Batur Natural Hot Spring Kintamani

Ini cerita perjalanan saya mengunjungi pemandian air panas di Kintamani. Namanya Batur Natural Hot Spring atau dikenal juga dengna nama pemandian air panas Toya Bungkah. Toya artinya air dan bungkah berarti bongkahan batu.

Bagi yang sudah sering ke Bali pasti ingin mencari suasana baru selain pantai. Kintamani bisa menjadi pilihan eksotik. Karena selain view Gunung Batur yang biru menjulang dan Danau Batur yang tenang, juga terdapat pemandian air panas alami.

Mau menikmati ketiganya bersamaan? Bisa dong…

Cobalah sensasi berendam air panas di Batur Natural Hot Spring sambil menikmati keindahan Gunung Batur dan Danau Batur.

Batur Natural Hot Spring terletak di tepi Danau Batur. Perjalanan menuju ke lokasi menjadi menarik karena pemandangan sepanjang jalan indah banget. Udara sejuk pegunungan, jalanan yang relatif sepi, vegetasi kiri kanan, gunung Batur yang gagah, dan danau yang eksotik. Benar-benar pengalaman penuh sensasi.

Sesampainya di lokasi, tampak gunung Batur yang gagah. Menjadi latar belakang area parkir, menantang untuk diabadikan. Di pintu masuk, petugas berjaga di loket, dan cukup ramah. Harga tiket masuk Batur Natural Hot Spring Rp. 60.000/dewasa dan Rp. 35.000/anak, sudah termasuk handuk bersih, sabun, shampoo, loker dan welcome drink.

Tidak ada batasan waktu berapa lama kita akan berada di Batur Natural Hot Spring. Jadi boleh berlama-lama menikmati air panas, menghilangkan rasa lelah dan merelaksasi otot. Fasilitas lain di Batur Natural Hot Spring ini adalah restaurant, pool bar, tempat bilas dan ruang ganti, gazebo di sekitar area pemandian untuk bersantai dan menikmati pemandangan sambil bersantap.

Suhu asli air panas di sumber air panas bisa mencapai 50 derajat Celcius loh. Iiisshh… panas banget pastinya ya. Beruntung suhu di kolam sudah mengalami penurunan hingga sekitar 37-40 derajat Celsius. Jadi aman dan sehat untuk kulit. Yang lebih menyenangkan tersedia pancuran-pancuran air di setiap sudut. Kalau kita duduk-duduk di bawahnya, berasa seperti dipijat. Duh, enaknyaaaa…

Lebih seru kalau juga sambil menikmati Batur Lake Glamping loh…

Bisa cek infonya di link http://tikadewikadidjarso.com/batur-lake-glamping-kintamani/

Gunung Batur, Kintamani

Kintamani, pesona danau dan gunung yang menyatu dengan keindahan alami dan kesegaran udaranya. Suasana alam pegunungan dan danau tenang menjadi magnet bagi wisatawan. Udara bersih memang memberikan kesejukan dan menyegarkan pikiran.

Ada beberapa pilihan menarik yang tak bisa dilewatkan saat mengunjungi Kintamani. Diantaranya  menikmati keindahan gunung Batur yang menjulang indah dan gagah, danau Batur yang tenang dan bening, mengunjungi desa Trunyan tempat pamakaman tanpa dikubur yang terkenal itu, berendam air panas alam di tepi danau Batur atau bisa juga glamping di tepi danau.

Kali ini, saya memilih menikmati makan siang yang tenang sambil memandang view amazing gunung Batur yang terlihat begitu besar di hadapan saya. Memesan seporsi Gurameh Nyat Nyat, masakan khas daerah Kintamani yang menggoyang lidah. Juga sepiring pisang goreng endes. Pisangnya pisang kayu yang belum pernah saya termukan di Jawa, tapi bisa mudah didapatkan di Bali.

Walau di tengah hari, siang berasa sejuk karena awan cukup tebal menghalangi matahari. Namun bisa saja tiba-tiba kulit menggosong dan menggelap tanpa terasa. Ah… abaikan saja, nanti juga balik lagi ke warna coklat, hahaha…

What a wonderful day…

Lalu, apalagi yang menarik di Kintamani? Ada pemandian air panas http://tikadewikadidjarso.com/batur-natural-hot-spring-kintamani/ atau bisa bewisata glamping yang pasti keren banget http://tikadewikadidjarso.com/batur-lake-glamping-kintamani/

Desa Panglipuran, Bangli

Salah satu destinasi yang menarik di Bali adalah Desa Panglipuran. Desa bersih dan asri yang menjadi tujuan wisata untuk mengenal adat dan budaya asli penduduk Bali.

Terletak di Bangli, Desa Panglipuran ini memang adalah desa percontohan yang menggambarkan kehidupan khas masyarakat Bali. Untuk menuju ke desa cantik ini, sebaiknya berangkat pagi, karena perjalanan cukup panjang bila dari Denpasar. Lingkungan desa tertata rapi dan bersih sekali. Jalan kampung dan rumah adatnya diatur dengan apik dihias taman bergaya khas Bali yang asri, dan bersih dari sampah. Keren banget.

Jalanan sepanjang desa yang bersih ini cantik banget diabadikan dalam foto. Tangan tak bisa menghindar dari keinginan mengabadikan keindahan ini.

Deretan rumah tinggal khas Bali, lengkap dengan pintu gerbang, taman dan pura keluarga yang semuanya menunjukkan keluhuran adat budaya Bali. Menariknya, kita boleh masuk ke rumah-rumah penduduk untuk melihat keseharian mereka. Mereka bahkan dengan ramah mengundang saya untuk mengunjungi rumahnya.

Setiap rumah menjajakan dan menawarkan berbagai macam souvenir dan  makanan khas Bali dengan harga yang wajar.

Sebagian menjual souvenir dan berbagai macam oleh-oleh khas Bali. Topeng, lukisan, asesoris, tas, pakaian, kain Bali, taplak meja, topi, dan masih banyak lagi. Sebagian lagi menjual makanan tradisional seperti lak-lak dan rujak kuah pindang. Rata-rata masih hangat karena fresh from the oven, enak banget. Semua langsung laris manis diserbu wisatawan yang penasaran dengan rasanya.

Saya tertarik mencoba loloh, minuman segar alami dari daun kedondong tanpa tambahan pengawet atau pemanis buatan. Harganya pun relatif murah, tidak sampai sepuluh ribu rupiah per botol 600ml. Rasanya unik, menurut saya enak dan membuat tubuh segar di cuaca panas ini. Saya menikmati loloh manis ini sambil berjalan menuju pura besar.

Ketika berjalan santai turun dari pura, seorang ibu pembuat lak-lak tiba-tiba melintas melewati saya. Bau lak-lak hangat yang harum begitu menggoda. Saya memintanya berhenti untuk membeli seporsi. Tapi si ibu menolak, namun meminta saya mengikutinya. Ternyata ada peraturan yang melarang penjual melayani pembeli di jalanan.

Saya mengikuti si ibu masuk ke sebuah rumah, ternyata di sinilah si ibu berjualan. Di sana sudah tersedia meja dan rujak yang dijajakan, juga klepon dari ubi ungu. Hohoho… bagaimana bisa mengabaikan makanan yang menggugah selera ini? Saya langsung ikut antre membeli lak-lak dan klepon, yang langsung saya makan hangat-hangat. Enak bangeeetttt…

Jika sudah sampai di desa ini, jangan terburu-buru pulang, nikmati saja, jangan melewatkan satu sudut pun untuk dijelajahi.

Rumah-rumah asli Bali, pura cantik, jalanan kampung yang bersih dan rapi, taman khas Bali yang menyejukkan mata, keramahan penduduk yang membekas di hati. Tak akan terlupa.

Ah… tapi mengapa waktu selalu terasa begitu cepat berlalu saat kesenangan baru dimulai?

KANAWA ISLAND, Pulau Cantik di Labuan Bajo

Hari ini adalah hari terakhir sailing Labuan Bajo, saya bangun pagi-pagi untuk menikmati sunrise terakhir di lautan lepas. Kapal masih tenang berlabuh di Gili Lawa. Pagi cerah dan laut begitu tenang, rasanya damai. Ada banyak ikan warna-warni di bawah kapal dan seekor penyu berenang melintas di depan buritan.

Sambil sarapan, kami berlayar menuju Manta Point, sekali lagi berharap bertemu beberapa ikan pari. Namun memang kami tampaknya belum beruntung, tak ada satu pun ikan pari muncul di sepanjang perburuan kami. Baiklah tak apa, semoga masih diberi hari lain untuk bisa bertemu ikan pari yang cantik ini.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau terakhir yang menanti, Kanawa Island. Pulau cantik dengan spot-spot diving dan snorkeling yang terkenal indahnya. Kami naik ke dermaga kayu panjang menuju pulau yang tidak seberapa besar.

Pulau Kanawa memang memanjakan pengunjung yang gemar ber-selfie juga bagi mereka yang suka mengabadikan keindahan alam.

Banyak spot keren untuk hasil foto cantik yang instagramable. Pantai berpasir putih yang bersih dengan deretan pohon cemara, gunung yang tampak dari kejauhan, boat yang bersandar dengan manis di pantai, terumbu karang yang jelas terlihat dari dermaga, ayunan untuk bersantai, pondok bambu untuk berteduh. Apalagi yang kurang? Semua seru dan akan membuat kamu sibuk bergaya untuk menghasilkan foto-foto terbaik.

Tidak hanya untuk selfie, tapi pasti juga romantis untuk foto bersama pasangan dan seru bila bersama sahabat dan teman. Jangan salah, banyak juga loh pasangan yang memilih honeymoon di Labuan Bajo.

Saya memutuskan untuk menikmati saja keindahan hari ini di daratan, tidak ikut berbasah-basah berburu keindahan alam bawah laut.

Hanya ingin menghirup udara laut yang segar dan memandang pesona alami ini sepuasnya. Mengabadikan semua detail moment dan lukisan alam sebanyak-banyaknya. Menikmati hari dan destinasi terakhir dengan menanamkan semua kenangan indah ini kuat-kuat ke dalam memori.

Rasanya tak akan pernah ada kata puas mengeksplore kekayaan negeri yang luar biasa ini. Namun waktu berakhir jua, saat pulang telah tiba. Kami harus bergegas mengejar waktu karena jadwal penerbangan sudah diagendakan. Jarak dari pelabuhan menuju ke bandara hanya sekitar sepuluh menit, jadi kami agak tenang walau waktunya pas sekali sampai  di  pelabuhan.

Ternyata pesawat masih delay, sehingga kami masih sempat berfoto ria dengan background photoboth di bandara. Saat boarding, sekali lagi saya menyadari, bahwa rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo adalah wisatawan asing. Dalam pesawat Wings-ATR yang saya tumpangi ini, saya hitung hanya tujuh orang domestik dari keseluruhan jumlah penumpang dimana terisi kurang lebih tiga perempat dari total jumlah kursi. Bahkan pilot kami pun bukan dari Indonesia.

Rasa-rasanya memang harus lebih gencar lagi promosi untuk tour domestik bagi wisatawan domestik, terutama untuk wilayah IndonesiaTimur ini.

Selain karena memang sangat mempesona, semestinyalah kita lebih mengenal keindahan negeri sendiri dibandingkan keindahan negeri lain. Yuk luangkan waktu untuk berwisata menjelajah alam Indonesia yang cantik dan luar biasa kaya dan indah ini.

Note: Baca juga kisah perjalanan lengkap di http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

SENJA DI GILI LAWA dan Sebuah Kisah Tentang Rusa

Sailing di hari kedua dari trip Labuan Bajo ini berakhir di Gili Lawa, dimana sebuah cerita mengharukan yang begitu menyentuh akan terus tersemat di hati saya.

Masih ingat berita terbakarnya sebuah pulau gegara pengambilan foto prewed yang kurang bijaksana dengan perhitungan keamanan? Di sinilah, Gili Lawa ini, kapal kami kami membuang sauh untuk menikmati sunset di malam terakhir. Dari jauh terlihat jelas bahwa pulau berwarna lebih gelap dari pulau lain. Meskipun memang belum musim hujan sehingga vegetasi hijau sangat jarang terlihat, tetap saja berbeda karena warna gelap ini akibat kebakaran.

Sejak terjadinya kebakaran, pulau tertutup untuk wisatawan, tidak boleh dilalui untuk trekking para pemburu sunset atau sunrise.

Tapi kami merasa penasaran, maka turunlah kami dengan perahu ke pantai. Dari jauh kami telah melihat beberapa rusa di tepi pantai. Maka awak kapal pun menyiapkan makanan untuk mereka berupa roti dan beberapa sisir kulit pisang yang ternyata sangat mereka sukai.

Saat perahu mendekati pantai, pemandangan pertama membuat saya terpesona. Rusa-rusa berdatangan menyambut perahu yang menepi. Rusa-rusa ini jinak sekali, saya bahkan bisa mendekati dan menyentuhnya. Mereka tidak lari ketika kami mendekat dan mengajak bicara.

Awalnya saya merasa begitu senang melihatnya.

Namun kemudian saya menyadari bahwa mereka terlihat begitu kurus dan kelaparan sehingga lupa dengan rasa takut terhadap manusia. Tetiba saya merasa begitu sedih, hati rasanya teriris dan tak bisa menahan airmata yang tiba-tiba merebak. Begitupun teman-teman saya, semua langsung terdiam hening.

Betapa tidak, rusa-rusa ini kekurangan makanan akibat hampir semua vegetasi terbakar.

Sumber makanan dan minuman mereka minim sekali. Rusa-rusa ini akhirnya mengandalkan pengunjung untuk memberi mereka makanan. Ketika ada yangmembawa atau membuka tas pun mereka mendekat karena mengira membawa makanan. Sedih ya…

Segera makanan yang telah disiapkan awak kapal   untuk rusa-rusa ini, kami bagikan untuk rusa-rusa ini. Dan lihatlah, mereka begitu cepat berebut makanan. Sebotol air juga kami bagikan untuk rusa-rusa malang ini.

Ternyata mereka juga kekurangan air tawar. Jadilah awak kapal kembali ke kapal untuk berbagi sedikit persediaan air mineral untuk rusa dan para petugas penjaga Taman Nasional ini.

Lalu kami mendengar dari cerita para penjaga bahwa ternyata semua rusa yang kami temui ini adalah rusa jantan.

Saya memandang rusa-rusa itu, memang rata-rata bertanduk, hanya beberapa yang masih muda belum terlihat tanduknya. Entah dimana rusa betinanya, mungkin memang sudah tidak ada lagi. Saya tidak sempat bertanya pada petugas penjaga.

OMG, lalu bagaimana kelangsungan regenerasi satwa yang dilindungi ini? Duh, semoga rusa-rusa ini selamat dan sehat selalu, dan bisa mendapatkan jodoh untuk kelangsungan keturunannya.

Saya merasa begitu tak berdaya karena tak bisa melakukan apapun untuk rusa-rusa ini. Bahkan makanan yang kami bawa jauh dari kata cukup untuk sekedar mengenyangkan perut mereka sore ini. Sepertinya tak mampu untuk sekedar membuat mereka bisa tidur nyenyak malam nanti.

Sore ini, ketika saya menjelajahi savana gersang dan kering, ada kesedihan dan haru yang sangat di hati saya.

Ada pelajaran sangat mahal dan berharga yang saya petik. Bahwa mencintai alam bukan hanya dengan mengunjungi dan sekedar mengabadikannya dalam foto-foto indah menakjubkan. Tapi seharusnya kita lebih peka pada kelestarian alam, lebih peduli untuk turut menjaga komunitas dan ekosistem yang telah terbentuk di dalamnya.

Keserakahan, ego dan ketidakpedulian manusialah yang seringkali membawa petaka pada hancurnya sebuah komunitas yang merusak ekosistem. Dan itu seringkali tidak disadari. Hukuman dan denda bagi pelaku pelanggaran tidak akan pernah bisa mengembalikan alam seperti sedia kala.

Datanglah sendiri ke sana, saksikan dan temui rusa-rusa tangguh nan menawan ini.

Akankah kamu tak tersentuh ketika memandang tatapan mata mereka yang begitu pasrah? Dan kamu akan mengerti mengapa saya masih terus merasa haru dan nyeri di hati setiap saat teringat kenangan akan Gili Lawa, terutama saat mengingat rusa-rusa ini.

Note: Kisah lengkap trip Sailing Labuan Bajo dapat dibaca di http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

TAKA MAKASAR, Pulau Mungil yang Unik

Pernah nggak membayangkan hidup di pulau kecil tak berpenghuni, sendirian? Terbayang nggak sih, bisa sekecil apakah sebuah pulau?

Ternyata ada loh pulau yang memang benar-benar keciiiillll di antara deretan kepulauan Komodo ini. Namanya Taka Makasar. Kami mampir ke pulau ini setelah lelah berburu di Manta Point, sayang belum beruntung bertemu dengan para ikan pari yang friendly itu.

Pulau ini hanya berupa gundukan pasir putih bersih, tanpa tanaman apapun, hanya hamparan pasir. Bahkan bentuknya unik, berupa lengkungan mirip bulan sabit. Semestinya pulau ini hanya terlihat saat pasang surut saja. Karena bila pasang naik pastilah pulau ini akan terbenam.

Pasir di sini lebih kasar, karena banyak pecahan koral dan terumbu karang yang besar-besar. Cukup menyakitkan bila berjalan dengan kaki telanjang.

Walaupun mungil, Pulau Taka Makasar  ini salah satu yang layak dikunjungi. Cobalah dan rasakan sensasi berada di negeri antah berantah. Terpencil dari dunia dengan peradabannya. Tak ada penjual makanan dan minuman, tak ada pepohonan, tak ada apapun di sana. Semua yang kita lihat hanyalah birunya langit dan laut lepas.

Dan, seperti hampir semua pulau di kepulauan Komodo, pulau Taka Makasar adalah salah satu spot terbaik untuk snorkeling dan diving.

Keindahan alam bawah lautnya beragam. Mulai dari terumbu karang keras dan lunak, koral-koral cantik, juga beragam biota laut termasuk ikan-ikan kecil berwarna-warni.

Karena kecil, maka sebentar saja waktu untuk explore seluruh bagian pulau. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk menikmati air laut dengan snorkeling dan berenang menuju ke kapal.

Saat dilihat dari daratan, kapal terasa begitu dekat. Jadi kami yakin akan bisa sampai ke kapal dengan mudah. Apalagi saya memakai kaki katak biar lebih enteng berenang. Mulailah kami berenang pelan-pelan, menikmati keindahan alam laut di bawah kami.

Namun ternyata arus di sini cukup deras dan kencang juga.

Sambil terus berenang, saya mengamati bahwa kapal makin jauh. Olalaaa… ternyata kami berlima terseret arus menjauhi kapal.

Beruntung saat itu awak kapal sedang dalam perjalanan menjemput sebagian teman yang masih di pulau. Kami berteriak memanggilnya. Dan datanglah pertolongan itu, kami berlima berpegangan tali dan ditarik perahu sampai ke kapal.

Rasanya bakalan nggak sampai kapal kalau nggak ditolong karena kami sudah kecapekan berenang menentang arus. Tapi hal ini tak akan membuat saya takut atau kapok berenang di laut, karena keseruannya lebih menantang. Dan tentu saja, ini adalah pengalaman tak terlupakan bagi saya.

Namun memang sebaiknya berhati-hati selalu, terutama harus bertanya pada guide atau awak kapal situasi dan kondisi serta keamanan di lokasi sebelum kita memutuskan untuk berenang di laut ya…  

Atau jika memungkinkan mintalah untuk didampingi oleh mereka yang lebih yang berpengalaman.

Note: Baca juga cerita lengkap trip Labuan Bajo di link http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

PINK BEACH,PANTAI TER-LAAFFF DI LABUAN BAJO

Kalau ditanya pantai ter-laaafff yang pernah saya kunjungi, jawaban saya pastilah Pink Beach di Labuan Bajo ini. Pasirnya lembut dengan warna yang tidak biasa, soft pink. Warna yang sudah pasti akan membuat wanita jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saat berlabuh, dari kejauhan sudah terlihat menakjubkan, apalagi saat kaki saya menyentuh pantainya. Tak sabar ingin segera bermain air dan pasir cantik ini, apalagi setelah berpanas-panas trekking di pulau Padar. Rasanya ingin segera berbasah-basah di pantai.

Perpaduan pantai dengan pasir pink, laut biru, dan pulau cantik ini memang sangat menarik. Dan ternyata warna pasir ini adalah akibat dari hancurnya terumbu karang berwarna pink. Wah, pasti banyak banget terumbu karang yang hancur ya, karena garis pantai ini cukup panjang  and very very pinky.

Bahkan ketika bermain air dan pasir, perasaan romantis dan bahagia terus menyertai. Membuat hati jadi damai dan ringan. Meskipun matahari begitu panas menyengat, saya terhanyut dengan suasana dan keceriaan di tepi pantai ini. Penghayatan ini menghasilkan kulit yang gosong maksimal, hahaha…  Tapi nggak rugi berjemur di pantai secantik ini. Gosong tapi puaaasss…

Hmm.. Nggak perlu takut kulit menggelap saat bermain di pantai ya. Tetap pakai sunblock dan sering-sering dioles lagi, lalu segera bilas dengan air tawar. Perawatan kulit sebelum, selama dan sesudah perjalanan adventure memang harus diperhatikan. Jangan lupa bawa sunblock, pakai kacamata hitam dan bawa topi. Jangan sampai kulit jadi sunburn dan pengelupasan kulit. Kalau hanya warna kulit yang menggelap, nggak perlu kuatir, nanti juga balik lagi ke aslinya.  Yang penting nikmati saja setiap moment dalam perjalanan, jangan sampai kehilangan saat-saat terbaik hanya karena takut hitam. Setuju?

Note: Silakan baca perjalanan lengkap trip Labuan Bajo di link http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

PULAU PADAR, KEINDAHAN ALAM LABUAN BAJO

Katanya, waktu terbaik mengunjungi pulau Padar adalah saat sunrise atau sunset, dimana sinar matahari tidak terlalu terik dan membakar kulit, pemandangan keren dan hasil foto juga lebih bagus. Namun dalam perjalanan kali ini saya belum berkesempatan menikmati keduanya.

Sunrise cantik saat bersandar di pulau Kalong

Tapiiii… saya beruntung dapat menikmati sunrise cantik dari atas kapal saat berlabuh di dekat pulau Kalong. Walau mungkin tak seindah sunrise di atas pulau Padar, namun sensasi memandang sunrise di laut lepas tetap membuat saya terpukau. Ditambah bonus luar biasa, ketika tiba-tiba ada beberapa lumba-lumba kebetulan melintas dan memberikan atraksi indah dengan lompatannya. Sayang sekali saya tidak sempat menangkap moment ini dalam foto.

Sambil sarapan, kapal berlayar menuju pulau Padar.

Sampai di sana ternyata sudah ada beberapa kapal berlabuh. Dari kejauhan pun pulau Padar tampak begitu anggun, tenang dan cantik. Teluknya indah sekali. Kami naik ke dermaga kayu yang kokoh, dibantu kru kapal yang siap sedia di dermaga. Dermaga ini langsung menuju ke loket pintu masuk. Ada beberapa penjual minuman dan makanan di sekitar loket, sayang tidak tertata rapi sehingga kesannya kumuh.

Anak tangga kayu pertama setelah dari loket masuk

Dari loket, ada tangga kayu yang menuju ke atas bukit, lumayan juga jumlah anak tangga yang harus dilalui.

Begitu sampai di atas, woooww… pemandangan teluk yang biru teduh langsung memanjakan mata. Tapi tunggu dulu, jangan lama-lama di sini. Ini barulah awal perjalanan panjang yang harus dilalui untuk sampai ke puncak, dimana pemandangan yang spektakuler menjadi hadiahnya, aha…

Kapal-kapal yang berlabuh mengantar wisatawan

Syukurlah, anak tangga yang harus dilalui berikutnya tidak terlalu menanjak, bahkan cukup landai. Karena jalur trekking yang cukup jauh, sebaiknya tidak terlalu buru-buru berjalan. Jika merasa lelah, istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan alam yang bisa menghilangkan lelah dalam sekejap. Lagipula kita bisa mengambil banyak foto bagus, jangan lewatkan satu pun spot bagus untuk berselfie. Saran saya, jika memang punya masalah di lutut, lebih baik memakai deker agar lebih nyaman dan aman bagi kaki.

Setelah pendakian sekian ratus anak tangga yang lumayan membuat saya hampir kehabisan nafas, akhirnya sampai juga di lokasi foto paling diincar. Spot foto yang selalu menjadi viral dan mengundang wisatawan berkunjung. Bebatuan besar memenuhi tempat ini, ciri khas bukit dan pegunungan. Kesannya kokoh dan kuat.

Memang keren banget, terlihat 3 lekukan teluk yang cantik dari ketinggian, luar biasa indahnya.

Birunya laut dan warna coklat tanah serta bebatuan menjadi perpaduan lukisan alam yang begitu menawan. Betah deh berlama-lama di sini. Memang sebaiknya datang pagi, karena semakin siang akan semakin banyak wisatawan yang berdatangan. Saat saya datang, sudah banyak wisatawan yang antre berfoto di spot ini.

Puas menikmati indahnya alam dengan stock foto keren yang cukup banyak, dan setelah energi kembali pulih, saatnya turun dan kembali ke kapal. Memandang dari ketinggian ini, rasanya bakalan jadi perjalanan turun yang panjang. Namun saya menikmatinya, karena terhibur dengan lukisan alam  luar biasa di depan mata. Rasanya tak habis-habis rasa syukur bisa menikmati keindahan ini, berkat yang luar biasa.

Note: untuk cerita lengkap sailing Labuan Bajo silakan buka link http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

Pulau Kalong, Labuan Bajo

Kenapa sih namanya pulau Kalong? Karena ternyata di sana adalah sarang dari ribuan kelelawar yang tidur di siang hari dan mencari makna di malam hari. Ribuan? Iya, bahkan mungkin puluhan ribu, karena memang banyak sekali.

Kapal kami sengaja berlabuh di dekat pulau ini untuk menikmati sunset setelah berlayar dari pulau Rinca sore tadi. Rencananya sauh akan dipasang dan kami bermalam di sini dan menghirup udara laut lepas.

credit:salmon hungan

Saya sangat excited dengan sailing trip ini, karena merasakan hal yang berbeda dengan trip-trip lain. Salah satu yang selalu berkesan adalah kesempatan untuk menikmati sunset yang begitu indah di lautan lepas ini. Sunset yang terasa lebih menyentuh hati selama prosesnya. Di sini kita bisa mengamati matahari kembali ke peraduannya dengan lembut. Warnanya berubah menjadi keemasan dan merah yang membuat langit membara. Bayangan hitam pulau-pulau sebagai background, hembusan angin laut tanpa polusi, goyangan lembut ombak . Semuanya berpadu membuat suasana begitu tenang, damai, indah, menakjubkan dan agung.

credit: salmon hungan

Tepat sesaat sebelum matahari sepenuhnya hilang, terdengar suara khas kelelawar yang makin keras dari arah pulau Kalong. Lalu semakin jelas hentakan kepak sayap mereka, dan… emejiiinnngggg…. Ribuan, atau mungkin puluhan ribu kalong beterbangan dari pulau melintas di atas kapal, mereka memulai perburuan mencari makan. Kejadian ini berlangsung cukup lama, kira-kira sekitar 15 menit. Saya terpana melihatnya dan hampir lupa mengambil moment luar biasa menarik ini. Beruntung masih sempat mendapatkan beberapa foto yang lumayan hasilnya. 

Sungguh, rasanya saya kehabisan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan moment sekeren ini. Langit yang merah membara menjadi seperti lukisan alam dengan ribuan kelelawar hitam, cantik sekali. Indonesiaku, betapa luar biasanya negeriku dan betapa beruntungnya saya.



Bacahttp://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/

PULAU RINCA, LABUAN BAJO

Dari Dermaga Menjerite yang cantik, kami berlayar menuju ke Pulau Rinca dimana komodo yang legendaris itu berada.

Sudah beberapa waktu ini Pulau Komodo sebagai bagian dari Taman Nasional yang dilindungi, dilarang dikunjungi wisatawan. Jadi, kalau ingin melihat komodo, kita bisa ke Pulau Rinca sebagai gantinya.

Berlabuh di pulau Rinca, hujan rintik-rintik, namun tidak mengurangi semangat kami untuk segera naik ke dermaga. Di sekitar dermaga banyak terdapat pohon bakau yang rimbun menghijau, sehingga membuat suasana teduh dan sejuk.

Kebetulan memang saat kami berkunjung sedang musim kemarau. Jadi senang lihat yang adem begini setelah berpanas-panas. Warna hijau pepohonan langsung bikin nyesss…

Di loket masuk dekat dermaga telah menunggu dua orang Ranger yang akan mengawal trekkking kami di pulau Rinca.

Mengapa perlu dua orang ranger? Karena mereka memandu dan menjaga setiap kelompok wisatawan, satu di depan dan satu di belakang untuk berjaga-jaga.

Nah, ada yang membuat saya bertanya-tanya, karena di gapura selamat datang tertulis: “WELCOME TO LOH BUAYA”.

Kok buaya? Ternyata, penduduk asli sini menyebut komodo dengan panggilan buaya. Karena anatominya yang memang mirip-mirip dengan buaya. Tapi nggak pernah ada istilah air mata komodo kan ya… Hohoho…

Setelah masuk gerbang kedatangan, kami berjalan melalui jalan setapak di sebuah tanah lapang yang luas, ada beberapa kerbau besar di sana. Dekat pepohonan bahkan ada kerbau sedang berkubang lumpur dengan damainya dan beberapa ekor rusa berlarian di padang.

Ranger membawa kami ke area bangunan yang berupa rumah panggung. Ternyata ini adalah bagian dari kantor, resort dan kantin. Ada beberapa tengkorak hewan yang dipajang, semua adalah binatang asli pulau ini, sisa-sisa dari keganasan komodo. Semua hanya tinggal kepala dan tanduknya saja, seram ya…

Ranger meminta kami berkumpul di dekat peta besar untuk memberikan penjelasan jarak trekking yang harus kami lalui. Ada pilihan jalur long, medium dan short trekking.

Pilihan tergantung kemampuan fisik dan waktu yang kita miliki. Juga penjelasan beberapa hal yang harus kami patuhi selama trekking. Kami diwajibkan berjalan dalam kelompok dan tidak berpisah-pisah.

Saat bertemu komodo tidak boleh terlalu dekat, bila ingin berfoto harus menunggu aba-aba Ranger. Pose foto paling aman adalah kita berdiri di belakang komodo sementara  Ranger akan mengambilkan gambar dari depan komodo.

Oya, kalau ada perempuan dalam rombongan, biasanya akan ditanyakan apakah sedang masa menstruasi atau tidak. Kalau memang sedang dalam masa haid sebaiknya tidak mengikuti trekking ini karena berbahaya sekali.

Bakalan dikejar komodo karena daya penciumannya kuat sekali. Lebih baik jujur ya daripada membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kami memilih jalur medium trekking.

Saat akan memulai trekking, ternyata hujan turun lagi, kali ini agak deras. Jadi kami harus menunggu di salah satu bangunan sampai hujan reda. Ternyata tidak lama kemudian hujan berhenti, berangkatlah kami dengan semangat.

Sepanjang perjalanan Ranger senior bercerita tentang kehidupan komodo, cara makan, masa kawin dan banyak hal lain. Ada cerita-cerita tentang komodo yang akan datang kembali ke sarang yang sama tiap kali bertelur dan mengeraminya hingga menetas.

Ada cerita sedih tentang komodo yang mati, cerita seram tentang komodo yang menyerang manusia, dan pertarungan antar komodo untuk memperebutkan sarang dan betina.

Komodo termasuk species biawak besar atau disebut juga kadal raksasa terbesar dan paling terkenal di dunia dengan panjang badan 2-3 meter dan berat mencapai 100 kg.

Komodo juga merupakan hewan carnivora dan merupakan pemangsa puncak di habitatnya. Saya baru tahu bahwa komodo menggunakan lidahnya untuk mencium bau mangsa bahkan hingga sejauh 4-9,5 km.

Amazing ya, pantesan peraturan untuk wanita yang sedang datang bulan sangat ketat, karena memang sangat berbahaya.

Mengapa komodo ini istimewa? Karena hanya bisa ditemukan di wilayah Indonesia di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo dan pulau Rinca.

Air liurnya yang beracun juga selalu menjadi bahan perbincangan karena sampai saat ini tidak ditemukan obat atau penangkal racunnya. Kandungan bakteri dalam air liur inilah yang menyebabkan mangsanya tidak dapat bertahan hidup.

Sebagai hewan carnivora, menurut Ranger, komodo ini bisa makan rusa dalam sekali telan, astaga.

Ternyata komodo ini bisa makan bangkai maupun hewan mangsa yang masih hidup, dan rata-rata hanya perlu sekali makan untuk satu bulan. Mungkin karena proses metabolismenya lama ya, jadi lebih irit makan.

Semua yang dimakan hidup-hidup ini, setelah dicerna sempurna, komodo akan memuntahkan kembali sisa-sisa tanduk, gigi, rambut mangsanya dalam gumpalan-gumpalan campur lendir.

Inilah yang ketika kering akan terlihat di tanah noda-noda besar berwarna putih yang kami lewati beberapa kali. Jangan coba-coba menyentuhnya ya, siapa tahu masih penuh bakteri.

Nah, ini yang lebih ajaib, katanya komodo ini adalah hewan yang monogami, hanya mempunyai satu pasangan saat kawin.

Musim kawin biasanya terjadi pada bulan Mei-Agustus. Tentu saja dengan kehebohan pertarungan antar pejantan untuk memperebutkan betina impiannya. Pertarungan ini selalu heboh dan berakhir sampai salah satu pejantan kalah.

Betina yang telah dikawini, akan memilih sarang untuk bertelur. Lalu mengerami telur-telurnya selama 7-8 bulan. Selama itu komodo betina akan berbaring saja di atas sarangnya untuk melindungi telur sampai menetas.

Komodo yang menetas ini perlu waktu 3-5 tahun untuk menjadi komodo dewasa. Dan mampu bertahan hidup sampai 50 tahun lebih. Kami sempat menemukan dan mengamati seekor komodo betina sedang mengerami telurnya. Tampaknya lapar karena puasa berbulan-bulan.

Karena habitat asli adalah padang rumput terbuka dan hutan belukar, maka pulau ini pun dipertahankan senatural mungkin agar komodo dapat hidup dengan aman dan nyaman.

Saat panas biasanya komodo akan berteduh saja bermalas-malasan. Seperti yang kami jumpai hari itu. Beruntung kami bertemu cukup banyak komodo saat kunjungan. Sehingga bisa melihat langsung hewan yang sensasional ini. Sensasinya lumayan mendebarkan melihat hewan buas ini lepas begitu saja di alam dan kami begitu dekat.

Hanya beberapa jam kami di sini, tapi begitu banyak yang kami dapatkan. Kenangan yang tak terlupakan. Ada haru karena masih diberikan kesempatan menikmati keindahan ciptaanNya yang begitu beragam. Juga rasa bangga menjadi bagian dari warga negara yang begitu kaya dan indah ini.

Dalam perjalanan kembali ke kapal, hujan mulai turun lagi, kami berlari-lari kecil menuju pintu keluar.

Someday I’ll be back, menelusuri jalur long trekking yang pasti lebih mempesona dan memandang semuanya dari puncak bukit yang hari ini tak mungkin kami daki.

Haaaaapp… saya melompat kembali ke kapal, dan langsung disambut suguhan snack sore di meja makan. Pisang goreng coklat dan keju plus jus mangga segar yang sulit ditolak karena memang berasa lapar setelah perjalanan yang mendebarkan ini.

So, kami melanjutkan berlayar sambil menikmati sore indah ini. Termakasih awak kapal yang begitu baik dan mendengar suara perut kami.

Baca http://tikadewikadidjarso.com/labuan-bajo-pesona-alam-indonesia-timur/