kejadian sehari-hari, tapi tidak pernah saya tunjukkan kepada siapapun karena saya malu dan tidak percaya diri dengan hasilnya. Masa sekolah, saya punya beberapa sahabat pena, kami rajin berkirim surat setiap minggu untuk menceritakan banyak hal. Sayang ratusan surat itu entah dimana sekarang.
Saat kuliah sedikit termotivasi karena banyak membuat laporan dan juga skripsi. Tapi rasanya kurang menarik karena semua tulisan bersifat ilmiah dengan teori ilmu pasti yang rasanya tidak menarik dibaca oleh mereka yang tidak mengambil jalur ilmu yang sama. Setelahnya, dunia tulis menulis ini terabaikan, selain hanya untuk pekerjaan formal. Surat-menyurat yang baku dan administrasi rutin.

———————-

Lalu datanglah kejayaan dunia maya ini. Facebook dan medsos lain bermunculan dan semua happening, disukai tua muda segala kalangan. Euphoria menemukan teman-teman lama menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bertebaran foto-foto reuni dimana-mana. Saya pun merasakan kegembiraan itu.
Dan mulai terpikirkan lagi tentang menulis. Tapi rasanya kaku sekali memulai menulis sesuatu. Semakin dipikirkan makin bundet ruwetlah saraf otak saya dan ide menulis semakin jauh rasanya. Mungkin karena terlalu lama tak menulis, apalagi dengan gaya bebas.
Ah, sampai sekarang pun saya masih sering berkutat dengan ide penulisan, terutama saat tangan, hati dan pikiran tidak seirama dalam satu ritme. Tangan siap menulis, tetapi hati kelabu dan pikiran mogok memberikan suaranya. Saat itu terjadi, saya harus menyerah, karena tak bisa memaksakan diri untuk sebuah tulisan.

———————–

Saya suka membaca tulisan-tulisan teman yang bisa begitu ringan dan enak dibaca, ada yang penuh penghayatan, ada yang berfilsafat sarat dengan makna, ada yang penuh nasehat mengena di hati, macam-macam dan berbeda cirinya untuk setiap penulis. Betapa saya iri (dalam arti positif) dengan mereka yang diberikan kemampuan menulis begitu indah, begitu bermakna dan memberikan inspirasi bagi yang lain.
Lalu saya kadang-kadang sharing dengan sahabat yang suka menulis, bertanya apa resepnya. Walau jelas bahwa tak ada rumus dan resep pasti untuk menulis. Tapi saya mendapatkan semangat dan dukungan dari mereka, dan itu berharga sekali. Semua itu membuat saya tidak ragu untuk terus menulis. Tidak perlu mengukur seberapa banyak orang akan menyukai tulisan saya, yang penting saya berusaha untuk terus menghasilkan tulisan bermakna dan menginspirasi. Semoga.

Dan di sini, saya memulai perjalanan ini, sebuah babak baru.
Terimakasih sahabat-sahabat yang menjadi inspirasi menulisku, kalian semua amazing… Continue reading “MY DREAM”